Melani Si Kuda Poni Kecil

3 Comments »

July 23rd, 2010 Posted 6:58 pm

(Mikayla Karissa Denel)

Melani si kuda poni kesayanganku

Ekornya pendek
Matanya biru
Rambutnya, mukanya, ekornya
Semua coklat

Melani tinggal di kandang
Bersama ayah, ibu, dan adiknya
Kandangnya besar
Berwarna coklat

Melani si kuda poni
Ia baik hati
Suka menolong
Temannya banyak

Melani, aku sayang padanya

* Puisi perdana Mikayla. Selamat Hari Anak Nasional 2010. Dare to be different, kids!



Hormat… G’rak!!

No Comments »

August 18th, 2010 Posted 12:56 pm

Sejak jadi homeschooler, ini adalah tahun pertama kami dengan suasana tanpa-upacara-di-sekolah. Apalagi karena momen ini jatuh di bulan puasa, alhasil di rumahku tidak ada kegiatan apapun. Si Sulung masih lumayan pernah ikut acara 17-an 3 kali, sementara Si Bungsu baru pertama kali ikut tahun lalu.

Pagi-pagi, menikmati upacara dari tivi. Seorang sahabat mampir ke rumah sembari menunggu anaknya yang upacara di sekolah dan bertanya, “Anak homeschooling ga upacara dong?” Pesan yang sama kuterima dari sahabat lain lewat surel. Hm… otakku gatal pingin bikin sesuatu. “Ilmu” mekanikku dan Si Ayah minim banget. Belum paham “ngelotok” soal teori seputar gear dan sebagainya. Yang penting semangat dulu! Kupandangi science set yang menanti dengan sabar untuk dirakit. Bikin apa ya…?

Read the rest of this entry »



Mo Met: Sahabat, Gembala, Endorser

No Comments »

August 14th, 2010 Posted 2:29 am

Jumat, 13 Agustus 2010, jam 22.25. Baru saja aku hendak mematikan komputer. Ini waktunya untuk tidur. Besok harus siap jam 6 pagi untuk menyiapkan Si Sulung berangkat ke Indonesian Robotics Olympiad (IRO) 2010. Tiba-tiba, ponselku berdering. Tertera “Ratih Tjandra”. Ada apa ya? Sudah lama Ratih tidak meneleponku. “Ya, Tih?” “Lin, Romo Slamet meninggal.” “Hah?? Serius [...]

Road to IRO 2010: Cepat, Tepat, Teliti!

4 Comments »

August 10th, 2010 Posted 5:04 pm

Whoaaa…

Persiapan buat Indonesian Robotic Olympiad (IRO) 2010 emang udah dua bulan lebih. Dari kemarin sih tenang-tenang aja. Bisa laahh…. Tinggal berdoa semoga pas saatnya nanti Si Sulung dan partnernya gak grogi. Soalnya penilaian ketat. Setelah robot berbentuk mobil mirip Tamiya itu dirakit, hanya ada satu kesempatan lomba apapun yang terjadi. Kalau mobilnya ada yang lepas, ya pasrah deh. Mengerikaaannn…!!

Sebagai official team dari Robotics Education Center (REC) Harapan Indah, semua peserta udah mampu. Kita yakin kok. Latihan udah cukup. Technical meeting untuk peserta dan orang tuanya juga udah digelar.

Read the rest of this entry »



Kasmaran

No Comments »

July 19th, 2010 Posted 8:54 am

Mari Dekat sini Bukan Jangan di situ Geser Sedikit lagi [...]

Tags: ,
Posted in Kasmaran

Kidung Rindu

No Comments »

July 9th, 2010 Posted 12:34 pm

Beri aku Setitik kerlingan Sekadar menikmati binar jenakamu Seulas senyuman Sekadar merasakan pesonamu Sepercik sentuhan Agar aku merasakan hangatmu [...]

Tags: ,
Posted in Kidung Rindu

Na, Jaga Diri Lu (2)

No Comments »

June 30th, 2010 Posted 7:26 pm

Sambungan dari Na, Jaga Diri Lu Aku masih bengong di ruang medical check up sebuah rumah sakit mewah di barat Jakarta. Sudah dua jam berlalu. Kulirik jam tanganku, jam 1 siang. Pff… masih satu jam lagi diambil darah terakhir. Aku bukan sakit, mumpung dapat voucher gratis seharga satu juta, rugi kalau dilewatkan. Sekalian cari tahu [...]

Review: Homeschooling, Creating The BEST of ME

No Comments »

June 24th, 2010 Posted 8:44 pm

Judul Buku       : Homeschooling, Creating The BEST of ME Penulis                 : Holy Setyowati Sie, BBA Penerbit              : Elex Media ISBN                      : 978-979-27-6458-9 Tebal                     : xv + 168 Hal. Pada suatu hari, saya diberi dua buah buku oleh seorang teman. Salah satunya adalah Homeschooling, Creating The BEST of ME karya Holy Setyowati Sie, BBA. [...]

Ayo, taklukkan gadget-mu!

No Comments »

June 22nd, 2010 Posted 3:13 pm

Aku tidak punya blekberi. Aku tidak merasa perlu benda itu. Belum ada keperluan mendesak untuk memakai blekberi. Kalaupun harus punya telepon-pintar (smartphone), tentu aku memilih yang bergambar apel digigit. Sudah cukup lama ketika beberapa Nuliser (penulis di Yuk Nulis!-red) mengeluh tidak bisa posting di blog dari blekberinya. Waktu itu aku gak punya bendanya, jadi ya [...]

“Apa kabar, Non?”

No Comments »

June 17th, 2010 Posted 1:18 am

Siang tadi, seorang teman berbincang lewat layanan pesan instan. Tanpa sengaja ia menyebut namamu. Seketika konsentrasiku buyar. Kangenku menyeruak seenaknya. Tak kupandangi lagi layar monitorku. Aku lebih suka memandangi rintik hujan dari balik jendela. Gemericiknya mengingatkan pada renyah leluconmu. Apa kabar kamu? Lama sekali kita tidak ngobrol. Genap enam minggu sejak terakhir kudengar suaramu. Aku kangen [...]

Road to IRO 2010: Catat, Analisa, Perbaiki!

4 Comments »

June 16th, 2010 Posted 9:19 am

Rapor sudah diterima!
Libur telah tiba!
Si Sulung dan Si Bungsu sudah pamitan dengan sekolah lamanya. Penuh menjadi homeschooler!

Liburan. Hm… ngapain ya? Eh, lupa! Kan Si Sulung mau persiapan buat Indonesian Robotic Olympiad (IRO) 2010. Emang sih, masih tgl 14 Agustus nanti. Tapi kan, sekarang aja belum tau mau bikin model apa. Mumpung liburan, bisa latihan setiap hari nih.

Target yang harus dibuat: mobil model Tamiya. Untuk kategori Road Runner, model tidak terlalu diperhitungkan, kecepatan yang perlu perhatian penuh. Aku harus belajar apa itu gear, axle, half bashing, full bashing, pulley, dan masih banyak lagi. Hm… mari menjadi mekanik!

Read the rest of this entry »



Review: Raup Untung Dengan Jual Diri

No Comments »

June 10th, 2010 Posted 4:14 pm

Judul Buku : Raup Untung dengan Jual Diri Genre              : Pemasaran Praktis Penulis           : Femikhirana Penerbit         : Kosa Kata Kita ISBN                  : 978-602-96333-6-8 Tebal                : 122 Hal. Harga       [...]

Sharing: Homeschooler yang sudah jadi “orang” (1)

7 Comments »

June 4th, 2010 Posted 5:00 pm

Surat dari Margareta Kesumadewi pelaku homeschooler yang sekarang sudah jadi “orang”. Mudah-mudahan sharing dari Reta menjadi “pelipur lara” atas segala label negatif homeschooling.

hey mbak lini n smuaa :D

reta dulu HS pas SMA, 2 taun.
jujur, gara2nya ga suka sama sistem pendidikan sekolah formal. di kelas cuma nyatet yang didikte guru, yang dibahas pun semua sudah ada di buku (yang menurut reta harusnya guru ngasih pengetahuan di luar buku saat di kelas, kalo cuma dari buku kan bisa baca sendiri), belum lagi tugas2 dan PR yang kebanyakan juga cuma nyalin jawaban dari buku. dan giliran ada pertanyaan tentang materi di luar buku, guru2 pada ga bisa jawab.

Read the rest of this entry »



Ulang Tahunku ke-7

10 Comments »

May 16th, 2010 Posted 4:49 pm

(Mikayla Karissa Denel)

Hari kamis, 13-5-2010, aku ulang tahun ke-7. Banyak yang bilang, “Selamat ulang tahun, Yla.”

Ada dua yang mengasih hadiah untuk aku, Ko Ida dan Tante Joyce.

Ibu dan Ayah kasih hadiahnya main di Mikrobot. Aku suka sekali main di sana. Ada juga teman-teman lain. Aku sendiri yang bicara dengan Bahasa Indonesia yang lain “speak English”. Aku sendiri yang perempuan, semua pada laki-laki.

Read the rest of this entry »



Selamat Jalan, Koh

2 Comments »

May 9th, 2010 Posted 9:39 pm

“Lin, Koh Gwan Hok meninggal jam 1 semalam.” Aku terhenyak. Kuberikan ponselku pada Si Ayah.

“Siapa?” tanyanya bingung.

“Koh Gwan Hok meninggal,” cuma itu yang keluar dari mulutku.

Koh Gwan Hok adalah kakak sepupu-iparku. Mertuanya dan mertuaku kakak-adik. Rumah kami bersebelahan komplek. Anak kami pernah satu sekolah. Ngkoh mungkin tidak istimewa tapi menjadi salah satu kerabat yang meluangkan waktunya untuk hadir ke pernikahanku.

Belakangan Koh Gwan Hok memang sakit. Usianya baru 53 tahun ketika ia menutup mata. Nia baru kelas 1 SMP dan Rian baru kelas 3 SMA. Usia yang lebih muda ketimbang Papa meninggal 13 tahun lalu.

Usai mendapat kabar, Si Ayah bersiap ke rumah duka St. Carolus. “Kamu sama anak-anak nanti aja agak sore. Mamah sama Cie datang siang ini. Anak-anak jangan pakai baju merah.” Dalam adat tionghoa, warna merah adalah lambang kegembiraan. Tidak cocok untuk melayat. Menunggu sore, aku mampir ke ruko tempat homeschooling-ku yang akan dibuka Juli ini.

Menjelang sore, Si Ayah mengirim pesan singkat, “Misa tutup peti jam 17.30.” Berarti aku harus berangkat paling lambat jam 4 sore.

Partnerku pamit hendak ke gereja jam 5 sore. “Ikut?” tawarnya.

“Nggak deh. Misa tutup peti jam 17.30. Titip doa aja.”

Kami bubar. Aku meluncur ke Salemba. Baru ingat ada janji chatting dengan seorang Nuliser.

“Mbak, sori ga bisa onlen. Sepupu Danny meninggal. Aku lagi otw ke Salemba,” kukirim pesan singkat itu ke ponselnya.

Satu jam kemudian, aku tiba di rumah duka. Mama Mertua dan Kakak Ipar sudah di sana.

“Masuk?” tanya Si Ayah. Aku mencari Cie Nen, Nia dan Rian. Melihat Kakak sepupu-iparku itu rasa bersalah yang besar menyerbu. Aku satu-satunya kerabat yang bertetangga, harusnya aku lebih intens berhubungan, harusnya aku bisa banyak membantu, harusnya… harusnya… harusnya….

Kuhampiri juga Cie Nen. Kusalam, kupeluk, kucium. Aku menuju peti mati. Rasanya aneh, janggal. Ada energi-entah-apa yang tak bisa kujelaskan. Seakan dia berdiri di sebelahku sambil tersenyum. Aku berdoa singkat. Entah apa yang kudoakan, aku kehabisan kata-kata. Kuamati isi petinya. Kaca mata, baju, Puji Syukur, dan ada beberapa barang pribadi lainnya. Berjas hitam, sepatu putih, dan menggenggam rosario biru. Ini terakhir kalinya kami semua bisa memandangi wajahnya secara langsung. Usai misa, peti ditutup.

Si Ayah sempat cerita, Koh Gwan Hok melihat cahaya putih. Mungkin saja itu Tuhan. “Aku mau sama anak-anak dulu.” Permohonannya dikabulkan. Kondisinya sempat stabil untuk sehari. Situasi yang umum terjadi pada mereka yang tak lama lagi menghembukan napas terakhirnya. Malam itu, ia sempat mendapat sakramen perminyakan. Malam itu juga, napas terakhirnya dihembuskan di tengah keluarganya, di samping istri tercintanya. Sungguh till death do us part.

Kupandangi Nia dan Rian dari jauh. Kedua anak super pendiam ini diam seperti biasanya. Matanya tidak sembab. Aku teringat ketika Papa meninggal. Aku juga tidak menangis. Sampai gundukan tanah menutupi jasadnya aku tetap tidak menangis. Saat beranjak dari makamnya aku langsung pingsan. Begitukah yang terjadi pada Nia dan Rian?

Betapapun, sedetik setelah makam ditutup, kehidupan keluarga yang ditinggalnya mendadak berubah drastis, siap tidak siap. Apa yang ada menjadi tiada. Biasanya makan malam bersama, tidak lagi. Biasanya ada yang ngomeli, tidak lagi. Itu yang kurasakan ketika Papa pergi. Tidak ada lagi omelan Papa yang kukangeni sampai hari ini.

Ingatanku kembali ke saat terakhir Koh Gwan Hok mampir ke rumah ketika Mama Mertua datang. Itu saat terakhir aku bertemu dengannya dalam keadaan sehat. Lama setelah itu, ketika sinchia (tahun baru imlek) aku ke rumahnya sekalian menjenguk Mama Mertuanya (tantenya Danny) yang baru keluar dari rumah sakit. Aku tidak bertemu, ia sedang tidur.

Kuingat juga saat aku meriang dan tidak bisa bangun. Ia yang mengantarku ke dokter karena Si Ayah sedang rapat.

“Kenapa kita harus mati, Bu?” kedua anakku mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Mengemas jawaban tentang kematian pada anak berusia empat dan tujuh tahun bukan hal remeh. Kujelaskan sesuai kemampuanku dengan susah payah. “Meninggal artinya kita sudah pulang ke Surga sama Tuhan, jadi nggak sakit lagi,” kututup ceritaku.

Mungkin tak banyak yang bisa kuingat tentangnya. Dari yang sedikit itu, semuanya melekat padaku. Semoga catatan ini bisa terus menjadi kenangan bagi kita semua.

Saat meninggalkan rumah duka, kudaraskan kalimat sederhana.

Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tapi, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

Tuhan, sembuhkanlah hati keluarga yang ditinggalkan. Amin.

Selamat jalan, Koh Gwan Hok. Maafkan kami semua yang tidak menjadi tetangga yang baik. Semoga jiwamu kekal di Surga bersama Bapa.



Kartini(ku)

7 Comments »

April 21st, 2010 Posted 2:30 pm

Kartiniku tidak berkebaya
Kartiniku tidak berkain
Kartiniku tidak bersanggul
Kartiniku tidak di dapur

Kartiniku tidak kenal RA Kartini
Kartiniku tidak membaca karya RA Kartini
Kartiniku belajar menyanyikan “Ibu Kita Kartini”
Kartiniku belajar arti emansipasi

Read the rest of this entry »



Tags: ,
Posted in Kartini(ku)

“Toilet!”

14 Comments »

April 19th, 2010 Posted 9:37 am

Menjadi ibu beranak dua rasanya sama seperti ibu beranak satu: selalu penuh kejutan! Si Sulung memang menjadi “bahan eksperimen”. Jika berhasil, akan diterapkan pada Si Bungsu. Niatnya begitu. Pada kenyataannya, hasil ekperimen yang berhasil itu belum tentu juga berhasil pada adiknya. Kembali ke no: eksperimen ulang!

Begitu juga di urusan membaca. Si Sulung diajarkan membaca ketika usia empat tahun lewat pengenalan huruf, baru pengenalan kata. Berhasil. Diterapkan pada Si Bungsu, tetap nihil. Ganti strategi. Langsung kenalkan bentuk kata pada Si Bungsu, baru diurai hurufnya. Berhasil!

Setelah mampu membaca dan menuliskan namanya sendiri—meskipun masih gagap untuk mengeja—Si Bungsu mulai fasih “membaca” beberapa simbol petunjuk dan logo macam  “ATM BCA”, “McDonald’s”, “KFC”, dan banyak lagi. Jika logo itu berbentuk kata memang agak sulit membacanya.

Read the rest of this entry »