“Toilet!”
Menjadi ibu beranak dua rasanya sama seperti ibu beranak satu: selalu penuh kejutan! Si Sulung memang menjadi “bahan eksperimen”. Jika berhasil, akan diterapkan pada Si Bungsu. Niatnya begitu. Pada kenyataannya, hasil ekperimen yang berhasil itu belum tentu juga berhasil pada adiknya. Kembali ke no: eksperimen ulang!
Begitu juga di urusan membaca. Si Sulung diajarkan membaca ketika usia empat tahun lewat pengenalan huruf, baru pengenalan kata. Berhasil. Diterapkan pada Si Bungsu, tetap nihil. Ganti strategi. Langsung kenalkan bentuk kata pada Si Bungsu, baru diurai hurufnya. Berhasil!
Setelah mampu membaca dan menuliskan namanya sendiri—meskipun masih gagap untuk mengeja—Si Bungsu mulai fasih “membaca” beberapa simbol petunjuk dan logo macam “ATM BCA”, “McDonald’s”, “KFC”, dan banyak lagi. Jika logo itu berbentuk kata memang agak sulit membacanya.
Ketika kami sedang mengikuti Jakarta Junior Robotics Competition (JJRC) 2010 yang diadakan oleh Robotics Education Center (REC), Si Bungsu ingin buang air kecil.
“Yuk, kita cari toilet,” aku menggandengnya. Celingak-celinguk mencari tanda-tanda di mana kamar kecil itu berada.
Tiba-tiba….
“Bu, itu toilet!”
“Mana?” Aku makin celingukan.
“Itu!” tangannya menunjuk ke atas ke sebuah papan bertuliskan “toilet”.
“Itu? Bacanya apa sih?” aku belagak bodoh.
“Toilet!”
“Oh gitu ya?” Mendekati mulut gang, kutunjuk lagi sebuah papan dengan tulisan sama tapi tipografi (font) yang beda.
“Ini bacanya apa?”
Si Bungsu berpikir.
“Ada tulisan toilet gak?”
Si Bungsu mencari-cari.
“Ada!”
“Mana?”
“Ini!” telunjuk imut-imutnya menunjuk ke kata yang paling besar.
“Bacanya apa?”
“Toilet!”
“Horeee… Vyel bisa baca…!!” kuangkat Si Bungsu tinggi-tinggi.
“Yeee… Vyel bisa baca! Toilet!”
Kadang, berhadapan dengan anak terutama yang masih kecil sama rasanya dengan berhadapan dengan Tuhan.
Mau diajarin baca “Ayah”, “Ibu”, “Kakak”, semua gak laku. Yang laku: toilet!
Si Sulung dulu juga begitu. Susah diajari bicara “Ayah” yang sangat mudah. Kata pertama yang keluar adalah: Danny!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Homeschooling, Pendidikan, Si Bungsu, the De.N.eL.s
This entry was posted on Monday, April 19th, 2010 at 9:37 am and is filed under “Toilet!”. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







11:16 am on April 19th, 2010
hihihihi…
ya siap2 buat anak ketiga ntar metodenya beda lagi hahaha
11:21 am on April 19th, 2010
l/i/n/i
ini bacanya apa?
l i n i. lini.
selamat pagi lini ….
12:15 pm on April 19th, 2010
@ Femi: anak ke-3?? kapan gue bisa pergi?
whoaa…
12:16 pm on April 19th, 2010
@ Pam: bacanya? lilin boleh, lidi boleh
8:24 am on April 20th, 2010
huahahahaaaa…
hidup toilet. kata toilet mengalahkan pamor kata ayah, ibu, kakak. mang lucu2 anak lo.
4:35 pm on April 20th, 2010
@ Ferni: hehehe… tengkiyu Fer
11:51 pm on April 21st, 2010
bikin anak ketiga yang langsung gede lin, bisa gak wkwkwkwk
8:18 am on April 22nd, 2010
Memang anak bukan laboratorium tempat eksperiment ! Tapi anak kadang merupakan buku untuk orang tua, banyak judul dan Bab yh mesti kita baca !
8:31 am on April 22nd, 2010
@ Femi: dan sesuai keinginan gitu ya?
8:34 am on April 22nd, 2010
@ Rachmat: celakanya, suka ga teliti dan ga sabar sampe bab berikutnya
3:09 pm on April 30th, 2010
Iya Mbak. Setiap anak pasti beda ya.. tidak peduli anak kembar sekalipun. Yang satu cepat dan agak ngebut belajarnya, yang satu ‘alon-alon asal kelakon’. Tapi ya kok finishnya bisa bareng.
7:58 pm on April 30th, 2010
hihi..lucu…emang kadang anak bisa baca awalnya cuma karena menghapal bentuk tulisannya. kaya nama2 teman2nya biasanya tau karena sering liat di loker. hehehe. ..kadang toilet lebih urgent daripada ayah dan ibu sihhh..wkwkwkw…
5:26 am on May 1st, 2010
@ Nanang: wah menarik nih, bisa gitu ya? ceritain lagi dong, nanti kita imel2an yaaa…
5:27 am on May 1st, 2010
@ Clementina: kayaknya miris ya toilet lebih penting dari ayah-ibu. padahal sih, ya gpp juga hehehe