26th Sea Games: Belajar Banyak Sekali!
Sejak Si Sulung dianggap berbakat jadi atlet dan disarankan untuk menambah jam latihan agar bisa ikut dalam pelatihan yang lebih tinggi, nonton pertandingan wushu di Sea Games ke-26 2011 mulai masuk dalam jadwal. Beruntung, cabang olah raga wushu diadakan di Tennis Indoor Senayan. “Kapan lagi bisa lihat atlet luar negeri tanding di Jakarta?” ujar seorang jiao lian (pelatih).
Sambil menunggu jadwal pertandingan yang memang diadakan menjelang akhir penyelenggaraan Sea Games, anak-anak memantau terus kabar dari arena. Belajar mengenal berbagai jenis cabang olah raga. Tak ketinggalan, dua lagu yang kerap diputar di televisi”Kita Bisa” dan “Ayo Indonesia Bisa” selalu dinyanyikan dengan gaya mereka, lantang nyaris teriak.
Atur sana-sini, akhirnya hari Kamis siang, 17 November 2011 kami ikut melihat bagaimana proses para atlet internasional mencoba arena. Tiap kontingen negara diberi waktu 25 menit. dari pelenturan sampai melompat bagai terbang kami lihat langsung.
Ibu janjian sama tante Gita dan Cha. Cha itu teman homeschooler. Cha yang masih empat tahun senang sekali sama wushu kata tante Gita. Baru ketemu pertama kali, mereka langsung lengket. Cha sempat diajari gerakan dasar wushu. Cha sampai tidak mau diajak pulang.
“Wuaahh…” Si Sulung dan Si Bungsu terkagum-kagum.
“Bu, besok kita nonton lagi ya?”
“Nanti bosen kayak waktu nonton Porda (Pekan Olah Raga Daerah)?”
“Gaakk… Ini lebih seru! Atletnya hebat-hebat, Bu! Kayak di film Wushu itu!” Wajah antusias mereka tak kuasa kutolak. Kalau anak sudah bercita-cita jadi atlet, masa Ayah-Ibunya tidak mendukung? Sebagai orang tua dari anak-anak yang tidak sekolah, tentu memfasilitasi cita-cita jadi amat sangat penting.
Malamnya, kami melihat detil jadwal yang sudah diunduh. Nomor yang dipertandingkan, yaitu (silakan klik untuk melihat tautan):
Men
Taijiquan ((taichi tangan kosong) + Taijijian (taichi dengan pedang)
Nanquan (tangan kosong selatan)
Dao Shu (golok utara) + Gun Shu (toya utara)
Changquan (tangan kosong utara)
Nan Dao (golok selatan) + Nan Gun (toya selatan)
Duillian (dua orang atau lebih)
Women
Taijiquan + Taijijian (taichi tangan kosong + taichi dengan pedang)
Nanquan (tangan kosong selatan)
Jian Shu (pedang utara) + Qiang Shu (tombak utara)
Changquan (tangan kosong utara)
Nan Dao (golok selatan) + Nan Gun (toya selatan)
Duillian (dua orang atau lebih)
Itu adalah kategori Taolu, ada lagi kategori Sanshou/Sanda yang mirip kickboxing.
Wah, apa itu? Nama-namanya asing buat kami. Waktunya belajar! Kayaknya lebih baik liat aja waktu lagi pertandingan, daripada mumet sendiri hehe…
Untuk lebih jelasnya, buka International Wushu Federation aja ya.
Jumat, 18 November 2011
Pertandingan dimulai jam 9 pagi. Pertandingan sudah mulai. Para atlet dengan baju warna-warni, gagah sekali. Atlet perempuan mengingatkanku pada tokoh Mulan. Oh, hari ini jadwalnya Selatan dan Taiji. Jurus-jurus dari Selatan memang lebih bertenaga dan penuh teriakan. Lihat saja kostumnya yang tanpa lengan menunjukkan otot sang atlet. Jurus Selatan memang begitu karena penduduk Cina Selatan yang umumnya tinggal di sekitar sungai Yang Tze sebagai nelayan badannya lebih besar dan lebih “barbar”. Sementara, atlet Taijiquan putri mengenakan pakaian yang bagian luarnya ringan menerawang, ketika bergerak seperti melayang.
Ketika atlet Indonesia meraih nilai tertinggi, kami berjingkrak kegirangan. Indonesia menang!! Medali emas di nomor Nanquan putra dan putri disabet semua!
Tiba saatnya penyerahan medali, Si Sulung dan Si Bungsu masih antusias. Mata mereka mengamati bagaimana para atlet berjalan ke podium dengan berjubah bendera merah-putih.
“Kayak superhero ya, Bu,” kata Si Bungsu.
“Kayak di lagu, Indonesia meraih bintang-bintang!” seru Si Sulung.
Hari ini, anak-anak menyanyikan Indonesia Raya buat para pahlawan wushunya.

Sabtu, 19 November 2011
Hari ini jatahnya jurus Utara. Cina bagian utara bergunung-gunung. Itu sebabnya jurus Utara butuh kecepatan, fleksibilitas, ketepatan, banyak melompat dan terbang, postur atletnya juga cenderung lebih ramping dan mungil. Mengingatkan kita pada film “Crouching Tiger Hidden Dragon”.
Lagi-lagi, Indonesia berhasil meraih nilai tertinggi di nomor Changquan. Kami dan penonton lain kembali berjingkrak-jingkrak. Kali ini, empat medali sekaligus! Nomor Changquan putra dapat satu emas dan satu perunggu, Changquan putri serta Taijiquan + Taijijian putri masing-masing dapat medali emas. Hari ini kami menyanyikan Indonesia Raya tiga kali!

Berhubung hari Sabtu, stadion penuh sesak. Para orang tua dengan anak-anak berseragam sasana wushu ini pasti langsung latihan sorenya, sama seperti Si Sulung dan Si Bungsu. Begitu pertandingan usai, anak-anak yang lebih kecil asyik bermain di arena Sanshou. Si Sulung dan Si Bungsu juga tak mau ketinggalan. Mereka salto, lompat, terbang, meniru para seniornya yang baru saja meraih medali emas. Para atlet bagai selebrita dikerubungi para penonton yang ingin berfoto.
“Mau foto sama kakak yang baru dapat medali?” pancingku.
“Mau! Mau!” mata mereka berbinar-binar.
“Nanti kasih hormat, terus salam bilang selamat, gitu ya.”
Mereka segera mencari para pahlawan wushunya di antara kerumunan orang yang ramai sekali.
Itu dia Kak Ulay! Mereka memberi hormat dan salam selamat. Sekarang kita cari Cie Ana. Kak Ulay dan Cie Ana tampak senang sekali ketika Si Sulung dan Si Bungsu memberi hormat. Wah, teman seperguruan nih, padahal beda sasana hehehe… Ayo foto!
Sorenya, anak-anak bercerita dengan heboh pada jiao lian di lapangan. “Seru! Seru!”
Minggu, 20 November 2011
Hari ini, kami seharian istirahat. Lelah juga menempuh jarak Harapan Indah-Senayan selama tiga hari berturut-turut. Kami mengamati lewat live update situs resmi Sea Games 2011. Nomor yang dipertandingkan hari ini adalah senjata panjang tombak dan toya.
Begitu jam menunjukkan pukul 11.30, kami langsung mengecek perolehan medali. Wuah hebat! Hari ini ada lima medali yang direbut Indonesia! Nomor Dao Shu + Gun Shu putra, Jian Shu + Qiang Shu putri, masing-masing dapat medali emas. Nomor Nan Dao + Nan Gun dapat medali perak. Dua medali perunggu dari kategori Sanshou/sanda kelas 56 kg putra dan kelas 70 kg putra.
Kami berjingkrak di rumah. Mengumpulkan tenaga untuk nonton lagi besoknya.
Senin, 21 November 2011
Pertandingan wushu hari terakhir. Harus nonton. Ini yang tidak kalah seru, nomor Duillian. Duillian itu berpasangan, ada koreografi seolah sedang bertarung. Bisa satu lawan satu, atau satu lawan dua. Gemerincing senjata beradu. Golok lawan golok, golok lawan tombak, wah seru!
Pagi ini memang Indonesia Raya tidak berkumandang. Duillian putra kurang beruntung, Duillian putri tidak mengirimkan atlet. Untung sorenya dari nomor Sanshou putra/putri 60 kg dapat medali emas dan putra 65 kg dapat medali perak.
Belajar Banyak
Ketika Indonesia Raya tidak berkumandang, Si Sulung dan Si Bungsu tetap belajar lagu kebangsaan dan bendera negara tetangga. Tanpa sadar, mereka dapat mengingat begitu saja bendera mana dari negara apa.
Besoknya, kami menggambar bendera negara tersebut. Si Sulung menyertakan juga bahasa kenegaraan, lagu kebangsaan, dan ibukota negara. Si Bungsu cukup menggambar bendera dengan nama negaranya. Melihat peta, di mana negara-negara itu berada. Bercerita ngalor-ngidul, bagaimana wajah orang Indonesia bisa mirip dengan negara-negara tersebut. Berapa tahun sekali Sea Games diadakan.
Di luar urusan belajar dunia perwushuan yang njelimet itu, kami belajar banyak. Banyak sekali! Mulai dari belajar geografi, sejarah, bahasa, sosial-budaya sampai matematika. Kami menghitung berapa jumlah medali yang diraih oleh tim wushu Indonesia, mengenal statistik sederhana. Yang tidak kalah penting: kami belajar jadi supporter yang baik dan tertib.
Belajar di rumah dengan cara begini, siapa yang tidak suka? Kalau sudah suka, pasti cepat bisa.
Inilah hari penutupan Sea Games ke-26. Kami menyaksikan upacara penutupan di tivi.
“Bu, tahun 2013 kita nonton ke Myanmar?” tanya Si Bungsu.
“Myanmar itu jauh, Nak. Bukan di Indonesia. Ayo, lihat lagi. Myanmar ada di mana?”
“Ooo…” wajahnya yang masih mirip bayi mencoba mengerti. Memutar-mutar bola dunia, mencari letak Myanmar. “Di Indonesia kapan lagi, Bu?”
“Belum tahu. Semoga kalau diadakan di Indonesia lagi, kamu sudah bisa ikut tanding ya.”
“Iyaa…” katanya sambil mengeluarkan jurus-jurus wushunya.
Ini dia para pahlawan wushu di Sea Games ke-26
“Ayo, ayo, ayo, Indonesia Bisa!”
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Homeschooling, Jurnal, Wushu
This entry was posted on Monday, November 28th, 2011 at 9:00 am and is filed under Sea Games ke-26: Belajar Banyak Sekali!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.




























