Adventurous Holiday

Kamis, 2 Juli 2009 pagi, tujuan Ciputih, Ujung Kulon, waktu keberangkatan jam 8 pagi (mulur dari rencana berangkat subuh), perkiraan waktu perjalanan 6 jam naik Si Putih. Dari Bekasi, potong jalan langsung ke BSD terus ke Tangerang. Keluar di pintu tol Serang Barat, lewat Menes. Si Sulung dan Si Bungsu semangat sekali sejak seminggu lalu. Segala peralatan main pasir sudah disiapkan. Sampai di Panimbang, mulai terlihat pasir pantainya yang putih. Rasa lelah dan bete yang sempat hinggap mulai terobati. Wah udah deket nih. Tapi mana? Kok belum sampai juga? Ternyata dari Panimbang masih dua jam lagi. Melewati jalan berbukit naik-turun yang tidak mulus. Untuk ukuran sedan masih bisa lewat lah.

Pasir Putih CiputihAkhirnya, tiba juga di Ciputih. Masuk gerbangnya biasa aja. Begitu liat pantainya, wuiiihhh… jam 2 siang itu juga rasanya pingin langsung main pasir dan berenang. Check in di resepsionis. Resepsionis ini menyuruh roomboy untuk ambil gerobak. Gerobak? Iya, gerobak! Semua bawaan dimasukkan dalam gerobak. “Ayo, Dik. Naik sekalian,” kata roomboy-nya. Dengan sigap Si Sulung dan Si Bungsu naik ke gerobak. “Di Jakarta adanya gerobak sampah ya, Dik?” Roomboy berkata enteng.

Pasir Putih CiputihDi kamar hotel, anak-anak makin semangat. “Kita tidur sini kan, Yah? Asyiikk…!!” Maklum, anak-anak jarang menginap di hotel. Ke Bandung sering sekali dan selalu nginap di rumah Kakak Ipar. Apalagi mudik ke Purbalingga?

Ups, kita belum makan siang nih. Dari tadi ngandalin camilan di mobil aja. Akhirnya pesan nasi goreng aja yang cepet dan pasti. “Mau pesan makan malam sekalian gak, Bu? Soalnya gak bisa pesan langsung datang. Harus dimasak dulu agak lama,” roomboy menawarkan. Wah? Ya udah pesan ikan kuwe bakar deh untuk jam 7 malam. Abis makan, jam 3 kita langsung ganti kostum. Balapan lari ke pantai. Panas terik gitu udah gak kerasa lagi. Bahkan kita semua gak ada yang pake sunblock.

Berburu KerangSi Sulung langsung aja nyebur ke air. Si Bungsu kenalan dulu sama ombaknya yang menderu-deru. Malah kejar-kejaran sama ombak. Sayang, Si Ayah yang jadi supir sempet teler apalagi makan siang yang telat banget gitu. Biar dia istirahat dulu deh. Begitu udara sedikit sejuk, Si Ayah bergabung. Malu-malu main air.

“Yuk, kita berburu kerang!” Ajakan Si Ayah sudah pasti disambut dengan teriakan yang luar biasa keras.
Lalu dimulailah perburuan itu. Berbagai karang kecil, pecahan kerang sampai rumah keong dikumpulkan di satu ember kecil. Lama kelamaan, embernya sudah tidak muat lagi. Ya sudah, ditaruh di pasir aja dulu. Lho, kok jadi banyak sekali?

Hasil perburuan“Yang dibawa pulang dipilihin dulu aja ya?” Terpaksa aku membatasi “oleh-oleh” dari pantai.
“Ibu.. Ibu… Nih, ada kerang yang warnanya ungu. Pasti Ibu suka kan?” Si Sulung berlari-lari sambil membawa pecahan kerang ungu itu.
“Nih, buat kalung Ibu,” kulihat Si Ayah memberikan sebuah kerang pada Si Bungsu.
“Ibu…! Nih dari Ayah buat kalung Ibu…” Si Bungsu mengulurkan tangannya berisi kerang ungu yang utuh dan berlubang.
Kupegang kerangnya di leherku, “Bagus, Yel?”

YLA“Bagus! Bagus! Besok beli talinya ya, Bu.” Si Bungsu jingkrak-jingkrak.
“Ibu! Yla juga dapet kerang buat kalung Yla nih!” Si Sulung mengacung-acungkan kerang mungil utuh berwarna kuning kecoklatan yang juga berlubang.
“Ya, besok kita beli talinya ya?”
“Bu, kerang yang besar itu bisa dibikin jepit?” imajinasi Si Sulung mulai beraksi.
“Ya, besok beli jepitnya juga. Nanti dilem. Kita bikin-bikin ya, kan masih ada waktu libur seminggu.”
“Asyiikk…” Keduanya bersorak-sorai.

VYELKulihat Si Ayah sibuk menata berbagai karang berbentuk huruf. “Huruf E-nya jelek. Yuk, kita cari karang yang kayak huruf E!” Si Ayah memberi tugas berikutnya.
“Yah, ini kayak huruf E bukan?” Si Bungsu menyodorkan sebuah karang.”
“Bukan… Itu kayak apa ya…?”
Si Sulung tertawa. “Itu sih kayak kaki bebek. Kwek… Kwek…” menirukan suara dan gaya bebek.
Si Bungsu malahan makin ngawur, “Bu, nih kayak bebek. Kwek… Kwek…” Mana kayak bebek? Kuputar-putar karangnya. Bingung aku.
“Emang gak kayak bebek, Bu? Ya udah buang,” diambilnya lalu dilempar ke air.
“Nih, ketemu huruf E!” Si Ayah berhasil juga mendapatkannya.

Perburuan mulai terfokus: mengurangi karang kecil dan menambah kerang. “Wah, ini sih kerangnya Ibu semua, Banyakan yang ungu,” kata Si Ayah.
“La, nih bisa buat main congklak!” Si Ayah menemukan kerang yang biasa dijadikan biji congklak.
“Ayo, sekarang berburu kerang untuk congklak. Nanti di rumah tinggal beli papan congklaknya,” aku menyemangati.
“Kok yang dapet Kakak terus? Vyel gak dapet-dapet?” Si Bungsu mulai putus asa.
“Vyel tugasnya nyuci kerang biar bersih ya?”
“Yee…” Si Bungsu dengan sigap mencuci hasil buruan Si Sulung dan Si Ayah. Aku bertugas memilih dan mengelompokkan hasil buruan.

Mozaik kerang unguIseng-iseng, berbagai pecahan kerang ungu itu kujadikan mozaik.
“Ibu bikin apa?” Si Bungsu mendekat.
“Ini namanya mozaik.”
“Pasti Ibu mau bikin gambar kruwel kayak Via Lattea!” Si Sulung yakin sekali.
“Iya, tapi susah, La. Yang gampang aja ya?”
Ternyata bikin mozaik memang susah. Gimana sih, kok orang-orang bisa pada rapi?
Setelah cukup lama, Si Ayah menghampiri.
“Bikin apa?”
“Mozaik.”
“Gak bikin gambar kruwel?”
“Susah! Yang gampang aja ah, huruf L,” aku malu-malu. Bener kan, diketawain!
“Ya, nanti di rumah dipigura dibikin yang bagus mozaiknya,” Si Ayah masih cengengesan.

YLA & VYEL“Difoto dulu hasil buruannya,” kataku.
Disusunlah karang berbentuk huruf itu menjadi kata “YLA” dan “VYEL”. Luar biasa. Demikian hebatnya Tuhan hingga bisa membentuk pecahan karang berbentuk huruf.

Hari mulai gelap. Sayang berawan, tidak bisa menikmati matahari bulat jingga terbenam. “Pulang ke hotel ya?” Ajakku.
“Lewat air!” Si Sulung langsung menghambur ke ombak.
Di tengah jalan, kami bertemu seorang bapak yang cukup sepuh. “Cari apa, Pak?” Tanya Si Ayah.
“Nangkap ikan, Pak.”
“Dapat?”
“Ya, dapat. Kadang ikan, kadang kepiting. Apa aja.”
Kulihat di tengah laut sana anaknya yang kira-kira usianya sebayaku menebar jala ke air yang tingginya hanya sebatas paha. Bisa dapat ikan ya? Aku dan Si Ayah heran.
“Lumayan, Pak. Buat makan malam.”
Hm.. Buat makan malam. Tidak perlu beli, tinggal ambil dari laut atas kebaikan Tuhan. Pasti di rumah anak-istrinya sudah menunggu hasil tangkapan dari laut.
“Mari, Pak. Saya duluan,” kami pamit dari situ menuju kamar.Sunset di Ciputih

Malam itu kami makan ikan bakar dari restoran situ. Ternyata, kita bisa beli ikan dari para nelayan yang menghampiri ke kamar atau pesan ke roomboy untuk dibelikan di pasar. Atau ya sekalian aja beli sendiri, nanti panggil roomboy untuk dibakar di depan cottage.

Abis makan, gelap-gelap kita ke pantai lagi. Main pasir lagi. Permainannya kali ini: membuat “kuburan” kerang. Kerang dikubur, dikasi tanda. Dibuat beberapa buah. Besok pagi akan dicari lagi. Mana yang masih ada, mana yang hilang. Tujuannya: anak-anak belajar air laut yang pasang dan surut.

Waktunya tidur. Tapi kok banyak banget semutnya? Besar-kecil. Tadi dari siang gak ada tuh. Oohh… baru ingat. Tadi menjelang malam ada fogging. Mungkin karena itu semut-semutnya pada keluar karena butuh oksigen? Bisa jadi kan? Jadilah malam itu kami tidur tidak terlalu nyenyak karena harus berbagi ranjang dengan para semut. Untung para nyamuk tidak hadir sedikitpun.

Paginya. Rise and shine!
Jam 6 pagi anak-anak sudah bangun, ribut mau langsung berenang lagi.
Sarapan dulu…
Jauh-jauh dari kota, sarapannya mie instan tinggal seduh. Simpel, praktis, pasti enak. Ngandalin menu hotel yang tidak variatif bisa bete juga nih. Di sekitar hotel gak ada “restoran” atau apapun. Adanya ya warung rokok dan warung bensin.
Kelar sarapan, langsung ganti kostum kemarin yang setengah kering.
Main air, berenang sampai perburuan kerang dilanjutkan.the De.N.eL.s' Castle

“Yah, bikin istananya yang besar ya!” Pinta Si Sulung.
“Ya.”
Sementara Si Ayah sibuk dengan obsesi arsiteknya, aku dan anak-anak berenang.
Lama kemudian. “Sudah jadi!”
“Horeee…!! Kita bisa tinggal di situ, Yah?” Tanya Si Bungsu. Dia memang ceplas-ceplos.

“Yla, mau di dalam pasir ga?” Tanyaku.
“Mau! Mau!”
Yla the mermaidAku, Si Ayah, dan Si Bungsu menggali lubang sebesar tubuh Si Sulung.
“Ya, situ masuk,” ujar Si Ayah.
Lalu Si Sulung ditimbuni pasir sebatas dada.
“Udah, sekarang jadi putri duyung,” kataku.
“Kayak Ariel!”

Jam 10 terpaksa kegiatan dihentikan. Selain waktunya checkout, kami juga harus berburu makan siang. Warung makan terdekat jaraknya masih puluhan km dari hotel.

Ciputih Beach ResortMenuju Si Putih, anak-anak kembali naik gerobak. Sesaat kemudian, kami sudah berada lagi di jalan berbatu menuju “peradaban”. Setelah berkendara selama 1 jam lebih, baru kami bertemu beberapa warung mirip pasar. Mulai dari warung makan, toko kelontong sampai toko bangunan ada. Mungkin ini “kota” terdekat dari Ciputih? Tidak kuat menahan lapar, kami cap-cip-cup memilih warung makan. Ternyata model warung nasi rames gitu. Ya sudah lah. Masih syukur ada rasanya, anak-anak makan banyak. Sejak dari hotel, kami tidak menemukan SPBU. Tadi sudah dua kali isi bensin di warung dengan harga Rp 6.000 dan Rp 5.500 perliter. Kapan ketemu SPBU terdekat nih? Untung Si Putih irit luar biasa.Nak Gerobak

Terhitung 2 jam perjalanan dari hotel, baru kami ketemu SPBU Panimbang. Akhirnyaaa… kuatir mogok “in the middle of nowhere” kan gawat juga. Langsung isi penuh. Rute pulang rencananya lewat Carita-Anyer. Cari pemandangan pantai, karena berangkat pemandangan sawah.

Sejak waktu di warung makan tadi, Si Ayah sudah merayu kami semua karena harus kirim imel ke Singapura. Halah, cari di mana? Ngandalin provider ponsel kami ternyata gak kuat. Tujuan sementara ke Sol Elite Marbella Anyer. Masa di tempat semewah itu gak ada koneksi internet?

Sampai Marbella sudah jam 4.30 sore. Karena file yang dikirim memang besar (namanya juga disainer, psti bergaul sama file yang hitungannya Mb, bukan lagi Kb). Perkiraan kirim imel paling lama 30 menit mulur jadi 2,5 jam! Anak-anak mulai ngamuk. Liburan gini kok masih sempat-sempatnya kirim imel. Alhasil, terpaksa extend. “Abis ini, kita cari hotel lagi ya?” Bujuk Si Ayah. Tawaran ini sudah pasti disambut gembira.

Keluar dari Marbella sudah jam 7. Cari makan dulu dekat situ. Selesai makan, tujuan berikutnya adalah Pulorida. Seorang kawan mengatakan bahwa Kompas merekomendasi resor itu. Di kegelapan malam, jam 9.30 malam sampai juga kami di Pulorida, Cilegon. Hotelnya tidak meyakinkan. Outside the box! Siapa tau besok pagi menemukan sesuatu yang menarik.

Tiba di kamar. Oh tidak…! Kamarnya kotor, bau dan suram. Kamar mandinya apalagi. Waduh, Si Ayah pasti gak bisa tidur nih nanti malam. Ranjang kusemprot dengan cologne milik anak-anak. Lumayan lah. Kamar mandi disiram sekenanya sambil main-main sabun hotel. Lumayan sedikit wangi. Kubisikkan di telinga Si Ayah, “Kalo mau tidur di mobil gak apa-apa lho…”

Ternyata, nasib berkata lain. Si Ayah yang sejak di Ciputih sakit gigi, sakitnya bertambah luar biasa. Jam 4 pagi aku dibangunkan, “Aku mau cari minimarket dulu beli obat.” Setengah sadar, aku iya-iya aja.

Pagi itu kami bangun dengan tidak segar. Suasana kamar yang tidak menyenangkan cukup mempengaruhi. Jauh berbeda dengan Ciputih yang bahkan menyediakan sapu ijuk di tiap kamar. Ok, waktunya sarapan sambil melihat-lihat suasana sekitar. Begitu keluar kamar, oh tidak…! Pantainya begini? Mana bisa main pasir dan berenang? Pasirnya hitam dan kotor. Yang penting sarapan dulu.

PuloridaHabis sarapan, jam 8 pagi kami menuju lokasi yang biasa untuk berenang. Di pasir yang hitam itu, Si Sulung dan Si Bungsu ogah-ogahan. Teriknya juga berbeda, sepertinya menyengat sekali. Dibandingkan ketika jam 3 sore berenang di Ciputih, Pulorida terasa jauh lebih panas. Tidak sampai 10 menit – sementara anak-anak main di pantai, aku dan Si Ayah “rapat” mendadak – kupanggil mereka. “Gimana kalau kita berenangnya pindah ke kolam renang Ancol?” Keduanya terdiam.
“Yla gatel-gatel ya?” Kulihat Si Sulung menggaruk beberapa tempat di tubuhnya sejak tadi.
“Iya, gatel.”
“Ya udah, sekarang mandi pake sabun langsung ke Ancol aja, mau?”
Anak-anak sudah hilang semangat. Wah, gawat nih! Masa liburan berakhir dengan mimpi buruk begini?

Danny & YlaKetika mandi, aku cukup terkejut. Pasir yang turun dari pakaian dan tubuh anak-anak mengandung minyak (atau oli?). bayangkan saja berenang bersama kapal barang yang besar. Bebenah tas dan sebagainya dilakukan secepat kilat. Jam 10 kami sudah check out.
“Kok cepat, Bu? Kirain mau liburan,” resepsionisnya bertanya ramah.
“Oh, semalam kemalaman di jalan, jadi nginep sini. Justru sekarang mau nerusin jalan pulang.” Berlibur di sini? Rasanya tidak akan pernah lagi deh! Di jalan menuju tol Merak, kulihat beberapa kapal barang dan penumpang besar berlabuh. Ah ya, mungkin yang dimaksud bagus adalah suasana matahari terbenam dengan pemandangan kapal besar sebagai latar depan. Mungkin memang bagus, aku tidak tahu. Danny & Vyel

Tujuan berikutnya: Ancol. Mengobati mimpi buruk yang terjadi dan menutup acara liburan dengan menyenangkan. Untung Si Sulung masih punya Kartu Prestasi (kartu yang dikeluarkan pihak Ancol bekerja sama dengan beberapa sekolah termasuk TK Sang Timur Cakung, hanya diberikan kepada beberapa anak saja). Dengan kartu itu, si anak pemegang kartu gratis masuk Ancol dan semua wahana, pendamping maks 4 orang dapat diskon 20% untuk tiket wahana. Tiba di Ancol jam 2 siang. Kubebaskan mereka berenang sepuasnya.

Hari mulai malam, waktunya makan malam lalu pulang. Liburan sekolah tahun ini selesai. Besok persiapan untuk masuk sekolah minggu depannya. Anak-anak pulang dengan wajah puas. Membawa oleh-oleh mulai dari kerang sampai cerita yang beraneka warna.

Oh ya, 2 minggu lagi masih harus menginap bersama Eyang Santo supaya buku biografinya cepat selesai. Sudah dulu ya…

Foto lengkapnya klik aja di sini

“Yla, mau di dalam pasir ga?” Tanyaku.

“Mau! Mau!”

Aku, Si Ayah, dan Si Bungsu menggali lubang sebesar tubuh Si Sulung.

“Ya, situ masuk,” ujar Si Ayah.

Lalu Si Sulung ditimbuni pasir sebatas dada.

“Udah, sekarang jadi putri duyung,” kataku.

“Kayak Ariel!”



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , ,

This entry was posted on Wednesday, July 8th, 2009 at 12:01 am and is filed under Adventurous Holiday. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>