Becak Panggilan

Tadi sore aku antar Si Sulung les bahasa Inggris di ruko depan. Si Putih lagi dibawa Si Ayah ke distributor bersama 700exp buku. Jadilah kita – aku, Si Sulung dan Si Bungsu – naik becak. Tentu saja mereka gegap gempita. Biasanya SI Sulung kutinggal lalu kujemput. Dengan ongkos 7.000 sekali jalan, kalau aku pulang dulu bisa ngabisin 28.000 dong. Jadilah aku nunggu di sana.Pas pulang, udah siap-siap mikir mau naik becak dari mana nih? Eh, tumben-tumbenan ada becak mangkal. Biasanya gak tentu, kadang ada, kadang gak. Tergantung mood para penarik becaknya kali?

Aku menghampiri tukang becak tersebut. Tukangnya lagi leha-leha gitu (tau leha2? Leyeh2, santai gitu deh).
“Bang, narik ga?” Aku bertanya.
Lalu dia membuka kantong ponselnya. Melihatnya sekilas. “Ayo deh, biar cepet.” Lalu dia bilang sama petugas yang jaga di depan tempat les itu, “Suruh tunggu ya.” Petugas itu mengangguk.

Aku bingung. Ngapain tadi dia buka ponselnya? Dalam perjalanan di atas becak, aku bertanya, “Tadi lagi nunggu, Bang?”
“Iya, biasa jemput. Tapi belum ditelpon. Ya udah narik dulu aja,” katanya cuek.
Whoaaaa…
Gileee…
Kalah gue!
Abang Becak sekarang terima panggilan lewat ponsel?
Cara marketing yang jitu. Siap dipanggil kapan aja. Bersaing dengan taxi.
Tapi pertanyaannya: apakah Abang Bajaj juga melayani panggilan lewat telpon?
Kayaknya susah mau menghubungi. Emang bunyi teleponnya kedengeran? Terus, yang nelepon juga sakit kuping karena Abangnya mungkin aja teriak-teriak di telepon.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Tuesday, June 23rd, 2009 at 5:50 pm and is filed under Becak Panggilan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>