Bu Guru, Belajar Dong!
Hari Sabtu pagi itu, aku dan Si Ayah janjian dengan wali kelas Si Sulung. “Mau konsultasi, Bu,” begitu alasanku. Tepatnya: aku mau mempertanyakan hasil ulangan Si Sulung yang sedikit aneh.
Si Sulung memang cerdas, nilainya banyak yang sembilan atau sepuluh. Tapi selalu kutekankan, “Dapat nilai enam saja Ibu sama Ayah sudah bangga, Nak!” Jadi ketika hasil ulangannya dibagi dan ada dua kali ulangan Matematikanya yang dapat nilai DUA dan LIMA, aku hanya bisa tersenyum. Dua angka yang jeblok blas dibanding seluruh nilainya yang anggap saja rata-rata delapan belum sampai 10%-nya.
Jadi, apa yang aneh dari hasil ulangan itu? Ada dua hal. Pertama, di pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan, ada pertanyaan “berkokok adalah suara…” Jawaban Si Sulung adalah “ayam”. Tapi dianggap salah. Harusnya ayam jantan. D’oh!! Emang ayam jantan bukan ayam ya?
Kedua, di pelajaran Agama Katolik, ada pertanyaan “apa gunanya sekolah?” Jawaban Si Sulung adalah “penting untuk anak-anak belajar”. Disalahkan juga. Yang betul adalah “tempat menuntut ilmu”. HAH?? Si Sulung sampai bertanya, “Bu, apa bedanya belajar dan menuntut ilmu?” Oh, Tuhan! Aku hanya bisa menjawab, “Nak, besok Ayah dan Ibu mau ketemu Bu Guru, ya? Besok ditanya.”
Itulah sebabnya Sabtu pagi itu aku buat janji dengan Bu Guru. Dari penjelasan Bu Guru, “berkokok” jelas memang bahwa yang diminta adalah spesifik “ayam jantan”. Sebetulnya aku mau protes, “Tidak bisakah diberi nilai setengah? Toh dijawab ayam, bukan kuda.” Tapi ya sudah lah. Gak penting-penting amat nilai di rapor, yang penting Si Sulung paham.
Lalu pertanyaan berikutnya adalah soal “belajar” dan “menuntut ilmu” itu tadi. Kata Bu Guru, “Karena itu pelajaran Agama, silakan bertanya pada Bu Guru Agama.” Jawaban yang tepat dan diplomatis. Setelah selesai, aku dan Si Ayah menemui Bu Guru Agama.
Penjelasan Bu Guru Agama justru di luar dugaan. “Begini Bu, yang saya tekankan adalah tempat, bangunan sekolahnya. Berguna untuk apa?” HAH?? Jadi ini masalah bangunan sekolah? Kalau banjir datang, tentu saja berguna untuk menampung komplek elit yang memang tidak antibanjir itu! “Oh jadi beda ya Bu, antara “belajar” dan “menuntut ilmu”?” Aku dan Si Ayah berusaha menegaskan. Penjelasan lanjutannya membuatku sakit kepala, “Kalau menuntut ilmu itu di sekolah. Kalau belajar kan bisa di tempat les, di rumah teman, di mana saja.” Ooohh Mii Goot… (bukan Oh My God, itu kalau masih bisa tertolong. Oh Mi Got adalah sekarat tak tertolong lagi). Jadi kalau menuntut ilmu harus di sekolah? Tidak bisa homeschooling? Kalau belajar di perpustakaan atau sekolah outdoor seperti Kandang Jurang Doank punya Dik Doank tidak termasuk sekolah maka kegiatannya bukan menuntut ilmu?
Tidak tahan lagi, disudahi saja pembicaraan itu. Gak mutu! Menuntut ilmu harus di sekolah, bukan di tempat lain. Yang aku tau, menuntut secara pidana dan perdata itu tempatnya memang harus di pengadilan!
Bu Guru, belajar dong! Nanti Bu Guru bisa dibodoh-bodohin dan dijadikan bulan-bulanan anak murid kalau tetap begitu. Anak sekarang kan kritis, jujur dan terbuka. Kecuali Bu Guru siap dilabeli, “Bu Guru saya tidak sepandai saya ternyata!”
Bersambung ke Bu Guru, Belajar Dong! (2)
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Pendidikan, Prihatin, Si Sulung
This entry was posted on Tuesday, September 15th, 2009 at 4:21 pm and is filed under Bu Guru Belajar Dong!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







8:34 pm on September 15th, 2009
hihihihi… ajaib juga ya si Ibu guru itu… Wah, mesti kita demo rame2 kayaknya ;-p
8:36 pm on September 15th, 2009
Angel,
kebetulan Bu Guru Agama itu lagi hamil tua nunggu harinya
jadi begitu keluar ruangan, Dny bilang, “Males ah debat sama ibu hamil!”
wakakak
11:41 pm on September 15th, 2009
hihihi…dari dulu kok sama ya kejadiannya.
dulu ponakanku dikasih soal ulangan : Rambut kakek berwarna ….
kata bu guru yg bener “putih”, tapi ponakan protes “rambut kakek saya hitam bu!” (memang hitam, abis kakek pake semir rambut)
7:05 am on September 16th, 2009
Duh… si ibu guru gak kreatif deh wkwkwkwkwk…
Perasaan guru-guru jadul gak gitu amat deh :p padahal lebih galak
9:52 am on September 16th, 2009
wekekek
untung ga dijawab “ga ada rambutnya”
klo kakeknya botak gimana?
1:09 pm on September 16th, 2009
@ Femi: huehuehue
3:35 pm on September 17th, 2009
Hmmm …. itulah bedanya guru jaman sekarang yg bisanya cuma ‘mengajar’, bukan ‘mendidik’…..
3:37 pm on September 17th, 2009
kalo botak sih bukan kakek. tapi saya ….
3:48 pm on September 17th, 2009
ehm….ini yang membuat akreditasi guru tidak diterima seluruhnya ya…kebanyakan guru hanya mengajar bukan membantu sesorang untuk berkembang….
3:53 pm on September 17th, 2009
@ Intan: hehehe
3:54 pm on September 17th, 2009
@ Pam: klo gundul kayak permen kojak?
3:54 pm on September 17th, 2009
@ Kristiadi: hehehe
2:17 pm on September 18th, 2009
Dahsayatnya tulisannya ..tahnks ya
2:18 pm on September 18th, 2009
Guru kalau hanya mengejar setoran (merampungkan bahan-bahan pelajaran) seperti itulah kejadiannya. Coba kita bayangkan kalau guru/dosen hanya mengejar setoran…apa jadinya murid/frater/suster nantinya? Ini pertanyaan untuk kita semua…..
2:37 pm on September 18th, 2009
@ Ter Andre: hehehe
2:37 pm on September 18th, 2009
@ Ronaldo: matur tengkiyu
6:50 pm on September 18th, 2009
hi hi jadi ingat waktu jadi guru dulu,tapi aku gak gitu koq hanya guru2 yang kaku.jujur aja aku kaget kalo di kelas guru2 itu alim bgt tapi kalau di ruang guru ada yang saling gesek cari perhatian Suster kepala sekolah,ada yang suka jelek2kin temen se jawat…
Yang lebih gila lagi ada yang terang terangan buka gambar porno kebetulan saya guru komputer dan lab nya ada internetnya.
Pas iMLEK ada yang terang terangan membanding2 kan angpau yang di kasih masing2 ortu murid.Ya lebih besar di ucapakan terimakasih pertama kali.Matre juga kan padahal di sekolah tempat saya mengajar gaji guru lumayan gede dan banyak tunjangan.tapi jangan disamakan tidak semua guru tidak seperti itu masih ada guru yang mengabdi.Trims
9:11 pm on September 18th, 2009
Itu namanya ibu guru cuma bisa menghafal nak,
kalau aja waktu ibu guru kecil dulu belajarnya
sama bp dan ibu Kasur, pasti jawabannya beda.
Jadi jangan spt mereka nanti kalau sdh besar ya . .
11:03 pm on September 18th, 2009
dari jaman dahulu kala (hehehe) guru selalu benar kali, kalau dia bilang oh ya saya salah maap lah wibawanya mana….. jadi mau ga mau anak2 kita terpaksa kudu diajarin menyimak kata2 guru.
anak2ku dulu juga kalo diajarin dengan cara ato bahasa beda (maksudnya dari gurunya) pasti dgn nada protes bilang : kata bu/pa guru begini…yah begitu lah kenyataannya…..
9:42 am on September 19th, 2009
Wah, ini yang pintar anaknya, mbak. Sebenarnya guru-guru sekarang harus bisa ikut perkembangan anak. Anak sekarang jauh bgt dengan kita dulu soal cara berpikir cara mengungkapkan cara segalanya deh…Ilmu soal tumbuh kembang anak pun baru masuk di Indonesia. Sarjana lulusan spesialis itu pun masih sedikit di Indonesia. Nah guru2 di Indonesia sepertinya masih statis…perkembangan yang diajarkan ya seperti apa yang mereka dapat dari yang mereka pelajari. Sementara Imu tentang apapun itu dinamis….
hehehehehe…mungkin lebih baik, memindahkan sekolah anak ke sekolah yang lebih atau ke sekolah yang lebih bisa menjadikan si anak “Makin Pintar”. Pemberian/talenta Tuhan si anak Pintar/unggulan, sudah pintar dan tugas sekolah menjadikannya tambah pintar..heheheh bukan tambaha bingung. Sekolah sekarang, jarang bisa mengahasilkan anak jadi Pintar. Yang ada, anak Pintar/unggulan sekolah ditempat yang muridnya tak bisa diajak unggul…anak unggulan malah jadi bingung….
8:13 pm on September 19th, 2009
Itu Bu Gurunya aja yang dodol.
Sependek ingatanku, guru di sekolah anakku ngga gitu-gitu amat deh kalau ulangan.
Apalagi guru Agama Katholiknya.. jawaban apapun dibenarkan kog, asal masuk akal dan memang benar ..
4:01 pm on September 20th, 2009
Dear Lini,
What a pity! Next day, you must choose “the good school” (good learning community)for your beloved kids.
“Non scholae sed vitae discere” adalah semboyan yang sangat bagus bagi guru dan orang tua. Semboyan itu artinya “Belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup”. Dengan kata lain, belajar bukan untuk mendapat nilai (angka/rangking) tetapi supaya nantinya bisa hidup lebih baik. Angka dan rengking sering dijadikan tujuan, bahkan ketika anak tidak bisa masuk rengking 10 besar, lalu seolah gagal segalanya. Nilai raport dan rangking tidak pernah bisa dijadikan jaminan untuk meminjam uang di Bank, tetapi sekolah menekankan itu.
Sekolah yang baik lebih mengutamakan pembangunan martabat anak, mengafirmasi kebisaan anak, sekecil apa pun, seperti dilakukan seorang Tino Sidin. Pada dasarnya semua anak itu genius. Tetapi, ketika mulai sekolah, lalu orang tua, guru dan kawan-kawannya saling menguburkan kegeniusan ini.
Seharusnya jika sekolah itu mempunyai guru yang dilengkapi soft ware mendidik yang benar, guru itu akan menanggapi demikian, “Benar jawabanmu Si Cantik. Yang berkokok itu memang ayam, dan kokok ayam yang nyaring dan terdengar dari jauh itu ayam jantan atau betina? Hayo siapa bisa menjawab?” Jawab anak, “Ayam jantan Bu Baik Hati”. “Hohoho … Mawar sayang, benar sekali jawabanmu”, begitu afirmasi seorang guru yang sungguh-sungguh membangun martabat anak, selalu mengembangkan optimisme anak-anak yang mengelilinginya.
Keprihatinan dunia pendidikan dewasa ini adalah mengabaikan pembangunan martabat manusia. Sekolah sudah berubah menjadi “Pabrik Gema”. Maka, pilihkan anak-anak kita di sebuah sekolah yang baik. Apa kriteria sekolah yang baik? “Sekolah yang membawa anak-anak supaya tahu segala hal sesuai usianya (learn to know), supaya mampu melakukan hal-hal penting dan baik (learn to do), supaya bisa menjadi sesuai mimpi yang ingin diwujudkan (learn to be), dan supaya bisa hidup bersama dalam berbagai keragaman (learn to live together)”, itu semestinya menjadi kriteria minimal.
Debat kusir dengan gurunya tidak ada gunanya (Guru itu ‘tidak boleh salah’ dan tidak membutuhkan masukan berharga dari orang lain sebab guru sudah seperti Tuhan maha tahu, atau malah seperti setan?) Mungkin akan lebih baik memberi tawaran short seminar untuk guru seputar soft ware seorang guru yang baik.
That’s all Lini. GBU!
Your regard
Doel
4:36 pm on September 20th, 2009
@ Dewi: miris ya?

@ Tante Grace: iya dong, Tante…
@ Bertha: konsisten ya Cie? hehehe
@ Renny: jadi mbulet… semua ikut bingung
@ Yenny: bawaan ngidam kli? hehehe
@ Doel: padahal baru aja beberapa waktu lalu diberikan seminar oleh seorang Bruder (aku ga hadir, yg hadir Si Ayah). tapi mungkin Si Bu Guru Agama ga hadir jadi ga mudeng? hehehe
8:33 pm on September 20th, 2009
Wah kalo ini pengalaman nyataku waktu anakku kelas 2 smp Lin, hehehehe….. Thanks story nya…..
4:16 pm on September 21st, 2009
@ Pavo: sami2
2:17 pm on January 25th, 2010
Bu Lini, bu gurunya terlalu teks book kali. Jadi apa yang tidak tertulis di kunci jawaban yang dari penerbit itu dianggap salah. Yeah, begitulah kualitas sebagian guru-guru sekolah di republik ini… Kepala sekolahnya perlu diigatin tuh. Malu-maluin saja. Sekolah katolik pula…
3:17 pm on January 25th, 2010
weiii… kalo gua yg ngalamin kyk gt??? hmmm…mending pindah sekolah deehhh… ;p
4:29 pm on January 25th, 2010
@ Max: capek deehh…
@ Felicia: yoee…