Bu Guru, Belajar Dong! (2)
Surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru ada di Kepada Yth. Ibu Guru
Setelah satu semester aku dan Si Ayah cukup bersabar dengan pola pendidikan Bu Guru di sekolah Si Sulung, akhirnya kesabaran kami menipis juga. Sebetulnya, kemurkaan ini menjadi klimaks pada sebuah kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Supaya lebih paham duduk perkaranya, aku akan menceritakannya dari asal-muasalnya dulu.
Bu Guru ini tahun lalu masih mengajar di TK, tapi tidak pernah mengajar Si Sulung. Tahun ini mulai mengajar di SD. Naik kasta ceritanya. Ketika Si Sulung duduk di TK B, ada sebuah kejadian yang meninggalkan luka dalam di hatinya. Mei 2009, lagi seru-serunya panitia Pelepasan TK B di Sekolah. Tentu saja para Ibu beserta anak-anaknya setiap hari ngepos di Sekolah mengurus ini-itu, termasuk aku. Bahkan Si Bungsu juga ikut ngepos padahal belum sekolah.
Hari itu, beberapa anak bermain di komputer Pak TU. Si Sulung baru saja masuk hendak melihat apakah yang sedang terjadi kok teman-temannya seru sekali. Aku sedang berdiri di pintu Tata Usaha yang nyambung ke ruang Suster KaSek TK bersama seorang Ibu yang anaknya justru sedang bermain game di komputer itu. Tiba-tiba, Bu Guru datang dan membentak Si Sulung, “Ini ngapain?? Keluar!!” Aku syok. Apa-apaan ini? Kok anak gue main dibentak gitu aja? Ada urusan apa dia sama anak gue?? Kok anak yang justru lagi main komputer ga dibubarin?? Marah dong! Si Sulung dengan hati terluka dan menangis terisak langsung ke luar dan duduk di dekat aula. Dibujuk berbagai cara tak kunjung reda isaknya. Terpaksa pulang membawa PR kerjaanku. Besoknya, SI Sulung mogok sekolah. Mutung. Ngambek. Trauma sama Bu Guru. Akhirnya kusurati Ibu Guru Kelas TK B-nya. “Mikayla tidak mau sekolah karena kemarin dikasari Bu Guru.”
Itu adalah luka pertama.
Mei dekat dengan Juli. Begitu pengumuman pembagian kelas, Si Sulung kebagian kelas 1 B dengan wali kelas… Bu Guru! Waduh, gawat nih! Belum apa-apa sudah stres dia. “Nak, yakin deh Bu Guru gak akan kasar lagi. Yuk kita doa…” Sebulan pertama masih lumayan ceria. Bulan kedua, perubahan mulai terjadi. Si Sulung stres betulan. Mulai cengeng, penakut, suka bohong. Aku dan Si Ayah putar otak mencari sebab perubahan ini. Si Sulung yang indigo dan introvert tentu memiliki kesulitan untuk mengungkapkan emosi apalagi mengelolanya. Setiap pagi mau berangkat sekolah pasti menangis. Bikin PR menangis. Tiada waktu tanpa uring-uringan dan menangis. Kalau ditanya dia tidak mau cerita.
Lalu terjadilah kejadian soal berbagai jawaban PS (Pekerjaan Sekolah) dan Ulangan yang benar disalahkan serta jawaban yang harus sesuai plek dengan catatan. Ini sih bukan belajar, ini sih menghapal! Waktu itu menjelang Ulangan Tengah Semester. Aku dan Si Ayah datang ke sekolah mengkonfirmasi berbagai urusan soal-jawaban antik itu. Jawaban Bu Guru memang tidak memuaskan. Kami pulang dengan kecewa. Di rumah, kukatakan pada Si Sulung, “Ibu tau seberapa pinter dan bodohnya kamu. Ibu gak peduli sama nilai ulangan dan rapor. Yang penting kamu jadi anak baik.” Hanya sebentar Si Sulung percaya diri. Selebihnya kembali “payah”. Karakter yang jauh dari Si Sulung sebelum masuk SD.
Pelan-pelan, Si Sulung mengaku stres pada Bu Guru. Sering sekali dimarahi, dibentak, dikasari. Belum lagi dengan berbagai soal-jawaban antik yang masih terus berlangsung. Kami berusaha sabar. Sampai akhirnya minggu lalu aku ajak lagi Si Sulung berdoa, “Tuhan, bantuin Yla supaya gak dimarahin Bu Guru lagi. Supaya Bu Guru gak marah-marah lagi. Amin.”
Jalan Tuhan memang antik.
Besoknya ketika jemput Si Sulung, seorang anak memanggilku. “Tante, tadi Yla motong rambutku.” Ha?? Panic attack! Kok bisa? Tapi anaknya gak terlihat marah malah pergi begitu aja. Kucari Si Sulung. Tiba-tiba sudah ada di belakangku. “Bu…” Tak ada lanjutan kalimatnya malah menunjukkan buku agenda yang ditulisi Bu Guru, “Hari ini Ela memotong rambut temannya. Mohon perhatiannya!” Membaca itu emosiku pada Bu Guru memuncak. “Mohon perhatiannya!” Apa perlu tanda seru di situ? Katanya mahir berbahasa Indonesia? Jawaban Si Sulung pada semua pekerjaan Bahas a Indonesia harus teliti. Bahkan pertanyaan “Binatang yang berkokok” harus dijawab “ayam jantan”, padahal Si Sulung menjawab “ayam” disalahkan karena kurang spesifik! Lagian nama anakku bukan Ela. Huh! Langsung kutarik Si Sulung ke tepi. Kutanya cerita lengkapnya.
Ceritanya begini. Si Sulung membawa gunting ke sekolah (gunting anak-anak yang bergambar warna-warni). Dia menggunting rambutnya sendiri. Lalu si A meminjam dan menggunting rambutnya sendiri juga. Si B meminjam dan menggunting rambut Si C. Berarti gunting itu sudah kelilingan.
“Jadi yang potong rambutnya Temanmu siapa?”
“Bukan aku. Si B.”
“Yla berani bilang Bu Guru?”
“Berani.”
Lalu kami langsung ke Ruang Guru mencari Bu Guru. Bu Guru masih di kelas. Mana pas jemput pakai sandal jepit karet antibanjir lagi! Kami masuk dan menjelaskan sama Bu Guru duduk perkaranya. Yang ada di benakku adalah Si Sulung akan ditegur karena membawa gunting. Jelas itu pelanggaran. Ternyata justru urusan membawa gunting itu tidak disinggung sama sekali! Dengan tubuh condong menyeberang meja guru dan wajah yang berjarak hanya sejengkal dari wajah Si Sulung, intimidasi terjadi. Intonasi suara tinggi dan keras. Pertanyaan hanya itu-itu saja. Membentak atau bertanya, jadi tidak jelas.
“Jadi yang motong rambutnya siapa? Tadi katanya Yla, kok sekarang si B? Kalo ngomong jangan ganti-ganti, Bu Guru jadi bingung!”
Coba Anda bayangkan, anak Anda dibentak gurunya di hadapan Anda. Wajah anak yang pucat sudah tidak lagi dihiraukan. Anak tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan seluruh runut cerita. Dengan pertanyaan bertubi dan menekan, jelas bahwa Bu Guru tidak melihat kejadiannya. Ketika Bu Guru tidak melihat, seharusnya yang dijadikan saksi adalah orang lain yang tidak terlibat tapi melihat, bukan anak-anak yang semuanya terlibat. Tersangka jadi saksi sangat tidak valid keterangannya. Manusiawi bahwa tidak seorang pun mau disalahkan. Aku menunjukkan sikap keberatan atas vonis yang dijatuhkan. “Kalau begitu, besok Ibu dan kedua ibu lainnya (Ibu si B dan Ibu si C) kumpul di sini semuanya.” Jelas bahwa Bu Guru hanya menyebut tiga nama yang seharusnya ada empat anak yang terlibat. Jadi, setelah aku protes baru semua pihak dimintai keterangan? Kok terbalik? Sudah vonis baru diklarifikasi? Proses penyelidikan yang aneh! Guru macam apa ini? Aku hanya diam. Membantahnya sama dengan ngomong sama batu! Kuajak Si Sulung pulang.
Di parkiran, kutelepon Si Ayah. Si Ayah yang begitu kalem langsung emosi. “Ayo, kita ramein aja urusan ini! Lama-lama nyebelin juga Guru ini!” Aku langsung kembali ke sekolah membuat janji dengan Suster Kepala SD. Besok jam 8 pagi.
Di rumah, aku tanyai lagi Si Sulung. Ceritanya masih sama. Aku mencari referensi UU SisDikNas dan UU Perlindungan Anak. Kutulis surat untuk Bu Guru tembusan pada SusterKepala SD. Kukutip beberapa bagian dari kedua UU itu. Membayar kesabaran satu semester atas sikap semena-mena Bu Guru harus dengan amunisi yang cukup.
Dalam UU Sisdiknas disebutkan, “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.”
dan
“Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.”
Dalam UU Perlindungan Anak disebutkan, “Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.”
Malamnya, aku dan Si Ayah merekonstruksi kejadian di kelas soal gunting-menggunting rambut itu. Si Sulung dimintai keterangan sejujur-jujurnya. Usai urusan meminta keterangan, berikutnya urusan curhat. Si Sulung baru mengaku bahwa sering kali kepalanya ditoyor dan punggungnya digebuk. Setiap hari Bu Guru membentak anak-anak. Sungguh pola belajar yang tidak menyenangkan!
“Sebabnya apa?” Si Ayah bertanya.
“Yla kalo nulis lama…” Hah?? Anak kelas 1 SD kalo nulis lama boleh dibegitukan? Bu Guru kan Sarjana. Mana sikap layak jadi panutan??
Ini adalah luka kedua.
Esok pagi jam 8 pagi. Kami datang ke sekolah memenuhi janji temu dengan Suster Kepala SD. Semua runut kejadian, semua bukti, termasuk semua buku, tugas, hasil ulangan dan segala tetek-bengeknya kugotong ke ruang Suster dengan tas besar. Kugelar semua di hadapan Suster. Semua unek-unek kami sampaikan. Mulai dari kasarnya Bu Guru, pola pendidikan yang tidak baik, sampai pola menjawab anak atas pertanyaan esai. Masa pertanyaan esai harus dijawab sesuai catatan?
Bagaimana Bu Guru membuat anak-anak takut menjawab karena setiap jawaban harus benar. Menjadi penting jawaban benar, bukan proses pemahaman. Anak jadi takut menjawab. Anak jadi takut dimarahi. Bu Guru membuat anak takut mengakui kesalahan maka anak jadi suka berbohong. Bu Guru tidak suka kalau kertasnya kotor, sementara kami melatih Si Sulung untuk tidak menggunakan penghapus.
Terakhir, kuberikan surat yang sudah kami buat. “Surat buat Bu Guru biar saya sampaikan,” kata Suster. Kami keluar ruangan. Penuh harap bahwa Bu Guru akan jauh lebih layak bersikap seperti seorang guru. Si Ayah ke kantor. Si Bungsu dan Si Sulung masuk kelas. Aku pulang.
Siangnya ketika menjemput, Si Sulung sudah lebih ceria. “Bu Guru udah gak marah-marah lagi.”
Ya syukurlah.
Tapi ini tidak berhenti sampai di sini. Kesabaran satu semester atas pola pendidikan di kelas yang ajaib tetap harus dimonitor ketat. Masih ada saja jawaban versi anak atas soal esai yang ajaib. Bahkan kutemukan jawaban Matematika yang benar tapi disalahkan. Kuberi catatan, kutempel di buku agendanya.
Bukan hanya itu, kabar ramainya Mikayla dan Ibunya versus Bu Guru sudah terdengar ke mana-mana. Makin maraklah bursa keluh-kesah orang tua atas pendidikan di kelas. Sulit untuk tidak melibatkan pihak sekolah secara umum. Dari banyaknya keluhan, jelas terlihat bahwa oknum guru ini keenakan semena-mena. Malah seorang Bapak bercerita bahwa ilmu Sarjana Tekniknya terpaksa diadu dengan Guru karena materi pengajaran yang ajaib.
Besok Si Sulung harus menghapal puisi ajaib. Puisi yang kalimatnya njelimet. Struktur kalimatnya tidak jelas. Bertele-tele. Jangankan anak-anak umur 6 tahun, aku yang sudah tua ini aja 10 kali membaca tak kunjung hapal. Terpaksa bertindak.
“Ibu penulis marah,” Si Ayah meledek.
“Ya, Ibu penulis marah karena terlalu konyol Bu Guru menilai jawaban anak!”
Puisi njelimet itu kuberi catatan. Puisi itu tidak sesuai pakem puisi, tidak berima apalagi dengan kalimat panjang dan bertele-tele menyulitkan untuk dihapal. Kuberi contoh puisi yang baik. Kutulis ulang puisi yang sama. Tiga kali membaca, Si Sulung hapal.
“Bilang Bu Guru. Ibuku penulis, wartawan dan editor. Kata Ibu, puisi harusnya tidak begitu. Puisi yang betul sudah ditulis Ibu di kertas puisi itu. Jadi Yla hapalin aja puisi yang Ibu tulis.” Kulihat binar di mata Si Sulung.
Sabar memang perlu. Tapi membuat anak jadi terkungkung dan tidak kreatif malah jadi penakut dan bodoh? Melawan sistem yang menahun memang susah. Mendingan gue pindahin aja sekolahnya kelas dua nanti deh! Anak suruh belajar, Guru gak belajar. Bu Guru, belajar dong!
Bersambung ke Bu Guru, Belajar Dong! (3).
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Pendidikan, Prihatin, Si Sulung
This entry was posted on Monday, January 25th, 2010 at 8:00 am and is filed under Bu Guru Belajar Dong! (2). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.





8:51 am on January 25th, 2010
trussss cerita puisinya gimana… ceritain yaaa ntarrrr hehehehe
9:25 am on January 25th, 2010
hahaha… kacau juga tuh Ibu Guru… G baca aja, jadi ikutan sewot… lanjutkan perjuangan, Lin! ;-p
9:28 am on January 25th, 2010
wah ditunggu tulisan tentang reaksi Bu Guru tentang baca puisinya
9:35 am on January 25th, 2010
laporan siang ini, buk!
9:40 am on January 25th, 2010
Bisa kubayangin kalo bu guru bakalan kagok lawan mamanya yla. Hidup Lini!!! Lanjutkan!!! (tanda serunya udah bener ga?)
9:54 am on January 25th, 2010
Lanjutkan…!!! Sekali kali emang guru2 yg nggak bener hrs diberi pelajaran….! Kalo udah bikin murid stress dan mogok sekolah kurasa semua ibu akan melakukan hal yg sama. I support you Lin…..^^
10:47 am on January 25th, 2010
hmm,…kekerasan mental yang lumayan berat buat si sulung. semoga tidak menjadi trauma irama,..eh,..trauma yang berlarut maksudnya. hehehehe,…
hayo, di lanjutkan mencari kebenaran jalan buat si sulung, dan sukur2 bisa membenarkan gurunya juga.hehehe,..aku mendukungmu jeng lini:D
11:20 am on January 25th, 2010
@ All: tengkiyuu.. tengkiyuu.. tadi pas brangkat sekolah sempet mogok lagi. “Pindah sekolah aja deh, Bu…” ntar kita cari duitnya dulu ya, Nak!
11:29 am on January 25th, 2010
[...] adalah surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru dalam artikel Bu Guru, Belajar Dong! (2). Surat ini sudah saya [...]
11:29 am on January 25th, 2010
Lin, terus terang gw jg kaget, ternyata selain ringan mulut si bu N jg ringan tangan. Berarti Shieldea juga pernah mengalami kejadian yang sama seperti Yla, makanya dia sempat ada acara nangis di awal TK B.
(((
Mudah2an, Suster kepala lebih tegas dalam menindak guru2 yg bertindak sewenang2 seperti Bu N dan Lao Shi F ya .. mungkin masih banyak guru2 lain, tapi belum boom …
Kasian sekali anak2 kita ya Lin menjadi murid di sekolah ST Cakung …
11:33 am on January 25th, 2010
@ Ida: syok? sammaa…!
kasian ya anak2 kita
12:35 pm on January 25th, 2010
Lin, kalau mau pindah sekolah kenapa ga coba homeschooling aja? Banyak juga ortu yg homeschooling karna ga puas dengan sekolah formal
12:44 pm on January 25th, 2010
Betul Ci!!Terkadang Guru pun perlu diberi pelajaran. Pengalamanku menjadi dosen Muda di UNTAR pun juga begitu. Mahasiswa cenderung lebih menyukai Dosen Muda “bukan karena wajahnya atau mudanya lho!” :p.
Tetapi karena Dosen Muda sekarang memiliki cara pandang dan pola pikir lebih terbuka dan realistis. Mereka lebih terbuka dan menghargai pendapat mahasiswa. Dibanding Dosen2 yg merasa lebih berpengalaman dan bersikap diktator.
Mereka menganggap diri mereka selalu benar. Walau tidak semua Dosen Tua seperti itu, hanya oknum saja.
Karena itu sekali-kali mereka perlu diberi pelajaran. Bagaimana generasi Muda kita punya mental yang baik, tidak korupsi, munafik dll, kalau dari kecil pola didik seperti ini. Lanjutkan!! Kami semua mendukung!hehe
O ya, ditunggu puisi nya yang tadi ya..huhuhu
1:30 pm on January 25th, 2010
muncul I di FB, ada intimidasi anak oleh guru, jadi penasaran…akhirnya muncul juga versi panjangnya…Lin, bacanya jadi ‘dredeg’ dari awal sampe akhir…
Ya, you’re her mother, pasti punya feeling mana yang terbaik buat Yla ( bener nih nulisnya ? )
1:37 pm on January 25th, 2010
kalo gitu emang kayaknya musti pindah sekolah deh, Lin…Siap2 deh, daripada kayak gitu terus….
Eniwei, Bu Guru bukan jaminan bisa selalu ditiru kalo begini caranya…Gak banget deh!
2:30 pm on January 25th, 2010
Wah, saya bisa bayangkan serunya, Bu Lini. Juga bisa bayangkan betapa stres-nya si Bu Guru. Tetapi semoga dia bisa belajar banyak dari pengalaman itu. Menjadi guru zaman sekarang tidak sama dengan menjadi guru ketika zaman dia menjadi murid. Banyak hal berbeda. Zaman dulu mungkin orang tua terima begitu saja apa pun yang dikatakan guru di sekolah. Sekarang tidak lagi. Selamat buat Bu Lini…
3:28 pm on January 25th, 2010
ayoo..pindahin aja Yla ke skolah laen!! ooppss.. jadi ikutan esmosi neh… :p
4:26 pm on January 25th, 2010
tengkiyuu all…
dilalah, yla hapal puisinya yang versi njelimet. luar biasa!
@ Lea: justru yla berangkat dari homeschooling dan mencoba normal dengan sekolah konvensional.
@ Ijoy: diajarin om Ijoy kayaknya bisa lebih pinter deh
@ Onlee: dredeg sambil emosi ya? hehehe
@ Max: guru sekarang lupa bahwa ortu murid sudah menggapai cita2 waktu SD dulu.
@ Felicia: lagi berburu sekolah n berburu ongkosnya hehehe
4:49 pm on January 25th, 2010
Ternyata masih banyak guru yang masih harus terus belajar bukannya mengejar ijazah agar gajinya setara/tinggi. Ngejar gaji tapi gak peduli akan perkembangan anak didik
4:49 pm on January 25th, 2010
Ternyata masih banyak guru yang masih harus terus belajar bukannya mengejar ijazah agar gajinya setara/tinggi. Ngejar gaji tapi gak peduli akan perkembangan anak didik
4:52 pm on January 25th, 2010
@ PX: ngenes ya, Mas?
7:05 pm on January 25th, 2010
Angkat beribu-ribu jempol buat Danny en Lini,kadang- kadang memang orang harus ketemu batunya dulu baru menyadari semuanya.
7:20 pm on January 25th, 2010
Ditunggu cerita lanjutannya Lin. G penasaran sama reaksi gurunya. Terus acara tes baca puisi itu gimana jadinya? Hehehe
9:07 pm on January 25th, 2010
@ Chandra: udah emosi, apa juga ditabrak, Chan
@ San San: saking takutnya yla sama gurunya, dihapalin juga itu puisi ajaib! hapal lagi! ya kelar lah jadinya…
6:00 pm on January 27th, 2010
Say, lagi ngomong ma suster, lo rekam gag ?
Gw cuma penasaran aja …… gemana elo ngomong ma suster, sembari esmosi, tapi kudu sopan … hahaha
Gw uda pernah denger lo ngomong dengan macem2 esmosi : marah, seneng, jatuh cinta, bete … tapi semua kan ngomongnya gag formal
Eniwei, I’m proud of you, Princesse ….. hak anak harus diperjuangkan!!
7:48 pm on January 27th, 2010
@ Intan: kan Dny yang ngomong, gue cuman penggembira hehehe… tengkiyu, Tan. lap yu pul!
5:45 pm on January 28th, 2010
[...] Lanjutan dari Bu Guru, Belajar Dong! (2). [...]