Bu Guru, Belajar Dong! (3)

Lanjutan dari Bu Guru, Belajar Dong! (2).

Setelah kasus main salon-salonan yang berakibat Si Sulung jadi sasaran Bu Guru dan membuat kami orang tuanya menghadap ke Suster Kepala SD, beberapa hari kemudian memang Bu Guru sedikit membaik sikapnya. Kami mengira Bu Guru sudah berubah. Ternyata tidak!

Dua hari lalu, Si Sulung pulang dengan uring-uringan seperti sebelumnya. Apa lagi nih? Dia cuma sesenggukan.

“Kenapa, Nak?”

Si Sulung masih terus menangis. “Susah bilangnya, Bu…” Saking emosinya, pasti susah untuk cerita. Lama sampai akhirnya dia mau cerita.

“Buku Yla dilempar Bu Guru. Bukunya jatuh. Sampai terbuka…” wajahnya sungguh kecewa. Aku langsung naik pitam. Guru ini habis ditegur kok malah main lempar-lemparan? Apa sih masalahnya? Sungguh bukan pendidik!

“Agenda Yla mana?” Kutulis di agendanya, “Mohon Pasal 54 UU No 23 Tahun 2002 sungguh dijalankan. Melempar buku sungguh bukan tindakan yang baik.”

Malamnya setelah Si Ayah pulang, kami kembali meminta Si Sulung cerita kejadiannya. “Lagi ulangan Mat, Yah. Terus Bu Guru ngomong kenceng banget sambil lempar buku Yla.”

“Apa katanya?” Si Ayah menahan emosi.

“Nih! Yla ngumpulin PR Mat-nya terlambat! Kenceng ngomongnya, Yah.”

“Lain kali, kalo Bu Guru kasar, Yla langsung keluar aja ke ruang Suster. Bilang sama Suster. Kalo Suster gak ada, diam-diam di situ sampai Suster datang.” Jelas sekali Si Ayah emosi.

“Tapi Yla takut keluar. Nanti dimarahin Bu Guru…” Mungkin terbayang wajah Bu Gurunya yang memang tidak bersahabat.

“Bu Guru itu salah. Bu Guru melanggar aturan yang dibikin Presiden. Ada Undang-undangnya. Nanti Yla baca ya. Jadi Yla jangan takut.” Lalu kutunjukkan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Nih, ada tulisan apa?”

“Presiden Republik Indonesia.”

Kutunjukkan Pasal 54. Si Sulung membacanya pelan-pelan. Kutunjukkan di bagian bawah dokumen itu.

“Ini tulisannya apa?”

“TTD Presiden Republik Indonesia. TTD apaan sih, Bu?”

“TTD itu tertanda. Sama dengan tanda tangan. Jadi yang bilang Bu Guru gak boleh kasar bukan Ibu atau Ayah, tapi Presiden. Ingat ya? Masih takut?”

“Yla kok kayak benci Bu Guru ya? Pindah sekolah aja deh, Bu.” Dalam konteks emosi benci, seharusnya diungkapkan dengan berapi-api. Ini malah dengan lembut.

Kukatakan pada Si Ayah, “Baik banget anak kita. Udah dijahatin begitu bilangnya cuma “kayak”, lembut gitu lagi.” Aku gak habis pikir. Apa sudah habis emosi marahnya?

Kusurati lagi Suster Kepala SD.

“Mohon maaf, kami mengganggu lagi. Mohon penyelidikannya atas pelemparan buku PR Mat Mikayla sambil membentak di kelas 1B Selasa siang saat ulangan Mat tanpa alasan jelas. Tindakan ini dilakukan di muka kelas di depan seluruh murid. Tindakan represif yang dilakukan saat ulangan tentu mengganggu konsentrasi murid yang sedang mengerjakan. Saya sendiri sedang mengkonfirmasi pada anak-anak lain yang seharusnya juga melihat. Kami menduga bahwa BU Guru tidak terima atas beberapa koreksi saya pada puisi yang harus dihapalkan dan PR Mat yang gambarnya tidak jelas. Kami kecewa bahwa sikap Bu Guru membaik hanya beberapa hari saja. Saat ini, Mikayla sedang kami bujuk karena sudah frustasi dan minta pindah sekolah secepatnya. Sejak kami menghadap Suster, Mikayla memang tidak menangis lagi dan lebih ceria, tapi justru merasa benci pada Bu Guru atas sikap-sikapnya. Kami sangat memohon pengertian Suster. Terima kasih.”

Kemarin pagi, balasan Suster Kepala SD datang.

Selamat pagi, Bu Lini,

Salam, tks untuk infonya, saya sangat berterima kasih bahwa Ibu sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Wali murid seperti Ibu yang sungguh kami perlukan. Terkait dengan masalahnya Ila, saya baru saja rapat dengan guru kelas I, mencari solusi terbaik untuk Ila, karena dia trauma dengan gurnya, mungkin hal ini sudah sejak waktu di TK, ( sejauh saya menangkap dari surat), maka jalan terbaik yang kami tempuh adalah memindahkan Ila ke kelas I A dengan wali kelas Ibu S, agar tidak bertemu dengan Bu Guru terlebih dahulu, sementara itu, saya sudah memanggil Bu Guru secara pribadi untuk kami bina, semoga sesudah peristiwa ini ada perubahan. Apakah Ibu Lini setuju dengan langkah yang saya ambil ? Tentu semua demi perkembangan dan kebaikan kita semua. Tks. Salam dan Berkat Tuhan.”

Segera kubalas.

“Selamat pagi juga Suster Kepala SD yang baik,

Untuk sementara, saya rasa ini adalah solusi terbaik sambil saya membujuk Yla untuk tidak pindah sekolah. Nanti akan saya sampaikan pada Yla. Di kolom CC ada Ayahnya Yla. Berkah dalem full.”

Kupanggil Si Sulung yang pagi itu memang merajuk lagi malas sekolah.

“La, itu ada surat dari Suster. Baca deh.” Si Sulung menghampiri meja komputer. Dibacanya dengan seksama.

“Yla pindah ke kelas 1A sama Bu S. Mau?”

“Kelas 1A ada siapa, Bu?”

“Ada Alvaro, ada Shieldea, ada siapa lagi ya? Rendy?”

“Asyiikk…!!  Mau! Mau!”

“Mandi ya? Berangkat sekolah ya?”

“Ya!” Si Sulung langsung menghambur ke kamar mandi.

Pagi itu juga, Si Sulung dipindahkan ke kelas 1A. Bubar sekolah, kulihat temannya bersorak ke Mamanya yang berada di sebelahku, “Mama! Yla pindah ke kelasku!”

Di belakangnya, Si Sulung riang sekali. “Bu, Yla tadi pindah ke kelas 1A!”

Ibu di sebelahku itu berbisik, “Sudah ceria lagi tuh. Syukurlah.”

Kejadian pindah kelas itu tentu memancing perhatian. Beberapa Ibu bertanya, “Yla pindah kelas? Kenapa?”

“Panjang lah ceritanya. Pokoknya syukur kalau sudah pindah.” Aku tersenyum penuh arti.

“Pokoknya penuh perjuangan deh!” Kata Ibu di sebelahku. Beberapa orang itu tampak bingung. Biar aja, nanti juga tahu ceritanya.

Seorang Ibu lain menghampiriku. “Lin, kok sampe Guru TK pada heboh Yla pindah kelas?”

“Oh ya?”

“Lu cerita ya?”

“Gue cerita sama Bu Guru TK B dulu. Dia prihatin sama Yla. Gue juga cerita sama Suster Kepala TK. Gue kan butuh konfirmasi apa si Bu Guru itu sejak ngajar di TK memang antik?”

“Rame lho Guru-guru TK.”

“Ya bagus lah. Biar semua orang tahu kalo Bu Guru bukan pendidik yang baik.”

“Yla jadi pindah sekolah?”

“Jadi.”

“Kapan?”

“Ntar kelas 2.”

“Ke mana?”

“Sekolah Indigo di Kelapa Gading ato balik ke homeschooling. Pindah sekolah konvensional lain cuman mindahin masalah. Ntar ketemu yang gitu lagi. Udah ya, gue balik dulu. Daahh…”

Sambil jalan menuju mobil, Si Sulung bertanya dengan semangat, “Bu, nanti belajar pakai majalah Kuark lagi ya! Jangan lupa kalo Ayah udah gajian bayar pendaftaran Olimpiade Robotics!”

“Hari ini belajar apa? Astronomi? Fisika?”

“Belajar senter hemat energi!”

“Siap, Bu!”

Kami meluncur pulang ke rumah sambil aku berjuang mengingat cara kerja baterai. Duh, anak A3 (IPS) kudu ngingat cara kerja baterai. Sosiologi-Antropologi aja lupa. Katoda, anoda… Nanya Si Ayah aja ah yang anak A1 (Fisika)!

Menyiapkan homeschooling buat tahun ajaran 2010-2011.



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , ,

This entry was posted on Thursday, January 28th, 2010 at 5:45 pm and is filed under Bu Guru Belajar Dong! (3). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

17 Responses to “Bu Guru, Belajar Dong! (3)”

  1. Olyvia
    6:52 pm on January 28th, 2010

    Kapok d bu guru…hehehe
    Tp sebaiknya jgn dihomeschooling dl lin, kan skrg yla uda happy k skolah. lagian kl di skul banyak teman banyak cerita :)

  2. the De.N.eL.s
    7:03 pm on January 28th, 2010

    @ Olyv: sedang dirancang kegiatan luar rumah biar dia ga bosen, Lyv. dia yang minta kok karna duluu… sempat homeschooling dan dia seneng :D

  3. fekhi
    7:59 pm on January 28th, 2010

    selamat menata kehidupan yang lebih baik :D

  4. the De.N.eL.s
    8:08 pm on January 28th, 2010

    @ Femi: makasi tante :D

  5. Rani Irmina
    8:15 pm on January 28th, 2010

    K’Lini, glad to read that :)

    Hehe…
    Hope the best buat Yla + K’Lini skeluarga ya ^^

  6. the De.N.eL.s
    8:18 pm on January 28th, 2010

    @ Rani: makasih Tante Rani :D

  7. felicia yin
    10:20 pm on January 28th, 2010

    Good deh… kasi yang terbaik buat Yla… :)

  8. the De.N.eL.s
    10:53 pm on January 28th, 2010

    @ Felicia: tengkiyu Tante :D

  9. alphi
    11:05 pm on January 28th, 2010

    glad to hear.
    tuh bu guru kalo masih macem-macem panggil gw aja, tar gw yang ngadepin..he..he….

  10. angela onlee (onlee)
    1:03 am on January 29th, 2010

    Baca ini..’dredeg’ lagi, Lin. Mudah-mudahan yang ini ‘happy ending’ deh, kalo diterusin bisa ada yang ke-5, ke-6..Lin.
    Lin, ditunggu cerita ‘homeschooling buat yla’ ya…

  11. Ronny
    6:13 am on January 29th, 2010

    perjuangan membela anak memang yak pernah kunjung usai…….maju terus mbak….

  12. the De.N.eL.s
    8:35 am on January 29th, 2010

    @ Alphi: ga perlu Om. kata Ayah, Ibu kalo udah marah setan aja takut ;-)
    @ OnLee: siaapp… ntar ada diary-nya homeschooling deh. tengkiyu yaa :D
    @ Ronny: tengkiyuu yaa..

  13. San San
    11:11 am on January 29th, 2010

    Syukur deh kalo Yla udah dipindahin kelasnya. Lebih bagus lagi kalo gurunya beneran ditindak dan disiplinkan, biar nyaho! Tapi g juga setuju mendingan dipindahin aja sekolahnya, Lin. Kalo home schooling itu persisnya kaya apa sih? Soalnya sempet kepikiran juga sih buat Lucky. Tapi kalo hoe schooling nya Kak Seto tuh khusus buat anak autis katanya yah Lin? Terus kalo indigo tuh apa sih Lin? Hehehe jadi malah nanya-nanya nih…

  14. the De.N.eL.s
    2:25 pm on January 29th, 2010

    @ San San: tengkiyu Tante San San. homeschooling itu sekolahnya di rumah. bukan karena anak autis, tapi justru buat anak yang kelewat cerdas dan ga mampu diimbangi guru2 konvensional. Lucky itu kliatannya indigo, karena dia nyeleneh dan suka ga mau yang konvensional ya? coba buka http://homeschoolingkaksetobandung.com

  15. online
    4:57 pm on February 22nd, 2010

    sangat menarik, terima kasih

  16. the De.N.eL.s
    12:33 pm on February 24th, 2010

    kembali kasih :)

  17. Bu Guru, Belajar Dong! (2)
    10:31 am on June 2nd, 2010

    [...] Bersambung ke Bu Guru, Belajar Dong! (3) [...]

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>