Drama Lain dari Sebuah Kompetisi

Jakarta Junior Robotics Competition 2010
Robotics Education Center (REC)

Setelah latihan keras selama dua bulan dan super intensif selama dua minggu, akhirnya tiba juga waktunya. Ajang kompetisi terbesar yang pernah diikuti Si Sulung dan Si Bungsu, apalagi cakupannya nasional (ada peserta dari Pekanbaru juga lho!). Sejak anak-anak menjadi outschooler (terdaftar di sekolah konvensional tapi mengikuti program homeschooling), ajang ini menjadi sangat penting. Ini akan masuk ke “rapor” berbentuk jurnal mereka. Deg-degan, pasrah, gugup, panik, semua jadi satu.

Gavryel Griffin Denel dengan nomor peserta 67 terdaftar dalam kategori Mozaic 1D (usia 4-5 tahun) bersaing dengan 16 peserta.

Mikayla Karissa Denel dengan nomor peserta 120 terdaftar dalam kategori Mozaic 3D (usia 6-7 tahun) bersaing dengan 23 peserta.

Ada lagi kategori juara favorit berdasarkan polling SMS yang dikirimkan dengan hadiah ponsel.

Model yang akan dibuat kedua anakku adalah “truk sampah plastik dengan solar panel”. Ceritanya, truk ini siap membawa sampah plastik yang sudah berbentuk kotak untuk dibawa ke tempat daur ulang. Mungkin aku ibu yang super cerewet karena ingin mereka paham betul apa yang akan dibuat. Kegugupan di arena nanti pasti cukup mengganggu konsentrasi. Mengatasinya? Biar Tuhan yang bekerja.

Here we go….

Hari Pertama: Pemanasan

Jumat, 9 April 2010.

Bangun tidur, hal pertama yang kurasakan adalah pasrah. Aku tidak bisa membantu mereka di medan perang. Aku minta anak-anak untuk ditemani dan dibantu Tuhan. Keduanya sempat gugup waktu latihan pagi di rumah. Akhirnya kami berdoa bersama, Tuhan pasti kasih yang terbaik.

Anak-anak “bolos” sekolah. Ini masalah prioritas aja. Jadwal hari ini adalah workshop dan technical meeting. Sejak jam 14.30, kami sudah tiba di Emporium Pluit. Tunggu punya tunggu, ternyata workshop dibatalkan. Tidak sia-sia, anak-anak punya cukup waktu untuk mengenal medan perang mereka besoknya.

Jam 17.00 technical meeting dimulai. Panitia beranggapan bahwa kategori Mozaic 1D dan 3D tidak banyak aturan maka tidak dijelaskan pada saat itu. Okelah.

Malamnya, berulang kali kuwanti-wanti, “Gugup boleh, takut boleh. Minta temani Tuhan, makan permen. Yang gak boleh itu nangis dan putus asa. Pelan-pelan, gak usah buru-buru. Yang lain sudah selesai biar aja. Ibu yakin kamu bisa!”

Mereka tidur dengan senyum. Aku? Tidur dengan gelisah….

Hari Kedua: Perjuangan Mozaic 1D

Sabtu, 10 April 2010.

Pagi-pagi, kedua anakku mendadak semangat sekali. Jauh berbeda dibandingkan bangun pagi dan pergi ke sekolah. Sejak perancangan model awal, tidak banyak perubahan. Hanya perubahan warna, detil ban, dan solar panel. Si Bungsu memang lebih cerdik dari kakaknya. Aku dan Si Ayah cukup pede dengan urusan ini. Dia pasti bisa!

Satu set bricks LEGO dibawa serta. Dalam perjalanan, boro-boro mau latihan, malah keduanya tertidur pulas! Capek lah pastinya.

Tiba di lokasi, aku sangat terlihat panik. Om Andri dan Tante Joice pemilik REC Harapan Indah (REC HI) sempat menggodaku, “Dari semua ajang lomba, dari dulu, selalu yang stres itu orang tuanya….” Biarpun sejak awal aku cengangas-cengenges, ternyata tidak cukup menutupi label “panic attack” di jidat ini.

Tim REC HI menerjunkan 11 peserta, mendominasi seluruh peserta kategori Mozaic 1D. setelah daftar ulang, semua peserta berkumpul bersama Kak Wisnu sebagai kepala trainer. Anak-anak diberi semangat. Kak Wisnu tidak kalah paniknya sampai-sampai lupa mengajak berdoa.

“Kak Wisnu, doa dulu, dong!” terpaksa aku nyeletuk dari belakang.

Anak-anak berdoa, berfoto bersama, lalu berbaris memasuki arena. The drama begins….

Menyaksikan 16 peserta cilik itu memasuki arena dan naik ke atas panggung memberi emosi tersendiri. Seluruh peserta berfoto. Kemudian, satu per satu dipanggil untuk duduk di area masing-masing. Si Bungsu mendapat tempat yang cukup jauh dari tempat penonton. Sulit untuk memberi “arahan” dan semangat. Ya sudah, kepasrahan ini memang harus total.

Pengarahan diberikan on the spot. Bagi anak-anak berusia 4-5 tahun, tentu ini cukup membingungkan. Pertanyaan seperti “apakah boleh mengambil bricks yang kurang” cukup jadi masalah.

Waktunya ambil bricks. Seluruh peserta mengambil bricks dari tong-tong yang sudah disiapkan menggunakan “gayung”. Seluruh bricks dituang ke area peserta masing-masing.

1, 2, 3, mulai!

Para peserta mulai menyusun bricks. Langkah awal Si Bungsu cukup meyakinkan. Pelan tapi pasti. Kebetulan, anak di sebelahnya sangat heboh menyusun bricks. Berbagai gaya dilakukan: jongkok, nungging, macem-macem deh! Komplit lah sudah, aku makin sulit mengamati perjalanan perjuangan Si Bungsu. Aku hanya bisa mondar-mandir gak karuan. Mencari tempat yang baik untuk mengamati. Naik ke lantai atas, turun lagi ke bawah. Tidak ada satu tempat pun yang cukup baik untuk mengamati. Si Bungsu sangat percaya diri.

Waktu sudah berlalu 1 jam lebih dari yang disediakan selama 2 jam. Kulihat Si Bungsu mulai celingak-celinguk, sepertinya ia sudah selesai. Truk dengan solar panel­-nya dihiasi matahari, awan dan jalan. Seorang juri menghampiri, mereka bercakap-cakap sejenak. Si Bungsu keluar arena, juri itu membawa karya Si Bungsu ke panggung.

Aku dan Si Ayah tak terkira gegap gempitanya. Bangga, haru, lega, semua campur aduk.

“Tadi ditanya apa sama kakak juri?” Si Ayah antusias betul.

“Vyel cerita, ini truk sampah plastik.”

Solar panel-nya diceritain gak?” aku ikut gak sabar.

“Lupa….”

Ya sudah, tinggal menunggu hasilnya.

Makin gak sabar menunggu hasil penjurian. Begitu pembawa acara naik ke atas panggung, kami makin deg-degan. Para peserta diminta naik untuk berfoto bersama karyanya. Begitu dibacakan juara ketiga, Si Ayah yang melihat ke layar tempat ditayangkannya seluruh nilai peserta langsung bersorak, “5 point! Vyel cuma 5 point di bawah Ken!!” Ken adalah teman sekelasnya di REC HI. Nilai Si Bungsu 1300, nilai Ken 1305! Nyaris!!

Kami sempat memberi dukungan bagi tim REC Harapan Indah kategori Beginner yang merancang robot untuk membawa pot bunga. Rendy, seorang teman sekelas Si Sulung di sekolah ikut serta. Seharusnya Si Sulung turun di kategori Beginner bareng Rendy. Sayang, resource set seharga 1,5 juta yang harus disediakan peserta tidak mampu kami beli. Tidak sampai selesai, perjuangan besok masih panjang. Si Sulung masih perlu memantapkan truk sampahnya. Kami pulang.

“Tadi ada kamera, dari tivi mana ya?” aku bersiap mencari saluran berita di tivi sesampai di rumah.

“SCTV sama RCTI,” Si Ayah masih antusias.

Takut ketinggalan, aku bergegas mandi.

Tiba-tiba….

“Bu! Bu! Nih JJRC di tivi!!” aku yang basah dari ujung rambut sampai ujung kaki spontan menyambar handuk dan keluar.

“Mana? Mana?”

Liputan itu kami simak dengan seksama (tapi tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya). Seorang panitia dan seorang peserta diwawancara. Tiba pada gambar karya para peserta….

“Itu dia!! Itu punya Vyel!!” Si Bungsu jingkrak-jingkrak sambil berteriak nyaring.

“Itu juara 4!!” aku ikut berteriak.

Norak? Terserah. Rasa bangga bahwa karya anakku ditayangkan di tivi jauh mengalahkan apapun!

Usai tayangan, aku melanjutkan kegiatan: mandi! Tempatku berdiri ternyata sudah becek.

Malamnya, aku dan Si Sulung mengutak-atik, menjelaskan kembali, memantapkan modifikasi pintu, jendela dan solar panel.

“Yakin Yla bisa?”

“Yakin!” mantap betul bicaranya.

Kami pergi tidur dengan harapan baru. Biarpun gak dapat piala, kami berempat bersorak-sorai. Terima kasih, Tuhan. Perjuangan hari ini luar biasa!

Hari Ketiga: Perjuangan 3D

Minggu, 11 April 2010.

Aku kembali bangun cukup pagi saat semua masih tidur. Menyalakan komputer, membuat model truk dengan piranti lunak yang disediakan LEGO.com. Mencetaknya. Meminta Si Sulung untuk mengamati dan memahami model yang harus dibuatnya.

Seperti hari sebelumnya, satu set bricks LEGO dibawa serta. Dan, seperti hari sebelumnya, keduanya terlelap di perjalanan. Bricks LEGO tak tersentuh.

Tiba di lokasi. Hari ini aku lebih gugup lagi. Si Sulung lebih tekun tapi mudah stres dan tidak secerdik adiknya. Model yang dibuatnya pasti paling rumit dari semua peserta. Aku cukup maklum.

“Yla, gak harus juara. Truk Yla paling rumit dari semua peserta. Yang penting selesai, gak nangis dan gak putus asa. Ya? Ambil bricks-nya sedikit-sedikit dulu kalau kurang tambah lagi. Cari hijau tua dan hijau muda yang banyak.” Si Sulung hanya manggut-manggut. Mungkin saja isi kepalanya penuh dan gugup yang berusaha disembunyikannya.

Tim REC HI hanya menerjunkan satu peserta: Mikayla! Keempat trainer sudah menunggu. Daftar ulang. Kami berfoto. Seluruh peserta berbaris, bersiap memasuki arena. Melihat peserta memasuki arena dan kembali berfoto di panggung, panikku luntur sedikit. Si Sulung sumringah betul di atas sana.

Para peserta kembali dipanggil satu per satu untuk menempati area masing-masing. Si Sulung kebagian tempat di belakang dan cukup dekat denganku.

Waktunya ambil bricks. Aku kepanikan yang tadi luntur meningkat cukup tajam. Bricks hijau sedikit sekali yang didapatnya. Sampai waktu habis, tidak cukup bricks hijau. Gawat!

1, 2, 3, mulai!

Langkah awal Si Sulung tidak cukup meyakinkan. Berulang kali aku buang muka agar tidak terlihatnya. Si Sulung mulai menghitung dan menyusun.

Kak Wisnu menghampiri, “Yla bisa kok, itu udah jadi dasarnya.” Aku mengintip. Ah ya, dasarnya betul, harusnya tidak ada masalah.

Si Ayah diam-diam lebih panik dari aku. “Cari tempat ngopi, yuk! Stres aku di sini….” Akhirnya kami cari tempat ngopi terdekat supaya bisa gantian bolak-balik kembali ke pinggir arena. Aku pamit pada para trainer.

Si Ayah yang duluan kembali ke pinggir arena. Begitu kembali, wajahnya tidak lebih cerah. “Yla diajak ngomong malah merengut!” Duh, gawat! Sudah sampai mana nih truknya? Gantian aku yang ngintip. Kulihat Si Sulung memandang-mandangi truknya yang baru seperempat jadi. Kap mesinnya masih bolong. Waktu sudaherlalu 45 menit. Kuberi arahan agar kap mesinnya diisi. Kembali wajah merengutnya yang muncul. Aku lemas. Rasanya hampir menangis. Aku bergegas kembali ke kedai kopi.

Begitu terus, berkali-kali kami gantian menengok Si Sulung. Waktu berjalan terus, tidak banyak kemajuan berarti.

Sudah 1 jam.

Si Sulung masih fokus ke bagian depat truk. Kulihat dia malah membalikkan truknya, memandangi bagian bawah. Duuhh… ada apa di bawah situ, Nak?

“Yla, depannya aja! Belakang gak usah!”

Kulihat dia manggut-manggut entah mudheng atau tidak.

Waktu sudah hampir 1,5 jam, sisa 30 menit lagi. Bak sampah truk mulai setengah jadi, kap mesin sudah beres, pintu berengsel yang rumit dan kaca spion juga sudah jadi. Pintu adalah bagian yang paling rumit. Tinggal menutup kap tempat penumpang dan menyelesaikan bak dengan solar panel-nya. Ini adalah momen yang krusial. Dilematis antara harus mendampingi tapi tidak kuat untuk melihat.

Si Sulung membuat kap tempat penumpang. Jadi! Tinggal memasangnya. Dia sibuk bolak-balik memasangnya dan kembali copot. Pasti bikin frustasi! Kuamati apa yang salah, kenapa tidak bisa dipasang. Dindingnya!

“Yla, pasang dindingnya!” Dia yang sudah frustasi pasti jengkel diteriaki dari pinggir arena. Dinding penyangga kap itu kurang, makanya tidak bisa dipasang.

“Yla, dindingnya!” Makin jengkel dia. Sudah susah, diteriaki terus!

Dari kejauhan kulihat Kak Wisnu yang gantian geregetan. Tante Joice sempat meledek, “Kayaknya Lini kalo bisa ikut masuk pasti masuk nih.”

“Geregetan! Bisa rubuh nih penyangga batas penonton.” Wajahku pasti tidak karuan.

Waktu bergulir terus. Kurang 15 menit. Sama sekali tidak ada kemajuan. Semua makin panik. Tidak hanya kami, juga orang tua yang lain. Truknya belum jadi! Kak Wisnu makin lama makin mendekat ke posisi Si Sulung. Entah apa yang diarahkannya. Aku gemetar, berjuang untuk terus berdiri di situ.

Tuhan, jadilah kehendak-Mu… beri kami keajaiban….

Waktu seakan berlari. 5 menit… 4 menit… 3 menit… 2 menit… 1 menit…. Sama sekali tidak terpasang kapnya. Padahal, jika itu terpasang, bisa dianggap sudah selesai. Lupakan solar panel!!

“Lima, empat, tiga, dua, satu. Habis!!” begitu pembawa acara berteriak, Si Sulung menangis di tempatnya. Seluruh tubuhku terasa ringan. Tak tahan mata ini becek juga. Kecewa, sakit, sedih, marah, sudah tak terkira lagi rasanya. Toh, truk-tak-selesai itu harus diserahkan juga bersama dengan 3 karya lainnya yang juga tak kalah tak-berbentuk.

Tidak perlu menunggu pengumuman. Aku sibuk menenangkan Si Sulung yang kecewa berat… dan aku sendiri! Itu yang terbaik menurut-Nya. Keyakinan dan logikaku ngotot-ngototan. Dua jam itu dramatis sekali. Semua emosional. Satu-satunya peserta dari REC HI tentu membuat Si Sulung memikul beban berat.

“Yla gak selesai gak apa-apa. Punya Yla memang paling rumit. Coba lihat yang lain, modelnya sederhana. Apalagi anak lain yang gak selesai cuma bikin bak doang. Entah bak apa itu. Kalau tadi Yla bisa selesaikan kap depannya, pasti juara 1….” aku menghibur dirinya… dan diriku, lagi!

Tiba waktunya pengumuman. Juaranya adalah model yang ukurannya kecil. Aku gemas. “Katanya, ukurannya min. 10x10x10 cm! Itu kok kecil banget! Mana sampai 10cm??” Buat apa protes, toh Si Sulung tidak selesai juga. Seandainya bagian depan truk selesai dengan bak yang ala kadarnya, tentu juara itu aku protes keras! Tidak taat asas kualifikasi.

“Tadi ada orang Cibubur tanya, ‘Itu anak Mechanic (level Mechanical Engineering) ya? Kok dari tadi ngitung terus?’ Saya bilang, dia emang anak ME tapi ikutnya di 3D.” Hm… pantas lah. Peserta lain asal pasang, tidak diikat, copot satu ya copot semua. Sesuai dugaan, truk Si Sulung adalah model paling rumit. Seandainya selesai, tidak mungkin tidak juara 1. Tingkat kesulitan rumit dan detil yang banyak harusnya punya poin paling tinggi. Itu cukup menghibur.

Usai pengumuman, Om Andri-Tante Joice ngajak makan beserta keempat trainer. “Kita cabang baru 6 bulan, belum punya murid kelas Junior apalagi Senior. Pak Yudi (pemilik REC pusat) kagum sama kita,” urai Kak Wisnu. Tetap saja kekecewaan karena Si Sulung kurang teliti hingga truknya tidak selesai membuatku geregetan luar biasa.

Kami pulang, dengan syukur yang tak terhingga dengan harapan yang lebih baik lain kali. Tahun depan ikut lagi, Si Sulung pasti ikut kategori Junior, bukan lagi Beginner. Si Bungsu mungkin saja ikut kategori Beginner, bukan 3D. Semoga Juni nanti, Si Sulung bisa ikut Indonesian Robotics Olympiad (IRO).

Kadang sulit sulit menerima kenyataan bahwa yang menang “tidak sebanding”. Yah, namanya juga ikut lomba. Toh, pemenang polling SMS terbanyak juga tidak selesai mengerjakan. Drama lain dari sebuah kompetisi.

Terima kasih sudah menemani dan membantu mereka, Tuhan…. Tak terhingga rasa syukur ini sampai tak cukup kata menggambarkannya. Engkau lebih tahu apa yang kami butuhkan dan rasakan.

Terima kasih buat Andri-Joice yang sudah mendukung anak-anak REC HI. Maaf belum bisa nyumbang piala.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , , ,

This entry was posted on Wednesday, April 14th, 2010 at 11:43 am and is filed under Drama dari Sebuah Kompetisi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

16 Responses to “Drama Lain dari Sebuah Kompetisi”

  1. andri cahyadi
    4:56 pm on April 14th, 2010

    Terimakasih atas perjuangannya…Yla, Vyel dan yg pasti orang tuanya…;-)
    Juara yang sebenarnya adalah yang bisa mengalahkan rasa takutnya dan tidak pernah meyerah dalam berkarya dan bekerja….bukan dari berapa banyak piala yang di dapat.
    Yla and Vyel…you’re the champion !!
    bakat dan minat sudah terlihat yah Lini…monitoring lebih intensif lagi agar minat bisa terasah utk mengembangkan bakatnya

    GBU all

  2. the De.N.eL.s
    5:10 pm on April 14th, 2010

    @ Andri: siap Om…!! udah yakin tuh, mau ikutan IRO 2010 (porsi sekolah konvensionalnya mulai “tersingkir” wkwkwk)

  3. Olyvia
    6:43 pm on April 14th, 2010

    Yla hebattttt….
    Yvel juga hebatttt…
    Slamat yaaa….

  4. the De.N.eL.s
    7:03 pm on April 14th, 2010

    @ Olyvia: makasi tante Olyyyppp… :D

  5. Kak Edy
    11:10 pm on April 14th, 2010

    Wah…. ternyata begitu berat perjuangannya,,,, btw, thanks a lot udah berpartisipasi utk JJRC kali ini. di tunggu utk tahun depan. salam semangat dari Kak Edy. panitia yg nongol di tv. hehehehe….. narsis.

  6. fekhi
    11:19 pm on April 14th, 2010

    semua kerennnn!
    mungkin karena pertama kali masih kebat-kebit, moga2 di kompetisi selanjutanya tambah wahid!

  7. the De.N.eL.s
    4:47 pm on April 15th, 2010

    @ Kak Edy: hohohooo… ya ya dirimu masuk tipi wkwkwk… pasti dong tahun depan ikut lagi. Yla malah semangat pingin ikut IRO ;-)

    @ Femi: makasi Tanteee… :D

  8. pam
    11:30 am on April 19th, 2010

    Kerennn. Yang ikut lomba keren. Yang jadi supporter, keren juga. Yang menceritakan di sini keren banget. Aku serasa ikut kebat-kebit menunggu atapnya dipasang.

    Wuiiih. Benar-benar keularga huebat. Setidaknya aku merasa bangga karena boleh mengenal Lini dan keluarga.

    Salam dari Cibinong.

  9. the De.N.eL.s
    12:16 pm on April 19th, 2010

    @ Pam: makasih Om hehehe… salam dari Bekasi

  10. “Toilet!”
    4:36 pm on April 19th, 2010

    [...] kami sedang mengikuti Jakarta Junior Robotics Competition (JJRC) 2010, Si Bungsu ingin buang air [...]

  11. bosco
    6:43 pm on April 22nd, 2010

    salut. jd ikutanterbawa suasana dan ketegangan Bu Lini nemani anak-2 lomba robotics. tergoda tambahkan ini, jangan sampai campur adukkan mental juara dg keharusan jd juara, krn kadang event-2 tertantu sudah ada ‘setup’ tersendiri. cita mama, Dulu murid lesku sempat ngambek belajar bhs inggris lg krn kalah kompetisi, pdhal piala di bbrp event jelas-2 hanya jual beli. Salut untuk taent putra-putri ibu.

  12. the De.N.eL.s
    6:57 pm on April 22nd, 2010

    @ Bosco: matur tengkiyu sangeet.. :D
    itu dia, label juara dan piala emang “cuma” predikat
    membentuk mental juaranya yang penuh tantangan :)

  13. Rachmat Budi M
    7:58 pm on April 22nd, 2010

    Yla dan Vyel hebaaaattt ! mereka anak2 yg mempunyai tnggung jwb tinggi, sdh berusaha sejak dari persiapan lomba hingga berakhirnya lomba, menang dan kalah menjadi tdk penting bila seorang anak telah secara total menunjukkan kemandiriannya, usaha kerasnya dan keberaniannya berkompetisi. Tdak ada yang mengecewakan bagi Yla dan Vyel, yang ada: mereka MEMBANGGAKAN ! Mereka “Atlit” sejati !
    Sukses selalu Yla dan Vyel, …kalian sdh JUARA, Bravo!

  14. the De.N.eL.s
    8:04 pm on April 22nd, 2010

    @ Rachmat: makasih Om :D muach muach

  15. jarotwisnu aloysius
    6:57 pm on April 27th, 2010

    ha…ha..ha…tulisannya descriptif yang penuh emosi. ada nyawanya. hebat……

  16. the De.N.eL.s
    7:03 pm on April 27th, 2010

    @ Wisnu: matur tengkiyu kak :D

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>