Hormat… G’rak!!

Sejak jadi homeschooler, ini adalah tahun pertama kami dengan suasana tanpa-upacara-di-sekolah. Apalagi karena momen ini jatuh di bulan puasa, alhasil di rumahku tidak ada kegiatan apapun. Si Sulung masih lumayan pernah ikut acara 17-an 3 kali, sementara Si Bungsu baru pertama kali ikut tahun lalu.

Pagi-pagi, menikmati upacara dari tivi. Seorang sahabat mampir ke rumah sembari menunggu anaknya yang upacara di sekolah dan bertanya, “Anak homeschooling ga upacara dong?” Pesan yang sama kuterima dari sahabat lain lewat surel. Hm… otakku gatal pingin bikin sesuatu. “Ilmu” mekanikku dan Si Ayah minim banget. Belum paham “ngelotok” soal teori seputar gear dan sebagainya. Yang penting semangat dulu! Kupandangi science set yang menanti dengan sabar untuk dirakit. Bikin apa ya…?

Aha! Bikin tiang bendera dong! Benderanya nanti dikibarkan di situ. Gak apa-apa pakai tuas. Target proyek kan benderanya harus bisa berkibar di situ. Sip! Yuk kita bagi tugas. Teamwork…!

Mulai deh set dibuka. Contek sana-sini. Kalau di tempat les Robotics-nya anak-anak, pengerjaan ini disebut “challenges”, membuat model tertentu tanpa bantuan apapun. Silakan nyontek sendiri. Mari kita buka constructpedia! Hehehe…

Tiang sudah jadi. Bikin dudukannya gimana?

Dudukan sudah jadi, pakai gear yang mana biar naiknya lambat?

Empat gear sudah tersusun, naro motornya di mana?

Motor sudah dipasang, tinggal ngibarin bendera. Horeee…!!

Tapi…

Lho, kok kusut talinya? Whoaa…!!

Susaaahhh…!!

Setelah lebih dari tiga jam berkutat, akhirnya berhasil juga. Bendera bisa dikibarkan perlahan. Kasi lagu latar Indonesia Raya-nya Twilite Orchestra. Mmm… merinding!

17 Agustus, ritual upacara yang selalu dilakukan—entah bermakna atau tidak. Merah-putih bisa berkibar di mana saja: di dasar laut, di puncak gunung, termasuk di atas sebentuk “mainan”. Yang terpenting, di dalam hati semua orang yang mengaku berwarga negara Indonesia.

Terutama bagi seluruh anak Indonesia, hari kemerdekaan bukan semata soal upacara di sekolah. Apakah mereka sudah sungguh merdeka dengan budayanya, bahasanya, idenya, kreatifitasnya, dan pendidikannya? Aku tidak yakin.

Yang aku yakin, semua berawal dari yang kecil. Semua berawal dari keluargaku. Semoga Si Sulung dan Si Bungsu bukan hanya mengibarkan merah-putih seandainya mereka berhasil berprestasi di ajang internasional, tetapi juga mengibarkan semangat merah-putih di dalam jiwanya sampai akhir hayat.

Bukan hanya setiap tanggal 17 Agustus, tapi juga setiap hari.

Kepada Sang Saka Merah-Putih, hormaaattt… g’rak!!!

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , ,

This entry was posted on Wednesday, August 18th, 2010 at 12:56 pm and is filed under Hormat… G’rak!!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>