Juara Tanpa Piala

Sabtu sore kemarin tgl 6 Juni 2009, Si Sulung menari dan main angklung di acara Pentas Seni TKK Sang Timur, Cakung. Sejak seminggu sebelumnya, seperti biasa aku bertanya tarinya seperti apa blablabla. Seperti biasa, jawabannya, “Ya gitu deh…” Berbekal otak yang “hang”, aku cuma berpesan, “Nak, kalau menari itu yang semangat, jangan lemes seperti orang kurang makan. Kalau salah, menari aja terus, jangan berhenti. Senyum ya.”

Sabtu pagi, anak-anak mengadakan Gladi Resik. Dengan gegap gempita tentu aku menunggui dan merekam. Ekskul angklung tampil sebagai pembuka. Baru naik panggung, Si Sulung sudah senyum lebar. Serius sekali wajahnya menatap Ibu Guru Dirigen dengan not-not di papan. Pada pertengahan, lagi-lagi baru muncul senyumnya mengembang dengan lebar. Menarinya juga semangat sekali. Begitu selesai dia bertanya, “Bu, gimana tadi? Bagus gak?”
“Naahh… gitu dong! Anak Ibu kalau menari semangat.”
“Tapi kalau semangat jadi keringetan…”
“Ingat tante-tante yang latihan teater di sekolah Ibu waktu itu? Semua keringetan kan? Itu karena tampilnya semangat. Nanti dibilangin sama Om Ivan supaya make up dan sanggulnya gak luntur ya?”

Murid-murid mulai pulang untuk persiapan nanti sore. Bapak-Ibu Panitia juga pulang dulu mengantar anaknya dan kembali ke sekolah untuk meneruskan segala tugasnya. Aku masih sibuk mengurus Foto Kenangan yang akan dibawa sorenya. Masih harus cetak foto dan ke salon. Semoga semua sempat…

“Lini, liat itu anakmu masih asik di panggung sendirian. Nanti kecapekan malah sorenya lemes!” Suara Ibu Ketua Panitia terdengar cukup keras. Kulihat Si Sulung bergaya-gaya di panggung sendirian. Beberapa temannya sibuk berlari-lari di hall.
“Nak, yuk pulang. Nanti abis itu ke salon Om Ivan ya.”
“Lini ke salon? Hah, gak salah??” Habis aku diledek Ibu-Ibu lain. Penampilan ala kadarnya sehari-hari rasanya melekat di aku ya?
“Kan sanggul-an? Emang anakmu ga disanggul?”
“Ih, kirain Ibunya…”
“Ibunya ya sekalian. Lagian kan sekalian cetak foto juga…” Dalih sih bisa dicari kan? Hehehe…
“Yla, bilangin Ibu yang cantik ya!” Si Sulung yang berlari ke arahku tertawa.

Singkat cerita, dandan sudah, cetak foto sudah. Siap berangkat ke sekolah!
Wah, kayaknya terlambat nih. Belum sempet pake kostum lagi, kostumnya bikin bingung. Sampe sekolah, udah rameeee… banget! Cepet-cepet ke ruang ganti. Semua anak udah siap kecuali Si Sulung.
Ok semua siap.
Eit… foto dulu dong!
Maksud hati sih foto Si Sulung doang, alhasil…
“Ayo, ayo! Foto dulu!” Ibu Guru Dirigen Angklung heboh banget. Waduh!
“Semua senyuum…”
Klik!
“Ayo, sekarang ke panggung!” Ibu Guru bergegas menggiring anak-anak ke belakang panggung.
Showtime!!

Ibu Guru yang bertugas jadi MC memanggil anak-anak ke panggung. Satu persatu anak-anak maju ke atas pentas. Mana anakku? Itu dia! Senyumnya lebaarr… banget! Cengengesan tepatnya. Yep, persis Ibunya, hehehe… Barisnya di depan. Semangat betul membunyikan angklungnya. Membawakan 3 lagu, anak-anak bermain dengan baik. tidak ada yang salah bunyi. Hehe… Bisa aja kan? Ada yang ngelamun, blom waktunya bunyi jadi bunyi…

Dilanjutkan dengan berbagai tarian. Semua anak memang tampil berdasarkan kelompok tarinya. Idenya adalah anak-anak yang tidak ikut ekskul menari atau angklung bisa tampil juga, belum lagi 28 anak yang tidak ikut ekskul sama sekali. Masa gak kebagian tampil? Bikin bangga orang tuanya gitu.

Sekarang giliran kelompok tari Kicir-Kicir. Hm.. mana dia? Wuaahh… memang, senyumnya kayak dilem, lengket banget! Lebar gitu. Kali ini barisnya di belakang. Ok, ga masalah. biar yang fokus di depan gantian sama temennya yang lain. Meskipun posisinya di belakang, dengan gerakan yang besar tentu saja Si Sulung menarik perhatian semua Suster, Orang Tua Murid, Guru, semuanya. Begitu selesai, seperti sudah diduga, aku tepuk tangan yang paling keras.

Begitu acara penyerahan piala pada anak berprestasi, aku memang tidak berharap banyak. Melihat karakter Si Sulung, nyaris tidak mungkin dapat juara. Si Sulung ada kecenderungan indigo, beda dengan anak-anak normal. Kalau moodnya tidak baik, apapun tidak akan dikerjakan. Dari 4 kriteria: bintang kelas, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, Komputer, tak satupun diraihnya. Hm.. Semoga Si Sulung tidak sedih.

Begitu acara selesai, aku tanya dengan hati-hati, “Nak, sedih gak kamu gak dapat piala?”
“Gak.” Wajahnya polos.
“Buat Ibu, kamu menari dengan sungguh-sungguh tadi sudah jadi juara buat Ibu..” kudekap Si Sulung erat.
Begitu mau pulang, aku ketemu Ibu Penanggung Jawab Buku Kenangan dan Ibu Ketua Panitia. “Eh Lin, ampuunn… semangat bener anakmu nari!” Aku cengengesan.
“Tadi Suster-Suster itu pada tanya, “anak siapa itu, narinya semangat bener?” Kubilang, “anak si Lini kelas B2.” Heboh amat sih narinya,” sambil menirukan gaya Si Sulung.
Ibu Ketua Panitia ini orang Batak, jadi menghadapinya harus “in Batak way”. “Kak, kalo gak semangat, nanti dikira gak aku kasih makan. Harus semangat lah!”
Si Sulung menari dengan sebaik-baiknya, seperti harapanku. Menjadi juara tidak harus dengan piala. Memenangkan hati sedikit orang sudah cukup karena akan dikenang selamanya.

Kadang miris memang, Si Sulung tidak bisa jadi juara. Dia mahir dalam hal-hal yang tidak terukur. Tidak ada juara kemandirian, juara pengambilan keputusan, juara kepekaan, juara empati, juara toleransi.

Nak, kamu juara dalam hal-hal yang tidak terukur – sama seperti Ibu – itu sebabnya tidak ada piala untukmu. Pasti sulit membuat piala untuk hal-hal yang tidak terukur itu.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: ,

This entry was posted on Tuesday, June 9th, 2009 at 5:44 pm and is filed under Juara Tanpa Piala. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Juara Tanpa Piala”

  1. pam
    6:48 pm on June 9th, 2009

    Selamat ya buat si Sulung. Moga-moga suatu hari benar-benar bisa ketemuan ya, jadi bisa benar-benar merasakan senyum lebarnya itu.

    Salam juga buat Dny dan si bungsu.

  2. the De.N.eL.s
    1:52 pm on June 22nd, 2010

    @ Pam: tengkiyu Mas :D

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>