Kepada Yth. Ibu Guru

Ini adalah surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru dalam artikel Bu Guru, Belajar Dong! (2). Surat ini sudah saya sunting.

Kepada Yth.

Ibu Guru

Wali Kelas 1B

Dengan hormat,

Kami, orang tua Mikayla Karissa Denel kelas 1B, menyatakan keberatan atas tindakan Ibu Guru terhadap Mikayla kemarin siang. Tindakan Ibu Guru untuk “menanyai” Mikayla dengan cara tersebut sangat tidak arif. Mikayla tidak diberi kesempatan untuk menceritakan seluruh kejadiannya. Menanyai anak dengan suara keras dengan penekanan penuh, pertanyaan yang “terarah” dan wajah yang sangat dekat (hanya sejengkal) dari wajah Mikayla tentu membuatnya tertekan. Dalam keadaan tertekan, siapapun akan mengakui hal yang tidak dilakukannya asal terbebas dari tekanan.

Saya memang tidak melihat kejadiannya. Mikayla bercerita bahwa ia menggunting rambutnya SENDIRI, lalu Si A meminjam gunting dan ikut menggunting rambutnya sendiri juga. Baru kemudian Si B meminjam gunting untuk menggunting rambut Si C. Kalaupun ketiganya sudah ditanyai, lalu Si B dan Si C menyatakan Mikayla yang berbuat, dalam hal ini kesaksiannya saya sangsikan. Para “tersangka” sangat tidak valid keterangannya sebagai saksi. Bagaimanapun, tidak ada orang yang mau disalahkan. Sangat manusiawi kalau semuanya tidak mau mengakui kebenaran. Yang seharusnya menjadi saksi adalah murid lain yang melihat, bukan Si B dan Si C.

Kami juga mempertanyakan jika betul Ibu Guru tidak melihat. Kenapa demikian? Jika Ibu Guru memang melihat, mengapa Ibu Guru menekan Mikayla dengan pertanyaan sedemikian rupa? Apakah Ibu Guru menanyai juga anak lainnya yang melihat tapi tidak terlibat sebagai saksi? Jika Ibu Guru melihat, jelas siapa pelakunya dan layak dijatuhi sanksi. Apakah jumlah anak di kelas terlalu banyak sampai wali kelas kewalahan dan tidak sanggup memperhatikan? Proses gunting menggunting ini terjadi di dalam kelas dan pasti tidak dalam hitungan detik. Pasti dalam hitungan menit. Buktinya, gunting sempat beredar di tangan Mikayla, Si A, lalu Si B. Apakah Ibu Guru tidak memperhatikan? Bukankah yang terjadi di kelas menjadi tanggung jawab Guru?

Ibu Guru menulis catatan di agenda Mikayla, “Ela menggunting rambut Si C. Mohon perhatiannya!”

Pertama, kami mau menekankan bahwa panggilan anak kami adalah Yla, bukan Ela. Karena penulisan yang rumit, maka saya tekankan untuk menulis dan menyebutkan namanya dengan Mikayla.

Kedua, penggunaan tanda seru. Apakah penekanan tanda seru itu sungguh esensial dan krusial? Apakah selama ini kami tidak memperhatikan anak kami? Menurut pedoman EYD, tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Apakah itu sungguh mewakili pemikiran yang akan disampaikan pada kami?

Ketiga, apakah hanya Mikayla yang mendapat teguran berdasarkan kesaksian Si B dan Si C saja? Apakah dengan asumsi bahwa Si B tidak melakukan maka bebas dari teguran? Apakah karena gunting tersebut milik Mikayla maka jadi alasan bahwa Mikayla pelakunya? Proses pengusutan masalah gunting-menggunting ini tidak adil buat kami. Kejadian yang kami anggap tidak disaksikan Ibu Guru dijadikan fakta begitu saja tanpa proses lebih lanjut. Catatan tersebut ambigu.

Kami menyadari bahwa Mikayla bersalah atas tindakan membawa gunting dan menggunting rambutnya sendiri. Itu jelas. Untuk itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi sayang, fokus ini malah tidak mendapat perhatian. Justru kejadian berdasarkan cerita Si B dan Si C tanpa saksi anak lainnya yang difokuskan. Kami juga sudah menegur Mikayla untuk tidak membawa gunting ke sekolah.

Kami ingin mengingatkan sedikit kejadian bulan Mei 2009. Saat itu, Ibunya Mikayla membantu panitia untuk membuat Buku Kenangan, tentunya banyak waktu dihabiskan di sekolah. Begitu juga para Ibu beserta anak lainnya. Saat itu Mikayla yang masih di TK B bermain bersama teman-temannya di meja komputer Pak TU. Beberapa anak main komputer dan itu diketahui Suster KaSek TK. Mikayla baru saja hendak melihat apa yang sedang dimainkan anak-anak di komputer. Ibunya Mikayla melihat Ibu Guru malah membentak Mikayla untuk keluar ruangan tapi tidak menyuruh keluar anak-anak lain yang justru sedang bermain komputer. Akibatnya? Mikayla besoknya tidak mau sekolah, menangis, takut pada Ibu Guru. Mikayla yakin bahwa dirinya tidak bersalah tapi dibentak. Kejadian ini disaksikan Ibu yang anaknya ikut main komputer di situ dan Ibunya Mikayla sendiri. Itu menjadi luka pertama bagi Mikayla.

Sejak dinyatakan menjadi siswa kelas 1B dengan wali kelas Ibu Guru, kejadian bulan Mei tersebut membuatnya stres. Kami berusaha memberi semangat dan meyakinkan bahwa Ibu Guru tidak akan berbuat kasar lagi. Dengan adanya kejadian ini, kami merasa sia-sia meyakinkan Mikayla bahwa Ibu Gurunya tidak akan mengulangi. Setiap pagi mau mandi untuk berangkat sekolah, pulang sekolah dan harus mengerjakan PR, Mikayla selalu menangis. Mikayla manjadi anak yang mudah uring-uringan. Sebagai anak yang introvert dan indigo, tidak mudah untuk mengungkapkan perasaannya.

Tindakan Ibu Guru ketika menegur anak dengan menoyor kepala anak juga tidak bisa kami terima. Di rumah, kami tidak pernah menoyor anak. Kami kecewa jika di sekolah diperlakukan demikian.

Kami melatih Mikayla untuk tidak menggunakan penghapus. Mikayla sangat stres jika bukunya penuh dengan coretan. Anak kelas 1 SD sangat wajar jika salah menulis. Kami yang sudah jadi orang tua saja masih suka salah menulis dan ada coretannya.

Mikayla dituntut untuk selalu benar dalam menjawab. Yang ditekankan adalah jawaban yang benar atau salah, bukan proses mengetahui kebenarannya. Anak jadi takut untuk menjawab. Takut untuk disalahkan. Takut untuk dimarahi. Mikayla berubah jadi anak yang penakut, selalu takut salah. Ini menunjukkan proses belajar mengajar di kelas yang tidak baik. Manusia belajar dari kesalahan. Jika manusia tidak membuat kesalahan, ia tidak belajar. Bagi anak berusia enam tahun, kesalahan yang masih berulang mau tidak mau harus dipahami. Itu sebabnya disebut usia sekolah, usia untuk belajar.

Mikayla jadi suka berbohong asal tidak dimarahi. Mikayla yang dulu dengan rendah hati mengakui kesalahannya. Apakah ini akibat dari perasaan terancam di kelas? Hanya Tuhan yang tahu.

Kejadian ini menjadi luka kedua bagi Mikayla dan kekecewaan kami yang mendalam.

Kami sebagai orang tua ingin mengingatkan kembali pada Ibu Guru, dalam UU Sisdiknas disebutkan, “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.”; dan dalam UU Perlindungan Anak disebutkan, “Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.”

Jika Mikayla memang bersalah, menjadi kewenangan pihak sekolah untuk memberi sanksi dan kami sebagai orang tua akan menerima, tapi tidak dengan proses pengusutan seperti ini karena kami merasa tidak ada keadilan.

Maka, dengan pertimbangan seperti yang disebutkan dalam UU Sisdiknas, “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya,” kami akan membuat surat tembusan kepada Suster Kepala SD.

Terima kasih atas perhatian Ibu Guru.

Bekasi, 19 Januari 2010

Orang tua Mikayla,

Danny & Lini

Tembusan:

Suster Kepala SD

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Monday, January 25th, 2010 at 11:00 am and is filed under Kepada Yth. Bu Guru. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

16 Responses to “Kepada Yth. Ibu Guru”

  1. thilio christine
    12:58 pm on January 25th, 2010

    Aduuh Lin, aku jd ikut2an stress lho…
    Anakku yg sulung jg bru kelas 1 SD, dituntut musti nulis tegak bersambung. Kadang, nulis jadi lama karna pengen sempurna. Dia takut sama ibu gurunya ntar dimarahin klo ada salah sedikit. Aku tiap hari harus beri dia semangat untuk nulis lebih cepat.
    Semoga masalah Yla dengan ibu guru cepat selesai dengam baik ya Lin… kesian Yla… :(
    Salam buat Yla, tidak perlu takut… tetap semangat… (Non)

  2. fekhi
    1:00 pm on January 25th, 2010

    ya beginilah surat yang dibuat penulis hahaha… eh ya aku juga akan menulis hal yang sama jelasssssssssssssssss!!!

  3. pudji hastuti
    1:08 pm on January 25th, 2010

    dear Lini & kel, ak dah baca juga “Bu Guru, Belajar Dong!” (1&2).
    Ak juga mengalami hal serupa (tapi beda kasus) dengan sekolah anakku (kls 3 SD). Mungkin mba Lini masih ingat komenku di ‘Kingdom of heaven sebuah jawaban’. Ak gak singgung singgung soal agama, cuma informasi aja kayaknya agama kita sama. Anakku juga sekolah di SD yg kepseknya seorang suster. Tapi kenyataannya kami sangat kecewa dengan cara mengajar di sana, tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Akhirnya anakku sdh ak pindahkan di sekolah alam, dimana anak2 diberi kebebasan b’kreasi, mengembangkan bakat & minat, dll, dan yang terpenting anak tidak ‘terpenjara’ otak dan cara berpikirnya. Salah satu contohnya: semua jawaban anak dinilai benar asal anak dapat memberi logika jawaban, misalnya: berapa jumlah kaki anjing? Bila anak menjawab ’3′ dengan alasan ‘karena anjingnya cacat, waktu lahir kakinya cuma tiga’, nah b’arti jawaban anak betul krn ada ‘pertanggungjawabannya’.
    Sekadar saran, mungkin mba Lini dan suami bisa mencari sekolah alternatif lain, apalagi tinggal di jakarta kan banyak pilihannya. Ak pernah lihat di TV ttg sekolah milik Ir. Ciputra, Sekolah Enterpreneurship kalau gak salah, itu kayaknya bagus. Atau sekolah Semut-Semut, sekolah Masterpiece dll, bukan sekolah umun biasa yang sudah ‘lama’ menjadi sekolah ‘favorit’.
    Mba juga bisa buka websitenya Ayah Edy di ayahkita.blogspot.com
    Di situ ak banyak belajar ttg seputar masalah anak dan sekolah.
    Berat memang ‘memindahkan’ anak dari sekolah yg lama, namun ak pikir lebih cepat lebih baik daripada kita buang uang, waktu dan tenaga, ternyata anak kita lulus SD cuma bisa jadi ‘kuli’ pasar, karena mereka cuma terlatih bawa tas sekolah yg berat (anakku yg kls.3SD berat tasnya 8kg, belum termasuk makanan & minuman, dan yg kls.2SD beratnya 5kg-blm termasuk makanan&minuman).
    Ok…mba…selamat berjuang buat anak2 tercinta…..

  4. the De.N.eL.s
    4:21 pm on January 25th, 2010

    tengkiyu all…
    @ Thilio: kasian anak2 kita semua ya :(
    @ Femi: nulisnya pake emosi lagi ya, Fem :D
    @ Pudji: thx infonya. ya nih mo pindahin kmana blm tau. yuk sama2 berjuang buat anak2!

  5. Ellien
    6:01 pm on January 25th, 2010

    Hmmm, begitu rupanya, sangat prihatin jg krn kebetulan aku menyandang profesi yg sama.
    Aneh dan terkejut jg dgn fakta yg diuraikan, koq bisa ya?
    Smoga dpt solusi yg terbaik ya, terutama buat Yla en disinilah peran ortu hrs mempu menjd motivator agar anak tdk kehilangan gairah utk tetap bersekolah.
    Ok deh, salam damai selaras buat sekeluarga….

  6. winarni retnaningrum
    6:16 pm on January 25th, 2010

    prihatin dengan sistim pengajaran Ibu Guru tersebut. Saran saya, pindahkanlah Yla ke sekolah yang sesuai dengan kemauan kita.

  7. the De.N.eL.s
    6:19 pm on January 25th, 2010

    @ Ellien: yah, namanya juga manusia… :( salam damai juga buat keluarga
    @ Winarni: yang mengakomodasi bakat dan minatnya, bukan sekadar kemauan orang tua :)

  8. winarni retnaningrum
    6:19 pm on January 25th, 2010

    prihatin dengan sistim pengajaran Ibu Guru tersebut. Saran saya, pindahkanlah Yla ke sekolah yang sesuai dengan kemauan kita.

    Oya, sudah di sunting aja, masih begini emosi ya….hehehe….

  9. winarni retnaningrum
    6:21 pm on January 25th, 2010

    yup, itu maksud ku. (jadi takut pake tanda seru Lin…)

  10. San San
    6:34 pm on January 25th, 2010

    Kasian Yla yah? Ngga papa Lin, yang penting dia tau kalo orang tuanya percaya & ngga nyalahin dia. Si Lucky juga sering banget kok ngalamin yang kaya gitu. Pernah sampe seminggu sekali pasti ada panggilan dari guru. Kadang emang dia salah, kadang ngga. Bagus juga tuh ngasih surat sama gurunya, biar dia sadar kalo tindakannya itu ngga pantes sebagai seorang guru. Tapi kalo gua mah suka takut gurunya jadi sentimen terus anak kita malah jadi ditekan Lin, gimana tuh?

  11. the De.N.eL.s
    8:32 pm on January 25th, 2010

    @ Winarni: hehehe…
    @ San San: sebetulnya, lapor ke KaSek itu udah jalan paling ideal. tapi namanya manusia, trus gurunya ga terima, makin dikerasin anaknya. mbulet terus. artinya? kasek juga ga kompeten. ya mending dipindahin aja. kasusnya yla kan di sekolahnya kelakuan guru begini udah sistemik, jadi mending ngalah deh hehehe…

  12. alphi
    9:04 pm on January 25th, 2010

    saluut Lin,
    maju terus…
    pindahin anak lu ke semipalar aja, he..h.e..(promosi)
    buat bu guru “!!!!!!!!” tak kasih tanda seru yang banyak, biar puass..!! (lagi-lagi tanda seru)

  13. the De.N.eL.s
    9:20 pm on January 25th, 2010

    @ Alphi: Om Alphi klo urusan ginian pasti semangat deh ;-)

  14. yoan
    10:43 am on January 28th, 2010

    Aduh ada aja ya masalah seputar pendidikan di sekolah….Aku juga jadi ikut bingung nih sekolah mana nih yang dapat menjamin segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik….

  15. the De.N.eL.s
    2:41 pm on January 28th, 2010

    @ Yoan:
    halo Yoan, rasanya sekolah alternatif lebih kondusif buat anak jaman sekarang deh. yla sendiri kelas 2 nanti mau kembali homeschooling. Jangan bingung terus ya :)

  16. Bu Guru, Belajar Dong! (2)
    5:48 pm on January 28th, 2010

    [...] Surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru ada di Kepada Yth. Ibu Guru [...]

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>