Selamat Jalan, Koh

“Lin, Koh Gwan Hok meninggal jam 1 semalam.” Aku terhenyak. Kuberikan ponselku pada Si Ayah.

“Siapa?” tanyanya bingung.

“Koh Gwan Hok meninggal,” cuma itu yang keluar dari mulutku.

Koh Gwan Hok adalah kakak sepupu-iparku. Mertuanya dan mertuaku kakak-adik. Rumah kami bersebelahan komplek. Anak kami pernah satu sekolah. Ngkoh mungkin tidak istimewa tapi menjadi salah satu kerabat yang meluangkan waktunya untuk hadir ke pernikahanku.

Belakangan Koh Gwan Hok memang sakit. Usianya baru 53 tahun ketika ia menutup mata. Nia baru kelas 1 SMP dan Rian baru kelas 3 SMA. Usia yang lebih muda ketimbang Papa meninggal 13 tahun lalu.

Usai mendapat kabar, Si Ayah bersiap ke rumah duka St. Carolus. “Kamu sama anak-anak nanti aja agak sore. Mamah sama Cie datang siang ini. Anak-anak jangan pakai baju merah.” Dalam adat tionghoa, warna merah adalah lambang kegembiraan. Tidak cocok untuk melayat. Menunggu sore, aku mampir ke ruko tempat homeschooling-ku yang akan dibuka Juli ini.

Menjelang sore, Si Ayah mengirim pesan singkat, “Misa tutup peti jam 17.30.” Berarti aku harus berangkat paling lambat jam 4 sore.

Partnerku pamit hendak ke gereja jam 5 sore. “Ikut?” tawarnya.

“Nggak deh. Misa tutup peti jam 17.30. Titip doa aja.”

Kami bubar. Aku meluncur ke Salemba. Baru ingat ada janji chatting dengan seorang Nuliser.

“Mbak, sori ga bisa onlen. Sepupu Danny meninggal. Aku lagi otw ke Salemba,” kukirim pesan singkat itu ke ponselnya.

Satu jam kemudian, aku tiba di rumah duka. Mama Mertua dan Kakak Ipar sudah di sana.

“Masuk?” tanya Si Ayah. Aku mencari Cie Nen, Nia dan Rian. Melihat Kakak sepupu-iparku itu rasa bersalah yang besar menyerbu. Aku satu-satunya kerabat yang bertetangga, harusnya aku lebih intens berhubungan, harusnya aku bisa banyak membantu, harusnya… harusnya… harusnya….

Kuhampiri juga Cie Nen. Kusalam, kupeluk, kucium. Aku menuju peti mati. Rasanya aneh, janggal. Ada energi-entah-apa yang tak bisa kujelaskan. Seakan dia berdiri di sebelahku sambil tersenyum. Aku berdoa singkat. Entah apa yang kudoakan, aku kehabisan kata-kata. Kuamati isi petinya. Kaca mata, baju, Puji Syukur, dan ada beberapa barang pribadi lainnya. Berjas hitam, sepatu putih, dan menggenggam rosario biru. Ini terakhir kalinya kami semua bisa memandangi wajahnya secara langsung. Usai misa, peti ditutup.

Si Ayah sempat cerita, Koh Gwan Hok melihat cahaya putih. Mungkin saja itu Tuhan. “Aku mau sama anak-anak dulu.” Permohonannya dikabulkan. Kondisinya sempat stabil untuk sehari. Situasi yang umum terjadi pada mereka yang tak lama lagi menghembukan napas terakhirnya. Malam itu, ia sempat mendapat sakramen perminyakan. Malam itu juga, napas terakhirnya dihembuskan di tengah keluarganya, di samping istri tercintanya. Sungguh till death do us part.

Kupandangi Nia dan Rian dari jauh. Kedua anak super pendiam ini diam seperti biasanya. Matanya tidak sembab. Aku teringat ketika Papa meninggal. Aku juga tidak menangis. Sampai gundukan tanah menutupi jasadnya aku tetap tidak menangis. Saat beranjak dari makamnya aku langsung pingsan. Begitukah yang terjadi pada Nia dan Rian?

Betapapun, sedetik setelah makam ditutup, kehidupan keluarga yang ditinggalnya mendadak berubah drastis, siap tidak siap. Apa yang ada menjadi tiada. Biasanya makan malam bersama, tidak lagi. Biasanya ada yang ngomeli, tidak lagi. Itu yang kurasakan ketika Papa pergi. Tidak ada lagi omelan Papa yang kukangeni sampai hari ini.

Ingatanku kembali ke saat terakhir Koh Gwan Hok mampir ke rumah ketika Mama Mertua datang. Itu saat terakhir aku bertemu dengannya dalam keadaan sehat. Lama setelah itu, ketika sinchia (tahun baru imlek) aku ke rumahnya sekalian menjenguk Mama Mertuanya (tantenya Danny) yang baru keluar dari rumah sakit. Aku tidak bertemu, ia sedang tidur.

Kuingat juga saat aku meriang dan tidak bisa bangun. Ia yang mengantarku ke dokter karena Si Ayah sedang rapat.

“Kenapa kita harus mati, Bu?” kedua anakku mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Mengemas jawaban tentang kematian pada anak berusia empat dan tujuh tahun bukan hal remeh. Kujelaskan sesuai kemampuanku dengan susah payah. “Meninggal artinya kita sudah pulang ke Surga sama Tuhan, jadi nggak sakit lagi,” kututup ceritaku.

Mungkin tak banyak yang bisa kuingat tentangnya. Dari yang sedikit itu, semuanya melekat padaku. Semoga catatan ini bisa terus menjadi kenangan bagi kita semua.

Saat meninggalkan rumah duka, kudaraskan kalimat sederhana.

Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tapi, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

Tuhan, sembuhkanlah hati keluarga yang ditinggalkan. Amin.

Selamat jalan, Koh Gwan Hok. Maafkan kami semua yang tidak menjadi tetangga yang baik. Semoga jiwamu kekal di Surga bersama Bapa.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Sunday, May 9th, 2010 at 9:39 pm and is filed under Selamat Jalan Koh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Selamat Jalan, Koh”

  1. fekhi
    4:13 am on May 10th, 2010

    turut berbelasungkawa lin
    semoga komentar ini sudah dak dianggap spam

  2. the De.N.eL.s
    8:54 pm on May 10th, 2010

    @ Femi: tengkiyu Fem :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>