Sharing: Homeschooler yang sudah jadi “orang” (1)
Surat dari Margareta Kesumadewi pelaku homeschooler yang sekarang sudah jadi “orang”. Mudah-mudahan sharing dari Reta menjadi “pelipur lara” atas segala label negatif homeschooling.
hey mbak lini n smuaa
reta dulu HS pas SMA, 2 taun.
jujur, gara2nya ga suka sama sistem pendidikan sekolah formal. di kelas cuma nyatet yang didikte guru, yang dibahas pun semua sudah ada di buku (yang menurut reta harusnya guru ngasih pengetahuan di luar buku saat di kelas, kalo cuma dari buku kan bisa baca sendiri), belum lagi tugas2 dan PR yang kebanyakan juga cuma nyalin jawaban dari buku. dan giliran ada pertanyaan tentang materi di luar buku, guru2 pada ga bisa jawab.
apalagi sama sistem penilaian yang serba angka, dan ada mata pelajaran tertentu yang dikhususkan (misal nilai bahasa ga baik, bisa ga naik kelas padahal nilai matematika tinggi sekali). padahal menurut reta kecerdasan individu ga bisa hanya dinilai dari situ saja. tiap orang kan unik, memiliki kecerdasan dan kelebihan masing2 yang ga bisa disamaratakan.
belum lagi efek buang2 waktu untuk beberapa individu. contoh, seisi kelas sudah paham materi Bab 2, tapi si B dan si C belum paham. maka teman2 sekelas harus terus dipaksa ikut mempelajari materi bab 2 sampai si B dan si C paham. guru tidak memberi fasilitas lebih pada yang membutuhkan. murid tidak diperlakukan sesuai kebutuhannya.
sejak saat itu, reta mikir, harusnya sekolah bukan tempat untuk cari nilai. beban nilai itu yang bikin anak2 lebih suka nyontek daripada belajar. ngapain belajar keras, wong nilainya cuma didapet dalam 1 kali ujian, pinter ato ga-nya cuma ditentukan dalam satu hari.
menurut reta, idealnya kan sekolah buat tempat anak2 mengenali bakat diri dan mengembangkan bakat. ga melulu soal nilai baik pada mata pelajaran standar, sedangkan bakat dan kemampuan di luar itu dikesampingkan.
dari situ reta mutusin buat HS pas SMA. suka dukanya banyak hehe yang pasti agak sulit meyakinkan orangtua karena ibu pernah jadi guru SMA. tapi untungnya bapak mendukung walau tetap kasih syarat “tunjukkan positifnya HS”.
yang reta rasakan, HS membuat reta lebih mandiri dan bertanggungjawab. mengatur jam belajar sendiri, reta jadi punya tanggungjawab besar di balik sebuah kebebasan. kalau di kepala ada pertanyaan di luar buku2 pelajaran pun, reta cari sendiri jawabannya, lebih memuaskan. yang jelas ga buang2 waktu dengan duduk manis di kelas ngulang2 pembahasan materi yang itu2 aja. intinya sih, reta mendapatkan apa yang reta mau. bahwa belajar itu tentang pemahaman, bukan tentang hapalan rumus atau kata2.
di samping HS, reta jadi punya banyak waktu untuk nulis, karena reta memang suka nulis. selama ini pas sekolah, merasa ga punya waktu untuk nulis. di sekolah sudah lama, belum lagi les2 wajib dan ekskul di sekolah. sampe rumah masih harus bikin tugas. talenta dan kemampuan diri pun lebih bisa berkembang natural.
soal pergaulan juga ga ada masalah sama sekali. karena punya banyak waktu reta jadi banyak ikut organisasi dan bisa kumpul sama temen2. ga kuper kok
justru akan kuper kalo selesai jam sekolah masih harus berkutat dengan tugas2 yang menumpuk. kuper bukan hanya ga punya temen kan, punya temen yang itu2 saja (sebatas sekolah) juga bisa dibilang kuper kan?
dan pujiTuhan, angka kelulusan reta juga baik saat lulus SMA kemarin. dan bisa melanjutkan kuliah di Brisbane. saat kuliah, ga nyesel ikut program HS pas SMA, karena sistem belajar di kampus juga mandiri sekali. jadi inget keluhan temen2 yang bilang “wah, kuliah tuh gini ya? apa2 sendiri, gurunya ga care kayak waktu sekolah dulu..” dan reta ngerasa HS pilihan yang sangat tepat untuk menjawab berbagai pertanyaan (dan mungkin protes) terhadap sistem pendidikan sekolah formal, di Indonesia
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Homeschooling, Pendidikan, Surat
This entry was posted on Friday, June 4th, 2010 at 5:00 pm and is filed under Sharing: Homeschooler yang sudah jadi "orang" (1). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







6:55 pm on June 4th, 2010
kenapa orang suka bilang kuper kalo sekolah di HS?
)
hehehehe…
padahal kuper atau gak bukan gara2 sekolah kali
buktinya yang sekolah juga banyak banget yang kuper hahahaha…
gak validlah kalo ngomong anak hs kuper. justru karena setiap manusia berbeda, maka ada hs ya
7:10 pm on June 4th, 2010
@ Femi: jangan2 yang kuper itu yang ngomong “nanti kuper”
wkwkwk
12:46 am on June 5th, 2010
Berarti jalan elo kan dah bener, cuekin aja kalo orang ngomong aneh2 mah, liat aja nanti buahnya
2:44 pm on June 18th, 2010
Baru menemukan blog ini. Terima kasih Mbak Lini, sudah posting suratnya HS-er yang sukses. Inspiratif sekali! Sekarang saya mau baca artikel HS yang lain di blog ini…
3:08 pm on June 18th, 2010
@ Andini: kembali kasih Mbak. silakan keliling2 di blog saya. panggil saya Lini aja
3:29 pm on July 10th, 2010
wah tata bahasanya bagus sekali, sungguh enak untuk dibaca, bener2 menikmati tiap alinea. tulisan yang singkat, padat dan menggugah. Terima kasih telah memposting tulisan ini, menambah wawasan bagi saya yang masih awam tentang HS
4:04 pm on July 10th, 2010
@ Kania: terima kasih banyak Mbak Kania sudah singgah di blog saya. salam buat Ibn