Posts Tagged ‘Luka Batin’
Sambungan dari Na, Jaga Diri Lu Aku masih bengong di ruang medical check up sebuah rumah sakit mewah di barat Jakarta. Sudah dua jam berlalu. Kulirik jam tanganku, jam 1 siang. Pff… masih satu jam lagi diambil darah terakhir. Aku bukan sakit, mumpung dapat voucher gratis seharga satu juta, rugi kalau dilewatkan. Sekalian cari tahu [...]
Panggil saja dia Nana. Teman sebangkuku ketika duduk di kelas 3 SMP, 19 tahun lalu. Saat itu kami sama-sama tidak populer. Rumah kami tidak terlalu jauh tapi jarak rumah kami ke sekolah jauh. Aku tinggal di Menteng Pulo—yang mendadak populer karena Barry alias Obama kecil tinggal di sana—dan Nana tinggal di Menteng Dalam. Awalnya Nana [...]


(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))
Kembali Waras, Kembali Cerdas
“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis [...]
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond
Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”
Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada [...]
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond, To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif)
Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.
Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti [...]
Sebuah pengasingan
Entah sebuah kegiatan
Atau sebuah keadaan
Tidak menjamin keterasingan
Dan ketenangan
Justru jadi keriuhan
Yang memuakkan
Tertarik dengan yang ini?07/12/09 -- Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku? (24)18/11/09 -- Hujan di Yogya (4)18/11/09 -- Ngapain ke Yogya? (8)12/11/09 -- Tempat Kosong Itu Untukmu (38)15/10/09 -- Macet Bukan Karena Si Komo Lewat (8)14/10/09 -- Telepon: Nyambung dan Salah Sambung (21)14/10/09 [...]
Yogya basah
Hujan, bukan gerimis
Tetesnya tidak mampu mengalahkan tangis
Yang kering dan basah menjadi siklus
Tak mampu membasuh luka
Yang justru makin lebar menganga
Tawa yang harusnya di sini
Menjadi lara sendiri
Tertarik dengan yang ini?18/11/09 -- Pengasingan (8)07/12/09 -- Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku? (19)18/11/09 -- Ngapain ke Yogya? (8)14/10/09 -- Telepon: Nyambung dan Salah Sambung (21)14/10/09 -- Pertemuan [...]
Banyak sekali yang bertanya, “Ngapain ke Yogya?”
Jawabanku selalu sama, “Mengasingkan diri. Cari oksigen.”
Tak penting alasan dan tujuanku ke kota ini. Yang menarik adalah berbagai dugaan yang muncul dan khotbah yang berkumandang.
“Pulanglah, kamu bertanggung jawab atas anak-anakmu.”
Betapapun piciknya ide bahwa seorang Ibu yang bertanggung jawab tidak boleh meninggalkan anaknya dan anggapan jadi Ibu yang sinting karena [...]
Kemarin, aku misa di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat penyembuhan. Sekadar pingin tahu seperti apakah misa yang konon kabarnya bisa menyembuhkan orang itu. Tempat yang membuat beberapa orang – termasuk orang terdekatku – mengatakan, “Kamu harus ke sana! Cobain deh sekali aja!” Mirisnya, dari semua yang bilang begitu tak satupun bilang, “Nanti [...]
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih [...]
Beberapa hari lalu, salah satu teman Nuliser menulis tentang Ibundanya Sheila Marcia. Tulisan itu mengingatkan kita betapa kasih Ibu sepanjang jalan.
Aku bukan ingin membahas Ibundanya Sheila, tapi Sheila itu sendiri. Sebagai orang yang senasib, aku paham betul bagaimana rasanya menjadi Ibu lebih cepat dari seharusnya. Kalau boleh dibilang, aku jauh lebih beruntung karena umurku saat [...]