Posts Tagged ‘Prihatin’

Bu Guru, Belajar Dong! (3)

16 Comments »

January 28th, 2010 Posted 5:45 pm

Lanjutan dari Bu Guru, Belajar Dong! (2).

Setelah kasus main salon-salonan yang berakibat Si Sulung jadi sasaran Bu Guru dan membuat kami orang tuanya menghadap ke Suster Kepala SD, beberapa hari kemudian memang Bu Guru sedikit membaik sikapnya. Kami mengira Bu Guru sudah berubah. Ternyata tidak!

Dua hari lalu, Si Sulung pulang dengan uring-uringan seperti sebelumnya. Apa lagi nih? Dia cuma sesenggukan.

“Kenapa, Nak?”

Si Sulung masih terus menangis. “Susah bilangnya, Bu…” Saking emosinya, pasti susah untuk cerita. Lama sampai akhirnya dia mau cerita.

“Buku Yla dilempar Bu Guru. Bukunya jatuh. Sampai terbuka…” wajahnya sungguh kecewa. Aku langsung naik pitam. Guru ini habis ditegur kok malah main lempar-lemparan? Apa sih masalahnya? Sungguh bukan pendidik!

(more…)

Kepada Yth. Ibu Guru

16 Comments »

January 25th, 2010 Posted 11:00 am

Ini adalah surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru dalam artikel Bu Guru, Belajar Dong! (2). Surat ini sudah saya sunting.

Kepada Yth.

Ibu Guru

Wali Kelas 1B

Dengan hormat,

Kami, orang tua Mikayla Karissa Denel kelas 1B, menyatakan keberatan atas tindakan Ibu Guru terhadap Mikayla kemarin siang. Tindakan Ibu Guru untuk “menanyai” Mikayla dengan cara tersebut sangat tidak arif. Mikayla tidak diberi kesempatan untuk menceritakan seluruh kejadiannya. Menanyai anak dengan suara keras dengan penekanan penuh, pertanyaan yang “terarah” dan wajah yang sangat dekat (hanya sejengkal) dari wajah Mikayla tentu membuatnya tertekan. Dalam keadaan tertekan, siapapun akan mengakui hal yang tidak dilakukannya asal terbebas dari tekanan.

Saya memang tidak melihat kejadiannya. Mikayla bercerita bahwa ia menggunting rambutnya SENDIRI, lalu Si A meminjam gunting dan ikut menggunting rambutnya sendiri juga. Baru kemudian Si B meminjam gunting untuk menggunting rambut Si C. Kalaupun ketiganya sudah ditanyai, lalu Si B dan Si C menyatakan Mikayla yang berbuat, dalam hal ini kesaksiannya saya sangsikan. Para “tersangka” sangat tidak valid keterangannya sebagai saksi. Bagaimanapun, tidak ada orang yang mau disalahkan. Sangat manusiawi kalau semuanya tidak mau mengakui kebenaran. Yang seharusnya menjadi saksi adalah murid lain yang melihat, bukan Si B dan Si C.

(more…)

Bu Guru, Belajar Dong! (2)

27 Comments »

January 25th, 2010 Posted 8:00 am

Surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru ada di Kepada Yth. Ibu Guru

Setelah satu semester aku dan Si Ayah cukup bersabar dengan pola pendidikan Bu Guru di sekolah Si Sulung, akhirnya kesabaran kami menipis juga.  Sebetulnya, kemurkaan ini menjadi klimaks pada sebuah kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Supaya lebih paham duduk perkaranya, aku akan menceritakannya dari asal-muasalnya dulu.

Bu Guru ini tahun lalu masih mengajar di TK, tapi tidak pernah mengajar Si Sulung. Tahun ini mulai mengajar di SD. Naik kasta ceritanya. Ketika Si Sulung duduk di TK B, ada sebuah kejadian yang meninggalkan luka dalam di hatinya. Mei 2009, lagi seru-serunya panitia Pelepasan TK B di Sekolah. Tentu saja para Ibu beserta anak-anaknya setiap hari ngepos di Sekolah mengurus ini-itu, termasuk aku. Bahkan Si Bungsu juga ikut ngepos padahal belum sekolah.

(more…)

Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu

No Comments »

September 29th, 2009 Posted 1:29 am

Sebenarnya tadi pagi waktu nyiapin anak-anak berpakaian mau berangkat ke sekolah sambil nonton berita pagi sudah terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau hehehe… Tadi pagi itu, di berita pagi sebuah tivi swasta, narasumbernya adalah seorang penyalur PRT dan Moza [...]

Bu Guru, Belajar Dong!

28 Comments »

September 15th, 2009 Posted 4:21 pm

Hari Sabtu pagi itu, aku dan Si Ayah janjian dengan wali kelas Si Sulung. “Mau konsultasi, Bu,” begitu alasanku. Tepatnya: aku mau mempertanyakan hasil ulangan Si Sulung yang sedikit aneh.

Si Sulung memang cerdas, nilainya banyak yang sembilan atau sepuluh. Tapi selalu kutekankan, “Dapat nilai enam saja Ibu sama Ayah sudah bangga, Nak!” Jadi ketika hasil ulangannya dibagi dan ada dua kali ulangan Matematikanya yang dapat nilai DUA dan LIMA, aku hanya bisa tersenyum. Dua angka yang jeblok blas dibanding seluruh nilainya yang anggap saja rata-rata delapan belum sampai 10%-nya.

Jadi, apa yang aneh dari hasil ulangan itu? Ada dua hal. Pertama, di pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan, ada pertanyaan “berkokok adalah suara…” Jawaban Si Sulung adalah “ayam”. Tapi dianggap salah. Harusnya ayam jantan. D’oh!!  Emang ayam jantan bukan ayam ya?

Kedua,  di pelajaran Agama Katolik, ada pertanyaan “apa gunanya sekolah?” Jawaban Si Sulung adalah “penting untuk anak-anak belajar”. Disalahkan juga. Yang betul adalah “tempat menuntut ilmu”. HAH?? Si Sulung sampai bertanya, “Bu, apa bedanya belajar dan menuntut ilmu?” Oh, Tuhan! Aku hanya bisa menjawab, “Nak, besok Ayah dan Ibu mau ketemu Bu Guru, ya? Besok ditanya.”

(more…)

Kortek = Korban Teknologi

No Comments »

August 26th, 2009 Posted 9:08 am

Internet, dunia maya yang sangat menyenangkan. Semua ada di situ. Mau belanja bisa, mau main bisa, mau kenalan juga bisa. Segala bisa. Berbagai situs menyenangkan mulai dari blog seperti Blogger dan Wordpress, microblogging seperti Twitter dan Plurk, social networking seperti Facebook dan MySpace sampai fasilitan chatting seperti Yahoo! Messenger dan Meebo sungguh mengundang siapa saja [...]

Mengutip bukan Menjiplak

2 Comments »

August 9th, 2009 Posted 7:29 am

Karya orang bagus maka layak untuk di-copy paste. Ok, itu masuk akal.
Meng-copy paste secara utuh tulisan tanpa pencantuman sumber dan/atau tanpa ijin, ok itu juga masih bisa aku tolerir.
Meng-copy paste tulisan dengan sedkit modifikasi lalu dibubuhi nama “penulis baru”, itu namanya menjiplak.
Lalu, seperti apa etika pengutipan yang baik dan sopan?

Institusi/individu yang ksatria selalu meminta ijin dan menyantumkan sumber tulisan berikut nama penulisnya. Tulisan yang di-copy paste utuh, persis sama seperti aslinya meskipun hanya satu paragraf. Tidak dimodifikasi sedikitpun.
Itu cara pengutipan yang baik.

(more…)