Posts Tagged ‘Senyum’
Ih, Yesus Kereenn…!!
April 8th, 2010 Posted 3:35 am
Kamis Putih. Sore.
Sepulang dari memenuhi janji temu dengan dua orang Nuliser, aku terjebak macet gila-gilaan. Dari Semanggi ke rumahku di Harapan Indah butuh waktu tiga jam! Niat untuk misa sore pupus sudah. Sepanjang perjalanan, aku harus menghibur Si Sulung dan Si Bungsu dengan kisah sengsara Yesus.
Cerita tentunya dimulai sejak Minggu Palma ketika Yesus masuk Yerusalem. Terus mengalir sampai akhirnya Yesus didera dan memanggul salib sampai ke Golgota. Perlu banyak detail supaya cerita berakhir ketika kami memasuki gerbang kompleks, seperti siapa perempuan yang membasuh wajah Yesus, siapa yang menebas telinga kanan prajurit, siapa yang membantu memanggul salib dan sebagainya. Tentunya, cerita disinkronisasi dengan ajaran guru di sekolah.
Tags: Paskah, Senyum, Si Bungsu
Posted in Ih Yesus Kereenn…!!
Untaian Warna-warni di 33
March 17th, 2010 Posted 5:23 pm
Tags: Doa, Senyum, Si Ibu, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Untaian Warna-warni di 33
Hancur!! Hancur!! Haleluya!!
October 8th, 2009 Posted 8:27 am
Semalam. Perjalanan menuju dokter gigi dekat rumah dari Kelapa Gading bersama Si Sulung dan Si Bungsu. Sengaja tunggu agak malam supaya tidak menemui kemacetan.
Karena radio tape sudah tidak mampu lagi memutar kaset, hanya bisa radio dengan penangkapan sinyal yang peka dan suara jernih, maka dipasanglah semacam flashdisk adapter (FM transmitter) yang menghubungkan flashdisk ke radio dengan dicolokkan ke lubang tempat pemantik api. Cara kerjanya gelombang radio di adapter itu dicocokkan dengan radio di gelombang yang kosong tidak ada stasiun radio. Saking pekanya radio itu, di saluran kosong pun kadang sering terkontaminasi bunyi-bunyian dari stasiun radio antah-berantah.
Tags: Senyum, Si Bungsu
Posted in Hancur!! Hancur!! Haleluya!!
Kembangnya Kembang Api
September 18th, 2009 Posted 12:01 am
Siang itu, perjalanan pulang jemput anak-anak dari sekolah. Si Sulung cerita, “Bu, aku punya mainan baru nih. Vyel mau main gak?”
“Mainnya gimana, La?” Aku bertanya.
“Ayo, Kak. Ajarin. Kita main!” Si Bungsu dengan kehebohan seperti biasa.
“Gini…” Lalu Si Sulung menjelaskan caranya. Si Sulung memang lemah dalam menjelaskan sesuatu. Dengan sedikit ngerti gak ngerti, ya dianggap saja ngerti.
“Oke, sekarang kita main ya, Yel?”
“Ayo!”
Permainannya disebut Cici Putri. Si Sulung mulai bernyanyi,
Ci ci putri
Putrinya agung-agung
Cililit cilemung
Si Vyel minta kembang apa?
Si Bungsu dengan gegap gempita langsung berteriak, “Kembang api!” Si Sulung tadinya marah, “Kok kembang api?” Karena aku tak berhasil menahan tawa, meledak juga akhirnya. Huahuahua…!!! Si Bungsu sempat bingung. Ibu ketawa kenapa? Aku salahkah?
“Vyel, maksudnya Kakak itu kembang, bunga. Misalnya kembang sepatu, kembang melati, kembang mawar, gitu…” Sulit mau berhenti ketawa.
“Emang kembang api bukan kembang juga??”
Hehehe…
Tags: Senyum, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung
Posted in Kembangnya Kembang Api
Duh, Lama Banget Sih!
September 17th, 2009 Posted 12:01 am
Seperti biasa, sesekali sepulang menjemput anak-anak di sekolah kami sering mampir ke sebuah hypermarket dekat situ. Beli susu, beli biskuit, apa aja yang bukan masuk belanja bulanan.
Selesai putar sana-sini, ambil ini-itu, perut juga mulai keroncongan, waktunya bayar dan pulang! Hari biasa jam 10 begitu hypermarket manapun cenderung sepi. Jadi daripada antri, mending pilih kasir yang kosong. Ternyata gak ada. Semua kasir ada yang bayar biarpun cuma 1 orang.
Okelah, akhirnya cap-cip-cup pilih sebuah kasir yang ada pembelinya seorang ibu kira-kira berusia akhir 40 tahunan. Tidak terlalu tua sebetulnya. Aku mendorong troli untuk antri di situ. Setiap kali antri, aku selalu ngobrol dengan anak-anak, bercanda apa saja biar gak bete. Tapi kok kali ini lama ya? Kulihat belanjaan ibu itu juga gak banyak. Aku mulai nguping pembicaraan si ibu dengan mbak kasir. Wah ngobrol! Aduuhh… masa harus pindah? Males banget…
Akhirnya aku pasang tampang “antri”. Tau kan, wajah orang yang antri? Sedikit tidak bersahabat gitu? Mbak kasir melihat ekspresi mukaku mulai gak enak. Sesekali melirik ke aku. Si Bungsu duduk di atas troli, Si Sulung berdiri di belakang troli.
Aku dengar ibu itu ngobrol seputar kartu kreditnya, ini pertama kalinya pakai kartu kredit. Ooohh… noo…!! Ngapain juga dia cerita urusan kartu kredit sama mbak kasir? Rumpinya di arisan aja, Bu!
Seperti mengerti isi kepalaku, Si Bungsu yang mulutnya memang tanpa rem (Ibunya banget sih!) mulai ngomel, “Duh, lama banget sih!” Kontan ibu yang asik ngoceh itu nengok mencari sumber suara. Dengan warna suara begitu, tersangkanya hanya Si Bungsu. Lalu dia memandang dengan tatapan yang tidak bersahabat. Kupandang juga ibu itu dengan tatapan yang lebih tidak bersahabat. Dalam hati, “Mau ngomelin anak saya, bu? Silakan kalo ga malu sama umur!” Ternyata niat tinggal niat. Ibu itu langsung kabur! Begitu tiba giliran bayar, mbak kasir bilang, “Maaf lama, Bu…”
“Gak apa-apa, Mbak. Anak saya memang jujur kok!”
Tags: Senyum, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung
Posted in Duh Lama Banget Sih!
Minta Map, Bukan Amplop
September 16th, 2009 Posted 1:11 pm
Tadi malam Si Ayah baru aja pulang dari Palembang. Sudah sebulan ini seminggu sekali ke sana mengurus event triatlon internasional yang digelar kantornya.
Kemarin, press conference lokal digelar di Gubernuran. Satu set press release dalam map sudah disiapkan. Seorang teman kantor Si Ayah yang perempuan bertugas menjaga buku tamu dan map itu.
Para sekuriti Gubernuran yang berpakaian safari mendekat ke arah meja. “Mbak, mapnya masih ada?”
“Masih,” kata si teman kantor sambil menyerahkan map kepada sekitar 5 orang sekuriti itu.
Tidak lama berselang, kelima map itu bergeletakan dengan pasrah di meja lain. Si teman kantor ini memungutinya lagi. Kemudian si teman kantor ini lapor pada Si Ayah, “Mas, tadi beberapa sekuriti minta mapnya, ya aku kasih. Dipikir ada amplopnya kali ya, jadi digeletakin aja lagi.”
“Emang amplopnya kamu simpen?”
“Ya iya lah, kan dia minta map, bukan amplop.”
Tags: Senyum, Si Ayah
Posted in Minta Map Bukan Amplop






