Posts Tagged ‘Si Ayah’

Membuat Topi Natal bersama Ayah

8 Comments »

January 12th, 2010 Posted 9:25 pm

Sambungan dari Merangkai Bunga bersama Ibu

Hari Kegiatan Ayah dan Anak diadakan berbarengan dengan Pesta Natal, Sabtu 9 Januari 2010 di TKK Sang Timur.

“Mau bikin apa, Nak?” Si Ayah kebingungan karena dapat surat dari sekolah baru hari Kamis.
“Bikin topi Rudolf ya, Yah!” Si Bungsu semangat bener.
Gimana caranya?

Si Ayah cuma beli kertas kado motif, kertas kopi memang ada banyak di rumah buat bungkus kiriman buku. Apalagi? Udah itu doang!

Si Ayah juga ngintip beberapa situs kreativitas anak-anak buat ide bikin topi.
“Mau bikin topi apa sih?” Aku penasaran juga.
“Gak tau. Lihat aja besok.”
Waduh! Pasrah bener?

Sebelum mulai, aku cuma bisa bilang, “Yang bagus ya, Yah!”
“Ya…”

Berhubung Si Bungsu lagi ga fit, jadi ya lemes-lemes gimana gitu lah. Kayak apa kreasi Si Ayah the graphic designer? Beda sendiri dari SEMUA peserta deh! Untung Si Bungsu mau aja didandani hehehe…

Juara gak ya? Tunggu pengumumannya tgl 2 Februari 2010 pas ulang tahun Yayasan Sang Timur.

Foto lengkapnya bisa dilihat di sini.

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

No Comments »

January 5th, 2010 Posted 4:52 am

(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)) Kembali Waras, Kembali Cerdas “I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis [...]

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)

No Comments »

January 4th, 2010 Posted 9:16 pm

Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!” Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada [...]

Natal, Selalu Istimewa

No Comments »

November 30th, 2009 Posted 11:14 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009 Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku. Natal pertamaku tahun 2002 Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang [...]

Doa Ulang Tahun Buat Ayah

20 Comments »

November 10th, 2009 Posted 12:25 am

Mungkin dia bukan Suami yang baik
Dia tidak romantis dan tidak pernah merayu
Dia lebih penuh perhatian pada urusan kantor
Dia bisa menunda kepentingan keluarga di atas kepentingan kantor

Mungkin dia bukan Ayah yang baik
Dia tidak peka dan tidak penuh perhatian
Dia bukan sosok panutan yang baik
Dia lebih suka lembur daripada libur

Diam-diam, kami selalu berdoa
Agar Ayah bisa jadi sahabat kami
Yang lucu dan konyol
Tempat bercerita dan belajar

Tuhan,
Kembalikan Ayah yang dulu agar bisa jadi sahabat kami
Amin.

Selamat Ulang Tahun, Ayah!
Peluk-cium dari Ibu, Yla dan Vyel

10.11.09 | 12.01am

Hadiah Jujur dari Anak-anak

11 Comments »

November 2nd, 2009 Posted 9:15 am

Kartu-kartu ini diberikan pada kami kemarin pagi setelah sarapan.

“Ayah sama Ibu merem dulu!” Begitu teriak Si Sulung dan Si Bungsu sambil kembali ke meja makan.
“Sekarang buka matanya. Surprise!!” Keduanya mengacungkan gambarnya masing-masing.
Happy anniversary, Ibu!” kata mereka sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipiku.
Happy anniversary, Ayah!” kata mereka juga sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipi Si Ayah.

(more…)

Hari Ini, Tujuh Tahun Lalu

13 Comments »

November 1st, 2009 Posted 4:00 pm

Hari ini, Tujuh Tahun Lalu, Jumat Pertama, 1 November 2002 jam 16.00

Berawal dari strangers in the night, dua anak manusia antah berantah yang keranjingan minum kopi malam-malam ditemani rokok dan pembicaraan tak putus. Diyakinkan lewat “Celestine Prophecy” yang dimiliki masing-masing. Banyaknya kesamaan minat dan selera jadi terlalu tipikal untuk dibahas di sini. Malam itu, di sebuah kedai kopi di kawasan Senayan yang sekarang sudah tidak ada lagi, lilin di meja hanya bisa menari mengiringi obrolan, diskusi dan lelucon yang banjir dari dua anak manusia itu. Sang pemudi menyanyikan lagu ini dan diiyakan oleh Sang Pemuda.

Strangers in the night exchanging glances
Wond’ring in the night
What were the chances we’d be sharing love
Before the night was through

(more…)

Aku Marah di Hadapan Altar-Nya

No Comments »

October 19th, 2009 Posted 9:27 am

Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih [...]

Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu

No Comments »

September 29th, 2009 Posted 1:29 am

Sebenarnya tadi pagi waktu nyiapin anak-anak berpakaian mau berangkat ke sekolah sambil nonton berita pagi sudah terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau hehehe… Tadi pagi itu, di berita pagi sebuah tivi swasta, narasumbernya adalah seorang penyalur PRT dan Moza [...]

Minta Map, Bukan Amplop

9 Comments »

September 16th, 2009 Posted 1:11 pm

Tadi malam Si Ayah baru aja pulang dari Palembang. Sudah sebulan ini seminggu sekali ke sana mengurus event triatlon internasional yang digelar kantornya.

Kemarin, press conference lokal digelar di Gubernuran. Satu set press release dalam map sudah disiapkan. Seorang teman kantor Si Ayah yang perempuan bertugas menjaga buku tamu dan map itu.

Para sekuriti Gubernuran yang berpakaian safari mendekat ke arah meja. “Mbak, mapnya masih ada?”

“Masih,” kata si teman kantor sambil menyerahkan map kepada sekitar 5 orang sekuriti itu.

Tidak lama berselang, kelima map itu bergeletakan dengan pasrah di meja lain. Si teman kantor ini memungutinya lagi. Kemudian si teman kantor ini lapor pada Si Ayah, “Mas, tadi beberapa sekuriti minta mapnya, ya aku kasih. Dipikir ada amplopnya kali ya, jadi digeletakin aja lagi.”

“Emang amplopnya kamu simpen?”

“Ya iya lah, kan dia minta map, bukan amplop.”