Posts Tagged ‘Si Bungsu’

Hormat… G’rak!!

No Comments »

August 18th, 2010 Posted 12:56 pm

Sejak jadi homeschooler, ini adalah tahun pertama kami dengan suasana tanpa-upacara-di-sekolah. Apalagi karena momen ini jatuh di bulan puasa, alhasil di rumahku tidak ada kegiatan apapun. Si Sulung masih lumayan pernah ikut acara 17-an 3 kali, sementara Si Bungsu baru pertama kali ikut tahun lalu.

Pagi-pagi, menikmati upacara dari tivi. Seorang sahabat mampir ke rumah sembari menunggu anaknya yang upacara di sekolah dan bertanya, “Anak homeschooling ga upacara dong?” Pesan yang sama kuterima dari sahabat lain lewat surel. Hm… otakku gatal pingin bikin sesuatu. “Ilmu” mekanikku dan Si Ayah minim banget. Belum paham “ngelotok” soal teori seputar gear dan sebagainya. Yang penting semangat dulu! Kupandangi science set yang menanti dengan sabar untuk dirakit. Bikin apa ya…?

(more…)

Road to IRO 2010: Catat, Analisa, Perbaiki!

4 Comments »

June 16th, 2010 Posted 9:19 am

Rapor sudah diterima!
Libur telah tiba!
Si Sulung dan Si Bungsu sudah pamitan dengan sekolah lamanya. Penuh menjadi homeschooler!

Liburan. Hm… ngapain ya? Eh, lupa! Kan Si Sulung mau persiapan buat Indonesian Robotic Olympiad (IRO) 2010. Emang sih, masih tgl 14 Agustus nanti. Tapi kan, sekarang aja belum tau mau bikin model apa. Mumpung liburan, bisa latihan setiap hari nih.

Target yang harus dibuat: mobil model Tamiya. Untuk kategori Road Runner, model tidak terlalu diperhitungkan, kecepatan yang perlu perhatian penuh. Aku harus belajar apa itu gear, axle, half bashing, full bashing, pulley, dan masih banyak lagi. Hm… mari menjadi mekanik!

(more…)

“Toilet!”

14 Comments »

April 19th, 2010 Posted 9:37 am

Menjadi ibu beranak dua rasanya sama seperti ibu beranak satu: selalu penuh kejutan! Si Sulung memang menjadi “bahan eksperimen”. Jika berhasil, akan diterapkan pada Si Bungsu. Niatnya begitu. Pada kenyataannya, hasil ekperimen yang berhasil itu belum tentu juga berhasil pada adiknya. Kembali ke no: eksperimen ulang!

Begitu juga di urusan membaca. Si Sulung diajarkan membaca ketika usia empat tahun lewat pengenalan huruf, baru pengenalan kata. Berhasil. Diterapkan pada Si Bungsu, tetap nihil. Ganti strategi. Langsung kenalkan bentuk kata pada Si Bungsu, baru diurai hurufnya. Berhasil!

Setelah mampu membaca dan menuliskan namanya sendiri—meskipun masih gagap untuk mengeja—Si Bungsu mulai fasih “membaca” beberapa simbol petunjuk dan logo macam  “ATM BCA”, “McDonald’s”, “KFC”, dan banyak lagi. Jika logo itu berbentuk kata memang agak sulit membacanya.

(more…)

Drama Lain dari Sebuah Kompetisi

16 Comments »

April 14th, 2010 Posted 11:43 am

Jakarta Junior Robotics Competition 2010
Robotics Education Center (REC)

Setelah latihan keras selama dua bulan dan super intensif selama dua minggu, akhirnya tiba juga waktunya. Ajang kompetisi terbesar yang pernah diikuti Si Sulung dan Si Bungsu, apalagi cakupannya nasional (ada peserta dari Pekanbaru juga lho!). Sejak anak-anak menjadi outschooler (terdaftar di sekolah konvensional tapi mengikuti program homeschooling), ajang ini menjadi sangat penting. Ini akan masuk ke “rapor” berbentuk jurnal mereka. Deg-degan, pasrah, gugup, panik, semua jadi satu.

Gavryel Griffin Denel dengan nomor peserta 67 terdaftar dalam kategori Mozaic 1D (usia 4-5 tahun) bersaing dengan 16 peserta.

Mikayla Karissa Denel dengan nomor peserta 120 terdaftar dalam kategori Mozaic 3D (usia 6-7 tahun) bersaing dengan 23 peserta.

Ada lagi kategori juara favorit berdasarkan polling SMS yang dikirimkan dengan hadiah ponsel.

(more…)

Ih, Yesus Kereenn…!!

6 Comments »

April 8th, 2010 Posted 3:35 am

Kamis Putih. Sore.

Sepulang dari memenuhi janji temu dengan dua orang Nuliser, aku terjebak macet gila-gilaan. Dari Semanggi ke rumahku di Harapan Indah butuh waktu tiga jam! Niat untuk misa sore pupus sudah. Sepanjang perjalanan, aku harus menghibur Si Sulung dan Si Bungsu dengan kisah sengsara Yesus.

Cerita tentunya dimulai sejak Minggu Palma ketika Yesus masuk Yerusalem. Terus mengalir sampai akhirnya Yesus didera dan memanggul salib sampai ke Golgota. Perlu banyak detail supaya cerita berakhir ketika kami memasuki gerbang kompleks, seperti siapa perempuan yang membasuh wajah Yesus, siapa yang menebas telinga kanan prajurit, siapa yang membantu memanggul salib dan sebagainya. Tentunya, cerita disinkronisasi dengan ajaran guru di sekolah.

(more…)

Membuat Topi Natal bersama Ayah

8 Comments »

January 12th, 2010 Posted 9:25 pm

Sambungan dari Merangkai Bunga bersama Ibu

Hari Kegiatan Ayah dan Anak diadakan berbarengan dengan Pesta Natal, Sabtu 9 Januari 2010 di TKK Sang Timur.

“Mau bikin apa, Nak?” Si Ayah kebingungan karena dapat surat dari sekolah baru hari Kamis.
“Bikin topi Rudolf ya, Yah!” Si Bungsu semangat bener.
Gimana caranya?

Si Ayah cuma beli kertas kado motif, kertas kopi memang ada banyak di rumah buat bungkus kiriman buku. Apalagi? Udah itu doang!

Si Ayah juga ngintip beberapa situs kreativitas anak-anak buat ide bikin topi.
“Mau bikin topi apa sih?” Aku penasaran juga.
“Gak tau. Lihat aja besok.”
Waduh! Pasrah bener?

Sebelum mulai, aku cuma bisa bilang, “Yang bagus ya, Yah!”
“Ya…”

Berhubung Si Bungsu lagi ga fit, jadi ya lemes-lemes gimana gitu lah. Kayak apa kreasi Si Ayah the graphic designer? Beda sendiri dari SEMUA peserta deh! Untung Si Bungsu mau aja didandani hehehe…

Juara gak ya? Tunggu pengumumannya tgl 2 Februari 2010 pas ulang tahun Yayasan Sang Timur.

Foto lengkapnya bisa dilihat di sini.

Natal, Selalu Istimewa

No Comments »

November 30th, 2009 Posted 11:14 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009 Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku. Natal pertamaku tahun 2002 Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang [...]

Merangkai Bunga bersama Ibu

1 Comment »

November 14th, 2009 Posted 6:52 pm

Hari Ibu di TKK Sang Timur dirayakan jauh lebih cepat jadi Sabtu, 14 November 2009. Anak dan Ibu bekerja sama membuat rangkaian bunga.

“Ayo kita merangkai bunga, Bu!” Kata Si Bungsu. Waduh! Seumur-umur aku paling ga bisa disuruh merangkai bunga! Merangkai kata-kata aja deh lebih pasti.
Hm… gimana ya?

Untung aja! Kan kemarin Si Ayah baru ulang tahun. Lumayan ada bekas pot bunga plus oasisnya. Eh, masih ada juga bunga yang masih lumayan segar.

Dipakai aja deh… Daur ulang…
Pokoknya asal tancep. Anaknya kerja, ibunya ngerecokin hehehehe…

Udah gak pede banget rangkaiannya yang paling antik karena bunganya ga segar lagi. Yang lain kan pakai mawar dan daisy yang jauh lebih cantik dan warna-warni.

Ternyata..
Juara II! Horee…!! Itu juga udah bagus, kan daur ulang dari rangkaian bunga sebelumnya hehehe…

Akhirnya punya piala juga di rumah. Seumur-umur, gak ada yang pernah punya piala nih, termasuk Ayah-Ibunya.

Karena menang, bunganya taruh di Kapel Sekolah aja, hadiah buat Yesus yang udah bantuin kita jadi juara.

Terima kasih, Tuhan…

Foto lengkapnya bisa dilihat di sini.

Bersambung ke Membuat Topi Natal bersama Ayah

Hadiah Jujur dari Anak-anak

11 Comments »

November 2nd, 2009 Posted 9:15 am

Kartu-kartu ini diberikan pada kami kemarin pagi setelah sarapan.

“Ayah sama Ibu merem dulu!” Begitu teriak Si Sulung dan Si Bungsu sambil kembali ke meja makan.
“Sekarang buka matanya. Surprise!!” Keduanya mengacungkan gambarnya masing-masing.
Happy anniversary, Ibu!” kata mereka sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipiku.
Happy anniversary, Ayah!” kata mereka juga sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipi Si Ayah.

(more…)

Hancur!! Hancur!! Haleluya!!

9 Comments »

October 8th, 2009 Posted 8:27 am

Semalam. Perjalanan menuju dokter gigi dekat rumah dari Kelapa Gading bersama Si Sulung dan Si Bungsu. Sengaja tunggu agak malam supaya tidak menemui kemacetan.

Karena radio tape sudah tidak mampu lagi memutar kaset, hanya bisa radio dengan penangkapan sinyal yang peka dan suara jernih, maka dipasanglah semacam flashdisk adapter (FM transmitter) yang menghubungkan flashdisk ke radio dengan dicolokkan ke lubang tempat pemantik api. Cara kerjanya gelombang radio di adapter itu dicocokkan dengan radio di gelombang yang kosong tidak ada stasiun radio. Saking pekanya radio itu, di saluran kosong pun kadang sering terkontaminasi bunyi-bunyian dari stasiun radio antah-berantah.

(more…)

Kembangnya Kembang Api

6 Comments »

September 18th, 2009 Posted 12:01 am

Siang itu, perjalanan pulang jemput anak-anak dari sekolah. Si Sulung cerita, “Bu, aku punya mainan baru nih. Vyel mau main gak?”
“Mainnya gimana, La?” Aku bertanya.
“Ayo, Kak. Ajarin. Kita main!” Si Bungsu dengan kehebohan seperti biasa.
“Gini…” Lalu Si Sulung menjelaskan caranya. Si Sulung memang lemah dalam menjelaskan sesuatu. Dengan sedikit ngerti gak ngerti, ya dianggap saja ngerti.
“Oke, sekarang kita main ya, Yel?”
“Ayo!”

Permainannya disebut Cici Putri. Si Sulung mulai bernyanyi,

Ci ci putri
Putrinya agung-agung
Cililit cilemung
Si Vyel minta kembang apa?

Si Bungsu dengan gegap gempita langsung berteriak, “Kembang api!” Si Sulung tadinya marah, “Kok kembang api?” Karena aku tak berhasil menahan tawa, meledak juga akhirnya. Huahuahua…!!! Si Bungsu sempat bingung. Ibu ketawa kenapa? Aku salahkah?

“Vyel, maksudnya Kakak itu kembang, bunga. Misalnya kembang sepatu, kembang melati, kembang mawar, gitu…” Sulit mau berhenti ketawa.
“Emang kembang api bukan kembang juga??”

Hehehe…

Duh, Lama Banget Sih!

5 Comments »

September 17th, 2009 Posted 12:01 am

Seperti biasa, sesekali sepulang menjemput anak-anak di sekolah kami sering mampir ke sebuah hypermarket dekat situ. Beli susu, beli biskuit, apa aja yang bukan masuk belanja bulanan.

Selesai putar sana-sini, ambil ini-itu, perut juga mulai keroncongan, waktunya bayar dan pulang! Hari biasa jam 10 begitu hypermarket manapun cenderung sepi. Jadi daripada antri, mending pilih kasir yang kosong. Ternyata gak ada. Semua kasir ada yang bayar biarpun cuma 1 orang.

Okelah, akhirnya cap-cip-cup pilih sebuah kasir yang ada pembelinya seorang ibu kira-kira berusia akhir 40 tahunan. Tidak terlalu tua sebetulnya. Aku mendorong troli untuk antri di situ. Setiap kali antri, aku selalu ngobrol dengan anak-anak, bercanda apa saja biar gak bete. Tapi kok kali ini lama ya? Kulihat belanjaan ibu itu juga gak banyak. Aku mulai nguping pembicaraan si ibu dengan mbak kasir. Wah ngobrol! Aduuhh… masa harus pindah? Males banget…

Akhirnya aku pasang tampang “antri”. Tau kan, wajah orang yang antri? Sedikit tidak bersahabat gitu? Mbak kasir melihat ekspresi mukaku mulai gak enak. Sesekali melirik ke aku. Si Bungsu duduk di atas troli, Si Sulung berdiri di belakang troli.

Aku dengar ibu itu ngobrol seputar kartu kreditnya, ini pertama kalinya pakai kartu kredit. Ooohh… noo…!! Ngapain juga dia cerita urusan kartu kredit sama mbak kasir? Rumpinya di arisan aja, Bu!

Seperti mengerti isi kepalaku, Si Bungsu yang mulutnya memang tanpa rem (Ibunya banget sih!) mulai ngomel, “Duh, lama banget sih!” Kontan ibu yang asik ngoceh itu nengok mencari sumber suara. Dengan warna suara begitu, tersangkanya hanya Si Bungsu. Lalu dia memandang dengan tatapan yang tidak bersahabat. Kupandang juga ibu itu dengan tatapan yang lebih tidak bersahabat. Dalam hati, “Mau ngomelin anak saya, bu? Silakan kalo ga malu sama umur!” Ternyata niat tinggal niat. Ibu itu langsung kabur! Begitu tiba giliran bayar, mbak kasir bilang, “Maaf lama, Bu…”

“Gak apa-apa, Mbak. Anak saya memang jujur kok!”

Mental Pendidikan Plagiat

2 Comments »

August 6th, 2009 Posted 7:54 pm

Karena sudah Surat Permohonan Maaf yang layak dimuat di http://lensadarbi.blogspot.com/2009/08/surat-untuk-ibu-g-lini-hanafiah_15.html, maka atrikel ini saya edit.

Siang tadi, iseng-iseng aku buka www.copyscape.com. Sebuah layanan situs yang bisa mendeteksi apakah blog kita dikopi orang. Biasanya, hasil yang keluar ya dari blogku juga atau dari www.yuknulis.com, blog yang aku bangun untuk mewadahi teman-teman penulis pemula. Begitu keluar hasilnya dari blog lain, aku pikir memang “dipinjam”, karena aku sering mengalami begitu. Isi di-copy paste. Utuh, tidak kurang tidak lebih. Biasanya, setelah aku beri komentar, mereka minta ijin baik-baik. Lagipula, mereka tidak membubuhkan nama mereka seolah-olah itu adalah karya mereka.

Tapi ini berbeda. Judul aslinya “Aku Tidak Bodoh, Ma” diganti dengan “Hari Anak Nasional 2009″, gambar Si Sulung dan Si Bungsu diganti dengan clipart seorang gadis kecil berjilbab, lalu diberi nama penulisnya “Adie Adrie“. Seketika kepalaku terasa panas, badan gemetar menahan emosi. Kenapa begini?

(more…)

Aku Tidak Bodoh, Ma

No Comments »

July 23rd, 2009 Posted 8:32 am

Hari Anak Nasional 2009

IMG_0893-crop-webHari ini pestanya anak-anak Indonesia. Apakah mereka sungguh bisa menjadi diri sendiri? Aku tidak yakin. Banyak anak-anak yang tidak bisa jadi dirinya sendiri. Sadarkah bahwa tuntutan lingkungan terutama orang tua menyiksa mereka?

Kemarin, tetangga sebelahku – yang memang selalu berteriak – bicara di telepon. Agak sulit untuk tidak menguping apapun yang dikatakan ibu itu, suaranya terdengar ke mana-mana. Apalagi aku sambil jemur baju di teras, percakapan sebelah pihak itu jelas betul terdengarnya.


“Ya, Bu. Biarin aja! Pokoknya anak saya jangan boleh pulang kalau belum bisa baca soalnya. Kemarin nilainya B, Papanya marah banget. Nilainya jelek!” Anak yang dibicarakan itu usianya sebaya dengan Si Sulung, harusnya juga kelas 1 SD. Bertetangga sebelahan dengan ibu itu membuatku stress dengan teriakannya sepanjang waktu, jadi ya sudahlah gak usah berakrab ria. Makanya aku gak tau anak itu sekolah di mana.

(more…)

Adventurous Holiday

No Comments »

July 8th, 2009 Posted 12:01 am

Kamis, 2 Juli 2009 pagi, tujuan Ciputih, Ujung Kulon, waktu keberangkatan jam 8 pagi (mulur dari rencana berangkat subuh), perkiraan waktu perjalanan 6 jam naik Si Putih. Dari Bekasi, potong jalan langsung ke BSD terus ke Tangerang. Keluar di pintu tol Serang Barat, lewat Menes. Si Sulung dan Si Bungsu semangat sekali sejak seminggu lalu. Segala peralatan main pasir sudah disiapkan. Sampai di Panimbang, mulai terlihat pasir pantainya yang putih. Rasa lelah dan bete yang sempat hinggap mulai terobati. Wah udah deket nih. Tapi mana? Kok belum sampai juga? Ternyata dari Panimbang masih dua jam lagi. Melewati jalan berbukit naik-turun yang tidak mulus. Untuk ukuran sedan masih bisa lewat lah.

(more…)

Becak Panggilan

No Comments »

June 23rd, 2009 Posted 5:50 pm

Tadi sore aku antar Si Sulung les bahasa Inggris di ruko depan. Si Putih lagi dibawa Si Ayah ke distributor bersama 700exp buku. Jadilah kita – aku, Si Sulung dan Si Bungsu – naik becak. Tentu saja mereka gegap gempita. Biasanya SI Sulung kutinggal lalu kujemput. Dengan ongkos 7.000 sekali jalan, kalau aku pulang dulu bisa ngabisin 28.000 dong. Jadilah aku nunggu di sana.Pas pulang, udah siap-siap mikir mau naik becak dari mana nih? Eh, tumben-tumbenan ada becak mangkal. Biasanya gak tentu, kadang ada, kadang gak. Tergantung mood para penarik becaknya kali?

(more…)

Kemping Ulang Tahun Ibu

No Comments »

March 9th, 2009 Posted 10:02 pm

makan

“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009

Tambah Usia – KLA Project – Klasik

Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semua

Kau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih cita

Syukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpah

Ikuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah

(Tambah Usia, KLa Project)

Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.

Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.

(more…)