Posts Tagged ‘Surat’

“Apa kabar, Non?”

No Comments »

June 17th, 2010 Posted 1:18 am

Siang tadi, seorang teman berbincang lewat layanan pesan instan. Tanpa sengaja ia menyebut namamu. Seketika konsentrasiku buyar. Kangenku menyeruak seenaknya. Tak kupandangi lagi layar monitorku. Aku lebih suka memandangi rintik hujan dari balik jendela. Gemericiknya mengingatkan pada renyah leluconmu. Apa kabar kamu? Lama sekali kita tidak ngobrol. Genap enam minggu sejak terakhir kudengar suaramu. Aku kangen [...]

Sharing: Homeschooler yang sudah jadi “orang” (1)

7 Comments »

June 4th, 2010 Posted 5:00 pm

Surat dari Margareta Kesumadewi pelaku homeschooler yang sekarang sudah jadi “orang”. Mudah-mudahan sharing dari Reta menjadi “pelipur lara” atas segala label negatif homeschooling.

hey mbak lini n smuaa :D

reta dulu HS pas SMA, 2 taun.
jujur, gara2nya ga suka sama sistem pendidikan sekolah formal. di kelas cuma nyatet yang didikte guru, yang dibahas pun semua sudah ada di buku (yang menurut reta harusnya guru ngasih pengetahuan di luar buku saat di kelas, kalo cuma dari buku kan bisa baca sendiri), belum lagi tugas2 dan PR yang kebanyakan juga cuma nyalin jawaban dari buku. dan giliran ada pertanyaan tentang materi di luar buku, guru2 pada ga bisa jawab.

(more…)

Kepada Yth. Ibu Guru

16 Comments »

January 25th, 2010 Posted 11:00 am

Ini adalah surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru dalam artikel Bu Guru, Belajar Dong! (2). Surat ini sudah saya sunting.

Kepada Yth.

Ibu Guru

Wali Kelas 1B

Dengan hormat,

Kami, orang tua Mikayla Karissa Denel kelas 1B, menyatakan keberatan atas tindakan Ibu Guru terhadap Mikayla kemarin siang. Tindakan Ibu Guru untuk “menanyai” Mikayla dengan cara tersebut sangat tidak arif. Mikayla tidak diberi kesempatan untuk menceritakan seluruh kejadiannya. Menanyai anak dengan suara keras dengan penekanan penuh, pertanyaan yang “terarah” dan wajah yang sangat dekat (hanya sejengkal) dari wajah Mikayla tentu membuatnya tertekan. Dalam keadaan tertekan, siapapun akan mengakui hal yang tidak dilakukannya asal terbebas dari tekanan.

Saya memang tidak melihat kejadiannya. Mikayla bercerita bahwa ia menggunting rambutnya SENDIRI, lalu Si A meminjam gunting dan ikut menggunting rambutnya sendiri juga. Baru kemudian Si B meminjam gunting untuk menggunting rambut Si C. Kalaupun ketiganya sudah ditanyai, lalu Si B dan Si C menyatakan Mikayla yang berbuat, dalam hal ini kesaksiannya saya sangsikan. Para “tersangka” sangat tidak valid keterangannya sebagai saksi. Bagaimanapun, tidak ada orang yang mau disalahkan. Sangat manusiawi kalau semuanya tidak mau mengakui kebenaran. Yang seharusnya menjadi saksi adalah murid lain yang melihat, bukan Si B dan Si C.

(more…)

Surat untuk Sahabat Pena (3)

No Comments »

December 4th, 2009 Posted 12:17 pm

Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan, Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian  lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke [...]