Posts Tagged ‘the De.N.eL.s’

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

No Comments »

January 5th, 2010 Posted 4:52 am

(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)) Kembali Waras, Kembali Cerdas “I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis [...]

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)

No Comments »

January 4th, 2010 Posted 9:16 pm

Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!” Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada [...]

Bandung, Pernikahan

No Comments »

December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm

Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore… Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung [...]

Natal, Selalu Istimewa

No Comments »

November 30th, 2009 Posted 11:14 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009 Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku. Natal pertamaku tahun 2002 Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang [...]

Doa Ulang Tahun Buat Ayah

20 Comments »

November 10th, 2009 Posted 12:25 am

Mungkin dia bukan Suami yang baik
Dia tidak romantis dan tidak pernah merayu
Dia lebih penuh perhatian pada urusan kantor
Dia bisa menunda kepentingan keluarga di atas kepentingan kantor

Mungkin dia bukan Ayah yang baik
Dia tidak peka dan tidak penuh perhatian
Dia bukan sosok panutan yang baik
Dia lebih suka lembur daripada libur

Diam-diam, kami selalu berdoa
Agar Ayah bisa jadi sahabat kami
Yang lucu dan konyol
Tempat bercerita dan belajar

Tuhan,
Kembalikan Ayah yang dulu agar bisa jadi sahabat kami
Amin.

Selamat Ulang Tahun, Ayah!
Peluk-cium dari Ibu, Yla dan Vyel

10.11.09 | 12.01am

Hadiah Jujur dari Anak-anak

11 Comments »

November 2nd, 2009 Posted 9:15 am

Kartu-kartu ini diberikan pada kami kemarin pagi setelah sarapan.

“Ayah sama Ibu merem dulu!” Begitu teriak Si Sulung dan Si Bungsu sambil kembali ke meja makan.
“Sekarang buka matanya. Surprise!!” Keduanya mengacungkan gambarnya masing-masing.
Happy anniversary, Ibu!” kata mereka sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipiku.
Happy anniversary, Ayah!” kata mereka juga sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipi Si Ayah.

(more…)

Lebaran Terakhirku

No Comments »

September 21st, 2009 Posted 5:20 pm

Jumat malam lalu sepulang dari Kelapa Gading menuju rumah di Harapan Indah, Bekasi, aku mengamati kemacetan yang dipenuhi pemudik bermotor. Jalur Jl. Raya Bekasi  dan Jl. Raya Kalimalang sudah pasti dipenuhi pemudik bermotor. Bahkan persimpangan masuk gerbang komplek rumah dipasangi tanda “Jalur Pantura”. Para pemudik itu dapat dikenali dengan khas: membawa tas besar atau kardus yang [...]

Mental Pendidikan Plagiat

2 Comments »

August 6th, 2009 Posted 7:54 pm

Karena sudah Surat Permohonan Maaf yang layak dimuat di http://lensadarbi.blogspot.com/2009/08/surat-untuk-ibu-g-lini-hanafiah_15.html, maka atrikel ini saya edit.

Siang tadi, iseng-iseng aku buka www.copyscape.com. Sebuah layanan situs yang bisa mendeteksi apakah blog kita dikopi orang. Biasanya, hasil yang keluar ya dari blogku juga atau dari www.yuknulis.com, blog yang aku bangun untuk mewadahi teman-teman penulis pemula. Begitu keluar hasilnya dari blog lain, aku pikir memang “dipinjam”, karena aku sering mengalami begitu. Isi di-copy paste. Utuh, tidak kurang tidak lebih. Biasanya, setelah aku beri komentar, mereka minta ijin baik-baik. Lagipula, mereka tidak membubuhkan nama mereka seolah-olah itu adalah karya mereka.

Tapi ini berbeda. Judul aslinya “Aku Tidak Bodoh, Ma” diganti dengan “Hari Anak Nasional 2009″, gambar Si Sulung dan Si Bungsu diganti dengan clipart seorang gadis kecil berjilbab, lalu diberi nama penulisnya “Adie Adrie“. Seketika kepalaku terasa panas, badan gemetar menahan emosi. Kenapa begini?

(more…)

Adventurous Holiday

No Comments »

July 8th, 2009 Posted 12:01 am

Kamis, 2 Juli 2009 pagi, tujuan Ciputih, Ujung Kulon, waktu keberangkatan jam 8 pagi (mulur dari rencana berangkat subuh), perkiraan waktu perjalanan 6 jam naik Si Putih. Dari Bekasi, potong jalan langsung ke BSD terus ke Tangerang. Keluar di pintu tol Serang Barat, lewat Menes. Si Sulung dan Si Bungsu semangat sekali sejak seminggu lalu. Segala peralatan main pasir sudah disiapkan. Sampai di Panimbang, mulai terlihat pasir pantainya yang putih. Rasa lelah dan bete yang sempat hinggap mulai terobati. Wah udah deket nih. Tapi mana? Kok belum sampai juga? Ternyata dari Panimbang masih dua jam lagi. Melewati jalan berbukit naik-turun yang tidak mulus. Untuk ukuran sedan masih bisa lewat lah.

(more…)

Juara Tanpa Piala

1 Comment »

June 9th, 2009 Posted 5:44 pm

Sabtu sore kemarin tgl 6 Juni 2009, Si Sulung menari dan main angklung di acara Pentas Seni TKK Sang Timur, Cakung. Sejak seminggu sebelumnya, seperti biasa aku bertanya tarinya seperti apa blablabla. Seperti biasa, jawabannya, “Ya gitu deh…” Berbekal otak yang “hang”, aku cuma berpesan, “Nak, kalau menari itu yang semangat, jangan lemes seperti orang kurang makan. Kalau salah, menari aja terus, jangan berhenti. Senyum ya.”

Sabtu pagi, anak-anak mengadakan Gladi Resik. Dengan gegap gempita tentu aku menunggui dan merekam. Ekskul angklung tampil sebagai pembuka. Baru naik panggung, Si Sulung sudah senyum lebar. Serius sekali wajahnya menatap Ibu Guru Dirigen dengan not-not di papan. Pada pertengahan, lagi-lagi baru muncul senyumnya mengembang dengan lebar. Menarinya juga semangat sekali. Begitu selesai dia bertanya, “Bu, gimana tadi? Bagus gak?”
“Naahh… gitu dong! Anak Ibu kalau menari semangat.”
“Tapi kalau semangat jadi keringetan…”
“Ingat tante-tante yang latihan teater di sekolah Ibu waktu itu? Semua keringetan kan? Itu karena tampilnya semangat. Nanti dibilangin sama Om Ivan supaya make up dan sanggulnya gak luntur ya?”

(more…)