Posts Tagged ‘the De.N.eL.s’

E-book Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat

No Comments »

November 9th, 2011 Posted 10:00 am

Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat

G. Lini Hanafiah & Mikayla Karissa Denel
ISBN: 978-979-18815-5-5
Penerbit: Via Lattea Foundation
60 hal
18×18 cm

Untuk mengunduh, silakan klik di sini.

Belajar Itu…

No Comments »

May 2nd, 2011 Posted 3:27 pm

Hari Pendidikan Nasional 2011 di mata Si Sulung Mikayla (8 tahun) & Si Bungsu Gavryel (5 tahun).

Belajar itu…

Di luar kelas, rekreasi sambil belajar

Supaya pintar dan tahu banyak hal. Jadi, aku bisa ngajar anak-anak.

Tidak mengenal usia. Orang dewasa, kakek-nenek semua harus belajar supaya pintar terus.

(more…)

Bukan Pawai Kostum

No Comments »

April 21st, 2011 Posted 3:20 pm

Entah mengapa, Hari Kartini selalu identik dengan pawai berkostum. Sejak TK sampai punya anak berumur 8 tahun, aku masih gak ngerti. Apa hubungannya Ibu RA Kartini yang mulia dengan kostum itu ya?

Mungkin maksudnya supaya anak perempuan Indonesia bisa memiliki berbagai profesi, bukan cuma ngendon di dapur. Pertanyaannya: yang ikut pawai itu kan ada anak laki-laki juga, apa mereka juga ikut emansipasi wanita?

Buatku yang memilih untuk mendidik anak di rumah dan tidak ke sekolah, lebih tepat kalau pawai kostum itu dirayakan di Hari Anak Nasional. Biar anak-anak mengenal berbagai profesi seperti penyulih suara, jurnalis, aktor dan aktris, seniman, bahkan juga pedagang di pasar.

(more…)

Ulang Tahunku ke-7

10 Comments »

May 16th, 2010 Posted 4:49 pm

(Mikayla Karissa Denel)

Hari kamis, 13-5-2010, aku ulang tahun ke-7. Banyak yang bilang, “Selamat ulang tahun, Yla.”

Ada dua yang mengasih hadiah untuk aku, Ko Ida dan Tante Joyce.

Ibu dan Ayah kasih hadiahnya main di Mikrobot. Aku suka sekali main di sana. Ada juga teman-teman lain. Aku sendiri yang bicara dengan Bahasa Indonesia yang lain “speak English”. Aku sendiri yang perempuan, semua pada laki-laki.

(more…)

Selamat Jalan, Koh

2 Comments »

May 9th, 2010 Posted 9:39 pm

“Lin, Koh Gwan Hok meninggal jam 1 semalam.” Aku terhenyak. Kuberikan ponselku pada Si Ayah.

“Siapa?” tanyanya bingung.

“Koh Gwan Hok meninggal,” cuma itu yang keluar dari mulutku.

Koh Gwan Hok adalah kakak sepupu-iparku. Mertuanya dan mertuaku kakak-adik. Rumah kami bersebelahan komplek. Anak kami pernah satu sekolah. Ngkoh mungkin tidak istimewa tapi menjadi salah satu kerabat yang meluangkan waktunya untuk hadir ke pernikahanku.

Belakangan Koh Gwan Hok memang sakit. Usianya baru 53 tahun ketika ia menutup mata. Nia baru kelas 1 SMP dan Rian baru kelas 3 SMA. Usia yang lebih muda ketimbang Papa meninggal 13 tahun lalu.

Usai mendapat kabar, Si Ayah bersiap ke rumah duka St. Carolus. “Kamu sama anak-anak nanti aja agak sore. Mamah sama Cie datang siang ini. Anak-anak jangan pakai baju merah.” Dalam adat tionghoa, warna merah adalah lambang kegembiraan. Tidak cocok untuk melayat. Menunggu sore, aku mampir ke ruko tempat homeschooling-ku yang akan dibuka Juli ini.

Menjelang sore, Si Ayah mengirim pesan singkat, “Misa tutup peti jam 17.30.” Berarti aku harus berangkat paling lambat jam 4 sore.

Partnerku pamit hendak ke gereja jam 5 sore. “Ikut?” tawarnya.

“Nggak deh. Misa tutup peti jam 17.30. Titip doa aja.”

Kami bubar. Aku meluncur ke Salemba. Baru ingat ada janji chatting dengan seorang Nuliser.

“Mbak, sori ga bisa onlen. Sepupu Danny meninggal. Aku lagi otw ke Salemba,” kukirim pesan singkat itu ke ponselnya.

Satu jam kemudian, aku tiba di rumah duka. Mama Mertua dan Kakak Ipar sudah di sana.

“Masuk?” tanya Si Ayah. Aku mencari Cie Nen, Nia dan Rian. Melihat Kakak sepupu-iparku itu rasa bersalah yang besar menyerbu. Aku satu-satunya kerabat yang bertetangga, harusnya aku lebih intens berhubungan, harusnya aku bisa banyak membantu, harusnya… harusnya… harusnya….

Kuhampiri juga Cie Nen. Kusalam, kupeluk, kucium. Aku menuju peti mati. Rasanya aneh, janggal. Ada energi-entah-apa yang tak bisa kujelaskan. Seakan dia berdiri di sebelahku sambil tersenyum. Aku berdoa singkat. Entah apa yang kudoakan, aku kehabisan kata-kata. Kuamati isi petinya. Kaca mata, baju, Puji Syukur, dan ada beberapa barang pribadi lainnya. Berjas hitam, sepatu putih, dan menggenggam rosario biru. Ini terakhir kalinya kami semua bisa memandangi wajahnya secara langsung. Usai misa, peti ditutup.

Si Ayah sempat cerita, Koh Gwan Hok melihat cahaya putih. Mungkin saja itu Tuhan. “Aku mau sama anak-anak dulu.” Permohonannya dikabulkan. Kondisinya sempat stabil untuk sehari. Situasi yang umum terjadi pada mereka yang tak lama lagi menghembukan napas terakhirnya. Malam itu, ia sempat mendapat sakramen perminyakan. Malam itu juga, napas terakhirnya dihembuskan di tengah keluarganya, di samping istri tercintanya. Sungguh till death do us part.

Kupandangi Nia dan Rian dari jauh. Kedua anak super pendiam ini diam seperti biasanya. Matanya tidak sembab. Aku teringat ketika Papa meninggal. Aku juga tidak menangis. Sampai gundukan tanah menutupi jasadnya aku tetap tidak menangis. Saat beranjak dari makamnya aku langsung pingsan. Begitukah yang terjadi pada Nia dan Rian?

Betapapun, sedetik setelah makam ditutup, kehidupan keluarga yang ditinggalnya mendadak berubah drastis, siap tidak siap. Apa yang ada menjadi tiada. Biasanya makan malam bersama, tidak lagi. Biasanya ada yang ngomeli, tidak lagi. Itu yang kurasakan ketika Papa pergi. Tidak ada lagi omelan Papa yang kukangeni sampai hari ini.

Ingatanku kembali ke saat terakhir Koh Gwan Hok mampir ke rumah ketika Mama Mertua datang. Itu saat terakhir aku bertemu dengannya dalam keadaan sehat. Lama setelah itu, ketika sinchia (tahun baru imlek) aku ke rumahnya sekalian menjenguk Mama Mertuanya (tantenya Danny) yang baru keluar dari rumah sakit. Aku tidak bertemu, ia sedang tidur.

Kuingat juga saat aku meriang dan tidak bisa bangun. Ia yang mengantarku ke dokter karena Si Ayah sedang rapat.

“Kenapa kita harus mati, Bu?” kedua anakku mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Mengemas jawaban tentang kematian pada anak berusia empat dan tujuh tahun bukan hal remeh. Kujelaskan sesuai kemampuanku dengan susah payah. “Meninggal artinya kita sudah pulang ke Surga sama Tuhan, jadi nggak sakit lagi,” kututup ceritaku.

Mungkin tak banyak yang bisa kuingat tentangnya. Dari yang sedikit itu, semuanya melekat padaku. Semoga catatan ini bisa terus menjadi kenangan bagi kita semua.

Saat meninggalkan rumah duka, kudaraskan kalimat sederhana.

Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tapi, bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

Tuhan, sembuhkanlah hati keluarga yang ditinggalkan. Amin.

Selamat jalan, Koh Gwan Hok. Maafkan kami semua yang tidak menjadi tetangga yang baik. Semoga jiwamu kekal di Surga bersama Bapa.

“Toilet!”

14 Comments »

April 19th, 2010 Posted 9:37 am

Menjadi ibu beranak dua rasanya sama seperti ibu beranak satu: selalu penuh kejutan! Si Sulung memang menjadi “bahan eksperimen”. Jika berhasil, akan diterapkan pada Si Bungsu. Niatnya begitu. Pada kenyataannya, hasil ekperimen yang berhasil itu belum tentu juga berhasil pada adiknya. Kembali ke no: eksperimen ulang!

Begitu juga di urusan membaca. Si Sulung diajarkan membaca ketika usia empat tahun lewat pengenalan huruf, baru pengenalan kata. Berhasil. Diterapkan pada Si Bungsu, tetap nihil. Ganti strategi. Langsung kenalkan bentuk kata pada Si Bungsu, baru diurai hurufnya. Berhasil!

Setelah mampu membaca dan menuliskan namanya sendiri—meskipun masih gagap untuk mengeja—Si Bungsu mulai fasih “membaca” beberapa simbol petunjuk dan logo macam  “ATM BCA”, “McDonald’s”, “KFC”, dan banyak lagi. Jika logo itu berbentuk kata memang agak sulit membacanya.

(more…)

Drama Lain dari Sebuah Kompetisi

16 Comments »

April 14th, 2010 Posted 11:43 am

Jakarta Junior Robotics Competition 2010
Robotics Education Center (REC)

Setelah latihan keras selama dua bulan dan super intensif selama dua minggu, akhirnya tiba juga waktunya. Ajang kompetisi terbesar yang pernah diikuti Si Sulung dan Si Bungsu, apalagi cakupannya nasional (ada peserta dari Pekanbaru juga lho!). Sejak anak-anak menjadi outschooler (terdaftar di sekolah konvensional tapi mengikuti program homeschooling), ajang ini menjadi sangat penting. Ini akan masuk ke “rapor” berbentuk jurnal mereka. Deg-degan, pasrah, gugup, panik, semua jadi satu.

Gavryel Griffin Denel dengan nomor peserta 67 terdaftar dalam kategori Mozaic 1D (usia 4-5 tahun) bersaing dengan 16 peserta.

Mikayla Karissa Denel dengan nomor peserta 120 terdaftar dalam kategori Mozaic 3D (usia 6-7 tahun) bersaing dengan 23 peserta.

Ada lagi kategori juara favorit berdasarkan polling SMS yang dikirimkan dengan hadiah ponsel.

(more…)

Doa Ulang Tahun Buat Ayah

20 Comments »

November 10th, 2009 Posted 12:25 am

Mungkin dia bukan Suami yang baik
Dia tidak romantis dan tidak pernah merayu
Dia lebih penuh perhatian pada urusan kantor
Dia bisa menunda kepentingan keluarga di atas kepentingan kantor

Mungkin dia bukan Ayah yang baik
Dia tidak peka dan tidak penuh perhatian
Dia bukan sosok panutan yang baik
Dia lebih suka lembur daripada libur

Diam-diam, kami selalu berdoa
Agar Ayah bisa jadi sahabat kami
Yang lucu dan konyol
Tempat bercerita dan belajar

Tuhan,
Kembalikan Ayah yang dulu agar bisa jadi sahabat kami
Amin.

Selamat Ulang Tahun, Ayah!
Peluk-cium dari Ibu, Yla dan Vyel

10.11.09 | 12.01am

Hadiah Jujur dari Anak-anak

11 Comments »

November 2nd, 2009 Posted 9:15 am

Kartu-kartu ini diberikan pada kami kemarin pagi setelah sarapan.

“Ayah sama Ibu merem dulu!” Begitu teriak Si Sulung dan Si Bungsu sambil kembali ke meja makan.
“Sekarang buka matanya. Surprise!!” Keduanya mengacungkan gambarnya masing-masing.
Happy anniversary, Ibu!” kata mereka sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipiku.
Happy anniversary, Ayah!” kata mereka juga sambil mendekap erat dan mendaratkan ciuman di pipi Si Ayah.

(more…)

Mental Pendidikan Plagiat

2 Comments »

August 6th, 2009 Posted 7:54 pm

Karena sudah Surat Permohonan Maaf yang layak dimuat di http://lensadarbi.blogspot.com/2009/08/surat-untuk-ibu-g-lini-hanafiah_15.html, maka atrikel ini saya edit.

Siang tadi, iseng-iseng aku buka www.copyscape.com. Sebuah layanan situs yang bisa mendeteksi apakah blog kita dikopi orang. Biasanya, hasil yang keluar ya dari blogku juga atau dari www.yuknulis.com, blog yang aku bangun untuk mewadahi teman-teman penulis pemula. Begitu keluar hasilnya dari blog lain, aku pikir memang “dipinjam”, karena aku sering mengalami begitu. Isi di-copy paste. Utuh, tidak kurang tidak lebih. Biasanya, setelah aku beri komentar, mereka minta ijin baik-baik. Lagipula, mereka tidak membubuhkan nama mereka seolah-olah itu adalah karya mereka.

Tapi ini berbeda. Judul aslinya “Aku Tidak Bodoh, Ma” diganti dengan “Hari Anak Nasional 2009″, gambar Si Sulung dan Si Bungsu diganti dengan clipart seorang gadis kecil berjilbab, lalu diberi nama penulisnya “Adie Adrie“. Seketika kepalaku terasa panas, badan gemetar menahan emosi. Kenapa begini?

(more…)