Xie Xie, Jiao Lian!
Setelah Si Sulung dan Si Bungsu berhenti dari tempat les robotikanya awal tahun 2011 ini, kami mencoba kegiatan lain yang tidak kalah seru: wushu!
Seorang kawan menyarankan, “Untuk anak macam Yla dan Vyel yang gak bisa diam, terutama Yla yang agak sulit mengatasi emosinya, perlu olah raga yang seimbang kanan dan kiri. Misalnya wushu, renang, sepeda, hiking.” Si Sulung sejak keluar dari sekolah formal, perlu pemulihan luka batin atas yang dialaminya di sekolah dulu.
Aku membuka Google, mencari di mana tempat wushu yang terdekat dari rumah. Sasana Rajawali Sakti di Kelapa Gading. Lumayan juga harus menempuh jarak 8 km dua kali seminggu, tapi tak ada salahnya untuk dicoba.
Hari pertama Si Sulung resmi menjadi murid wushu, dia begitu semangat campur gugup. Wushu bukan olah raga mudah. Kombinasi gerakan tangan-kaki dan kanan-kiri cukup menguras konsentrasi. Si Sulung sangat fokus, belum pernah aku melihatnya begitu fokus, bahkan selama mengajarnya robotika di tempat les maupun di rumah.
Bulan pertama berlalu. Si Sulung tetap semangat berlatih. Suatu hari, dia bilang, “Bu, kok aku belum dapat seragam?” Aku hanya bisa menjawab, “Sabar ya, Nak. Yang penting bukan seragamnya, tapi kamu tanpa seragam juga bisa lebih baik dari teman-teman yang sudah lama jadi murid di situ.”
Perkataanku menjadi pemicu semangat yang kuat. Si Sulung makin rajin dan fokus. Meski sudah berseragam dengan sabuk kuning, semangatnya tidak luntur.
Berbulan-bulan lewat. Si Sulung tidak pernah mau bolos latihan. Mungkin juga jadi salah satu dari sedikit murid yang tak pernah absen. Kemampuannya mulai terlihat. Lebih penting lagi, dia mulai percaya diri. Cita-citanya pun mulai berubah: menjadi atlet wushu sekaligus pelukis.
Si Bungsu awalnya dijanjikan untuk ikut belajar wushu setelah Si Sulung ujian naik tingkat. Di luar dugaan, karena Si Sulung begitu lentur tubuhnya, pada bagian tertentu di tiap latihan justru bergabung dengan murid sabuk oranye (satu tingkat di atasnya). Dua bulan lalu, Si Bungsu juga resmi menjadi murid sasana Rajawali Sakti.
Setiap hari mereka latihan di rumah. Si Sulung mengajari Si Bungsu agar lebih cepat menguasai jurus di sabuk kuning: Dasar A, Dasar Toya, Dasar Toya Pertarungan.
Akhirnya, kami mendapat jawaban. Selama 3,5 tahun sekolah formal dulu (sejak KBB sampai 1 SD), Si Sulung nyaris tidak pernah dianggap mampu oleh guru-gurunya. Itu membuatnya minder dan canggung. Lama kelamaan emosinya pun terganggu.
Selama menjadi murid wushu, Si Sulung belum pernah mendapat cap jelek. Memang ada satu-dua anak yang kerap dihukum karena sering main-main sendiri.
“Mampu” itu kata kuncinya. Bukan dari mulut kami orangtuanya yang beribu kali mengucapkan sampai berbusa, tapi dari para pelatih yang dipanggil jiao lian. Mengingatkanku pada kisah Totto-Chan dan Kepala Sekolah Tomoe Gakuen, Sosaku Kobayashi. Mr. Kobayashi kerap mengatakan pada Totto-Chan bahwa ia anak yang baik. Maka, Totto-Chan pun meyakini itu. Berbeda ketika Totto-Chan berada di sekolahnya yang lama, yang menganggapnya anak nakal.
Begitu pun pada Si Sulung. Luka batinnya selama 3,5 tahun dianggap kurang (atau tidak?) mampu pulih sudah. Tak peduli kala itu ia mengikuti kompetisi robotika, atau kemahirannya yang lain, tetap saja kurang. Sebuah bentuk bullying dari institusi bernama sekolah terhadap seorang anak berusia 6 tahun.
Beberapa hari lalu, seorang sahabat berkomentar, “Sekarang lebih terlihat percaya diri ya.” Belum lama ini kami memang bertemu, si sahabat mengamati perubahan yang nyata pada anak-anak.
Wushu, hanya satu bentuk “terapi” yang kami pilih dan jalani. Tidak sedikit pun terlintas di benak kami untuk mencetak anak-anak menjadi atlet di awal dulu. Mereka nyaman, senang, lalu menjadi serius menekuni.
Anak-anak memang tidak sekolah, tapi bukan berarti tidak belajar apa-apa. Kami membuat proyek video stop motion dan lapbook. Kami nonton Sea Games. Kami belajar banyak!
Xie xie, Jiao Lian!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Homeschooling, Pendidikan, Si Bungsu, Si Sulung, Wushu
This entry was posted on Saturday, November 26th, 2011 at 8:55 am and is filed under Xie Xie Jiao Lian!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.






